Berita

Simulasi
Investasi

Back To Basic : Alokasi Aset, Diversifikasi, dan Rebalancing

Back To Basic : Alokasi Aset, Diversifikasi, dan Rebalancing

Alokasi Aset

Setiap investor yang sudah berpengalaman pasti akan setuju bahwa tujuan sebuah investasi memerlukan proses dan tidak akan mudah tercapai begitu saja. Seperti halnya membangun sebuah bisnis agar tumbuh, membangun investasi yang sukses memerlukan waktu, kesabaran, disiplin dan kombinasi aset investasi yang optimal.

Investor pun perlu memahami bahwa sebuah investasi tidak akan lepas dari dua sisi yang saling melekat: imbal hasil (return) dan risiko (risk). Semakin tinggi potensi return, maka semakin besar pula risk yang mungkin dihadapi. Demikian pula sebaliknya.

Risiko bukanlah sesuatu yang harus dihindari. Justru, risiko adalah komponen yang harus dikelola sesuai dengan profil atau karakter investor tersebut. Dengan kata lain, seorang investor harus mengambil tingkat risiko yang sesuai dengan profil risiko yang dimiliknya.

Setiap pilihan aset investasi akan membawa karakter imbal hasil dan risiko yang berbeda-beda. Contoh: deposito berjangka memiliki tingkat risiko yang rendah, namun juga memberikan tingkat imbal hasil atau bunga yang rendah pula. Sebaliknya, sebuah saham mungkin membawa risiko fluktuasi harga, namun juga menyimpan potensi keuntungan tinggi dalam jangka panjang. Faktor likuiditas juga sering menjadi pertimbangan dalam seleksi sebuah aset.

Pemilihan jenis aset investasi yang akan diinvestasikan perlu diselaraskan dengan kondisi atau karakter investor tersebut. Misalnya, seseorang yang selalu kuatir dengan risiko mungkin lebih cocok untuk lebih banyak berinvestasi di deposito atau instrumen pasar uang. Sebaliknya seorang investor yang agresif mungkin akan lebih banyak berinvestasi di aset saham.

Profil atau karakter risiko seorang investor dapat dilihat dari beberapa faktor, misalnya:

- Usia si investor saat itu.
- Sikap atau pandangan investor terhadap risiko; berapa besar potensi kerugian yang sanggup ia terima.
- Jangka waktu investasi yang dimiliki.
- Kondisi keuangan saat itu, misalnya berapa anggota keluarga yang menjadi tanggungannya. Atau berapa besar hutang atau kewajiban yang masih akan dilunasi.

Sebuah institusi keuangan atau bank akan dapat mendokumentasikan profil risiko nasabahnya melalui serangkaian kuesioner. Hasil dari kuesioner tersebut akan menjadi dasar bagi penasehat keuangan untuk merekomendasikan jenis portofolio investasi yang cocok nantinya.

Secara umum, profil risiko investor dapat dikelompokkan menjadi:

- Konservatif
- Moderat
- Agresif
- Sangat Agresif

Profil risiko seorang investor dapat pula berubah karena beberapa faktor, misalnya: pertambahan usia, perubahan tanggung jawab dalam keluarga, perubahan kondisi keuangan, perubahan kondisi kesehatan, dan sebagainya.

Diversifikasi

Setelah memahami profil risiko dalam diri investor dan aset-aset investasi yang ada, langkah selanjutnya adalah pembentukan portofolio investasi. Portofolio adalah kumpulan dari berbagai jenis aset investasi yang berbeda. Penyusunan portofolio dengan aset-aset yang berbeda ini bertujuan agar apabila ada nilai satu aset sedang turun pada periode tersebut, diharapkan nilai aset yang lain sedang naik sehingga dapat menutupi penurunan nilai aset lainnya. Langkah strategi ini disebut “diversifikasi”. Ibarat pepatah “jangan menaruh semua telur dalam satu keranjang”, hal ini berlaku pula dalam menyusun aset investasi. Investor sebaiknya jangan menaruh semua dana yang dimiliki dalam satu jenis aset investasi saja.

Tujuan diversifikasi adalah menyebarkan risiko. Mungkin ada satu jenis aset yang berisiko, namun risiko tersebut akan diimbangi oleh risiko aset lain yang lebih rendah sehingga risiko portofolio secara keseluruhan menjadi lebih seimbang. Tentu saja, hukum “High Risk, High Return” masih tetap berlaku.

Penyusunan portofolio ini sangat tergantung pada profil risiko investor bersangkutan. Semakin agresif profil risiko investor, biasanya semakin besar pula porsi dana yang diinvestasikan dalam aset berisiko. Demikian pula sebaliknya.

Contoh portofolio investasi sesuai dengan profil risiko dapat dilihat seperti dibawah:

reksadana danareksa artikel alokasi aset diversifikasi rebalancing 1

reksadana danareksa artikel alokasi aset diversifikasi rebalancing 2

Rebalancing

Ketika kita berbicara aset alokasi, maka kita tidak bisa lepas dari “rebalancing”. Rebalancing adalah proses mengembalikan kembali alokasi bobot dari masing-masing aset di dalam sebuah portofolio agar kembali “balance” seperti semula.

Misalnya, seorang investor moderat menginvestasikan saham dan obligasinya dengan porsi masing-masing 50:50 di awal tahun. Sejalan dengan waktu karena pasar saham bullish, di akhir tahun mungkin alokasinya sudah bergeser menjadi 70:30 antara saham dan obligasi. Dengan rebalancing, investor tersebut menjual sebagian sahamnya dan membelikan lagi obligasi sehingga bobot antara saham dan obligasi kembali menjadi 50:50 untuk tahun kalender berikutnya.

Tujuan daripada rebalancing adalah untuk menjaga agar alokasi aset di dalam portofolio tetap sesuai dengan profil risiko dari investornya. Dari ilustrasi di atas, apabila porsi aset antara saham dan obligasi dari semula 50:50 menjadi 70:30, berarti telah terjadi pergeseran profil portofolio dari moderat menjadi agresif. Tentu saja kondisi terakhir ini sudah tidak cocok dengan karakter risiko investornya sehingga alokasi asetnya perlu dikembalikan lagi seperti semula.

Seberapa sering rebalancing sebaiknya dilakukan? Tidak ada jawaban yang pasti. Jika terlalu sering, maka menjadi seperti market timing. Jika terlalu jarang, maka bisa kehilangan momentum juga. Secara umum, para ahli investasi merekomendasikan rebalancing dilakukan tiap enam bulan atau satu tahun sekali sesuai dengan siklus tahun kalender.

Akhir kata, alokasi aset, diversifikasi, dan rebalancing menjadi komponen yang saling terkait untuk kesuksesan sebuah portofolio investasi. Sesuai dengan teori investasi yang ada saat ini, ketiga kunci di atas menjadi bagian penting dari kegiatan pengelolaan portofolio investasi yang tak terpisahkan untuk jangka panjang.

Reksa Dana… Ya Danareksa

DISCLAIMER :
INVESTASI MELALUI REKSA DANA MENGANDUNG RISIKO. CALON PEMODAL WAJIB MEMBACA DAN MEMAHAMI PROSPEKTUS SEBELUM MEMUTUSKAN UNTUK BERINVESTASI MELALUI REKSA DANA. KINERJA MASA LALU TIDAK MENCERMINKAN MASA DATANG.  

19 April 2016
Simulasi
Investasi
DISCLAIMER COPYRIGHT 2012 Danareksa All Rights RESERVED|
PT Danareksa Investment Management terdaftar dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Republik Indonesia | DISCLAIMER