Berita

Simulasi
Investasi

BREXIT : What’s Next?

BREXIT : What’s Next?

Akhir-akhir ini pasar sedang ramai membicarakan tentang Brexit. Apakah itu “Brexit”? Brexit adalah gabungan dari kata “Britain” dan “exit”. Usulan Brexit merupakan bentuk referendum atau pemungutan suara rakyat dari seluruh warga negara Britania Raya (termasuk Inggris, Irlandia Utara, Skotlandia, dan Wales) untuk memutuskan apakah negara Inggris akan tetap bergabung dengan Uni Eropa atau keluar.

Baca juga:

Isu Brexit ini sesungguhnya sudah bergulir sejak tahun lalu. Pada tahun 2015, Perdana Menteri David Cameron berjanji jika dia terpilih dalam pemilu, maka ia akan menyelenggarakan referendum terkait apakah Inggris akan keluar atau tetap dalam Uni Eropa. 

Mengapa Ide Brexit Timbul?

Awalnya, Inggris bergabung dengan Uni Eropa (European Union – EU) yang dibentuk 1 November 1993 berdasarkan perjanjian Maastricht. Jumlah anggota EU sendiri saat ini adalah 28 negara Eropa.

Ide dibentuknya EU bertujuan untuk menciptakan pasar bebas bagi perdagangan negara-negara Eropa sehingga terjadi dinamika perdagangan yang membawa manfaat bagi seluruh anggotanya. Secara umum, manfaat besar dari keanggotaan EU adalah perdagangan bebas tarif serta mobilitas bebas bagi tenaga kerja dari negara-negara anggota sesuai peraturan yang disepakati bersama.

Perlu dicatat bahwa setiap negara EU wajib membayar kontribusi “membership fee” tahunan yang besarnya disesuaikan kekuatan ekonomi negara bersangkutan. “Membership fee” ini akan dicatat menjadi anggaran belanja dari blok EU sendiri. Dari fee yang dikumpulkan, nantinya akan disumbangkan kembali ke negara-negara anggota yang membutuhkannya dalam bentuk bantuan finansial lainnya, misalnya beasiswa pendidikan, dana penelitian, dll.

Inggris merupakan negara kontributor kedua terbesar setelah Jerman. Tahun lalu, Inggris menyumbangkan “membership fee” sebesar GBP 18 milyar. Dengan diterimanya kembali berbagai hibah dari EU, maka “membership fee” yang dibayar Inggris secara net hanya GBP 15 milyar.

Sejalan dengan waktu, sebagian rakyat Inggris mulai menyuarakan keprihatinan dengan beranggapan bahwa keanggotaan Inggris sebagai bagian dari blok EU malah lebih banyak membawa kerugian dibandingkan manfaatnya. Dengan keluar dari EU, maka Inggris tidak perlu lagi membayar fee yang sedemikian mahal. Peraturan-peraturan dalam EU juga dianggap mengikat kebebasan Inggris untuk menentukan kebijakan sendiri. Selain itu, keputusan EU untuk membuka pintu bagi pengungsi negara-negara konflik maka berarti Inggris juga ikut kebanjiran pengungsi masuk ke dalam negara mereka.

Dampak Brexit Bagi Inggris dan EU.

Ada banyak ketidakpastian yang akan terjadi jika Inggris keluar dari EU. Yang pasti, ketika Inggris keluar dari EU, maka perdagangan antara Inggris dengan EU besar kemungkinan akan dikenakan tarif sehingga menjadi lebih mahal. Hal ini diperkirakan dapat berdampak bagi sektor perdagangan Inggris ke depannya. Namun hal ini tentunya dapat diantisipasi dengan negosiasi perdagangan bilateral.

Prinsip mobilitas warga EU yang mencari pekerjaan di Inggris juga akan terhambat. Perlu dicatat bahwa apabila mobilitas warga terhenti, akan banyak perusahaan di Inggris yang kesulitan mencari tenaga kerja, tidak hanya tenaga kerja dengan keahlian khusus, namun juga di sektor pekerjaan dengan level menengah ke bawah (pelayan toko, kasir, dll.).

