Berita

Simulasi
Investasi

Back To Basic: Long-Term Investing

Back To Basic: Long-Term Investing

Hingga hari ini, masih banyak teman-teman investor yang bertanya, mengapa jika berinvestasi, terutama saham, sebaiknya berinvestasi jangka panjang? Bukankah jika sudah dapat untung, sebaiknya segera direalisasi?

Tidak salah juga pendapat di atas. Ketika sudah profit, memang menjadi hak investor untuk segera menikmatinya. Namun alangkah baiknya jika investasi direncanakan lebih awal sehingga memberikan waktu bagi investasi tersebut untuk berproses lebih matang di dalam menghasilkan profit.

Memang tidak semua jenis aset dirancang untuk investasi jangka panjang. Untuk jenis deposito atau instrumen pasar uang, jenis aset ini lebih diutamakan untuk tujuan likuiditas sehingga otomatis lebih cocok dalam jangka pendek. Untuk aset obligasi, bisa menjadi sumber income melalui pembagian kupon dengan umur yang bervariasi, mulai dari jangka menengah (3 tahun) hingga panjang (30 tahun).

Untuk jenis aset saham (equity), investor sebaiknya berinvestasi untuk jangka waktu panjang (lebih dari 5 tahun). Pergerakan saham biasanya berfluktuasi naik dan turun dan tidak ada yang dapat memprediksi kapan harga saham akan naik atau turun pada saat itu. Apabila jangka waktu investasi terlallu pendek, maka dampak fluktuasi masih akan terasa. Namun apabila waktu jangka waktu ditarik lebih panjang, maka fluktuasi ini akan tersebar di rentang waktu yang panjang sehingga dampak penurunannya akan diminimalisir sejalan dengan waktu. Dengan kata lain, jangka waktu yang lama akan memberikan kesempatan kepada investasi saham Anda untuk pulih (recovery) dan bangkit kembali dari kejatuhan harga.

Pergerakan saham-saham di dalam suatu bursa biasanya diwakili oleh sebuah indeks saham. Indeks saham adalah kumpulan seluruh saham yang terdaftar di bursa saham bersangkutan. Karena harga-harga saham bergerak naik dan turun, maka indeks saham juga bergerak naik dan turun. Apabila mayoritas harga saham-saham naik saat itu, maka indeks saham yang mewakilinya juga akan bergerak naik. Demikian juga sebaliknya. Dengan kata lain, angka indeks saham dapat menjadi semacam indikator yang menunjukkan kondisi pasar saham sedang naik atau turun.

Di Indonesia ada beberapa indeks saham yang dapat digunakan, antara lain LQ-45, Kompas-100, Jakarta Islamic Index (JII), dan lain-lain. Namun indeks yang paling populer dan dianggap sebagai barometer pasar saham yang paling representatif dari seluruh saham yang diperdagangkan di Bursa Efek Indonesia (BEI) adalah Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). IHSG diluncurkan pertama kali di tahun 1982 dengan nilai dasar 100 dan berisi hanya 13 saham. Di penghujung akhir tahun 2014, IHSG telah meroket dengan nilai di atas 5.000 dan mewakili lebih dari 500 saham.

Semenjak peluncurannya di tahun 1982, IHSG telah mengalami fluktuasi naik dan turun sesuai siklus ekonomi. Karena dampak sentimen negatif akibat krisis ekonomi Amerika Serikat, IHSG turun tajam dari 2.745 (akhir 2007) ke 1.355 (akhir 2008) atau terjun bebas hingga -50% lebih. Namun di akhir tahun berikutnya 2009, IHSG melejit ke 2.534 atau meroket hampir 87%.

Tabel dibawah menunjukkan perbandingan return yang dihasilkan oleh deposito, IHSG, dengan kenaikan harga (inflasi) mulai akhir 2004 – 2014.

back to basic 2

Dari informasi tabel di atas, dapat disimpulkan bahwa dalam jangka waktu lama, harga saham berpotensi untuk terapresiasi tak terbatas. Kejatuhan nilai saham di satu periode akan tertutup oleh kenaikan nilai saham yang sama di periode lain. Dalam 10 tahun terakhir (2004-2014), IHSG telah memberikan return rata-rata lebih dari 20% per tahun; sebuah return yang tidak mungkin tertandingi oleh deposito bank manapun.

Akhir kata, pilihan aset investasi memang menjadi pilihan pribadi investor. Terlepas dari risiko fluktuasi yang dikandung oleh saham, potensi keuntungannya jelas sepadan untuk menjadikan saham (equity) sebagai aset pilihan utama investasi jangka panjang.

REKSA DANA… YA DANAREKSA

DISCLAIMER :
INVESTASI MELALUI REKSA DANA MENGANDUNG RISIKO. CALON PEMODAL WAJIB MEMBACA DAN MEMAHAMI PROSPEKTUS SEBELUM MEMUTUSKAN UNTUK BERINVESTASI MELALUI REKSA DANA. KINERJA MASA LALU TIDAK MENCERMINKAN MASA DATANG.

27 Maret 2015
Simulasi
Investasi
DISCLAIMER COPYRIGHT 2012 Danareksa All Rights RESERVED|
PT Danareksa Investment Management terdaftar dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Republik Indonesia | DISCLAIMER