Apabila memang perkiraan dampak di atas terjadi, sedikit banyak berarti akan terjadi pelemahan ekonomi Inggris sehingga impor menjadi lebih mahal. Secara teoritis, hal ini akan berdampak pada mata uang GBP Poundsterling, yang akhirnya dikhawatirkan akan mendorong Bank of England untuk menaikkan suku bunga sehingga menghambat ekonomi Inggris secara keseluruhan.

Dampak Brexit Bagi Indonesia.

Pengaruh Brexit sendiri di Indonesia diperkirakan akan limited. Sentimen pasar modal mungkin terjadi secara terbatas. Dampak lain mungkin keputusan penanaman modal dari Inggris ke Indonesia, dimana perusahaan-perusahaan di Inggris mungkin akan menghitung ulang kembali pengeluaran modal (capital expenditure) mereka ke depan. Namun itu pun mungkin hanya sementara saja.

Mengutip catatan di Kementerian Perdagangan, Inggris hanya berada di urutan keempat bagi Indonesia dalam hal besaran nilai perdagangan dengan EU. Sehingga bila pun ada dampak, maka itu hanya akan berpengaruh sedikit pada pola perdagangan dan investasi dengan EU dan Inggris. Neraca perdagangan antara Indonesia - Inggris sampai Mei 2016 masih mengalami surplus sebesar USD 159,74 juta, dengan nilai ekspor Indonesia ke Inggris tercatat USD 364,63 juta dan impor sebesar USD 204,89 juta.

Bank Indonesia memberikan tiga keyakinan utama yang membuat Indonesia tidak akan banyak terdampak banyak oleh Brexit. Pertama, Indonesia memiliki pengalaman dalam menghadapi krisis ekonomi global. Hal ini menjadi modal utama bagi Indonesia untuk menghadapi ancaman Brexit.

Kedua, keputusan Brexit ini diyakini hanya akan berdampak bagi EU. Indonesia yang tidak bergabung dengan kerjasama perdagangan bebas bersama EU pun diyakini tidak akan terpengaruh signifikan dengan adanya Brexit ini.

Ketiga, stimulus dan pelonggaran kembali kebijakan moneter dan makroprudensial dalam negeri yang terus dilaksanakan diperkirakan akan tetap memperkuat prospek ekonomi Indonesia. Di sisi lain, Indonesia perlu meningkatkan belanja modal sebagai antisipasi adanya capital outflow apabila Inggris memang resmi keluar dari EU.

Hasil Referendum.

Sesuai dengan janji PM David Cameron, hasil referendum akhirnya diumumkan pada tanggal 24 Juni 2016 dengan hasil akhir: 52% memilih “Exit” dan 48% memilih “Stay”. Dengan demikian, Inggris menjadi negara pertama yang meninggalkan EU dan secara konstitusi memiliki waktu 2 tahun masa transisi untuk keluar secara penuh dari blok tersebut.

Perhatian:
• Publikasi ini bukan merupakan suatu bentuk tawaran untuk menjual atau membeli efek atau derivatifnya yang termuat dalam publikasi ini. Isi dari publikasi ini bukan merupakan nasehat investasi kepada pihak manapun. Rekomendasi yang termuat dalam publikasi ini belum tentu sesuai untuk setiap calon investor. Meskipun seluruh  informasi yang termuat dalam publikasi ini diperoleh dari sumber yang kami percaya, namun kami tidak menjamin keakuratan dan kelengkapannya. Pendapat dan rekomendasi yang termuat dalam publikasi ini berlaku terbatas pada tanggal pembuatan dan setiap saat dapat berubah dan diubah oleh PT Danareksa Investment Management (“DIM”) tanpa pemberitahuan sebelumya. DIM tidak berkewajiban memperbaharui atau menambahi informasi yang termuat dalam publikasi ini. Publikasi ini ditujukan sebagai informasi dan tidak bertujuan untuk membentuk suatu dasar keputusan investasi. Investor harus menetapkan sendiri setiap keputusan sesuai dengan kebutuhan dan strategi investasi dengan mempertimbangkan masalah hukum, pajak dan akuntasi. DIM maupun setiap karyawan dan afiliasinya tidak bertanggung jawab terhadap setiap keputusan investasi yang diambil oleh investor.
• Hak milik atas bentuk dan isi presentasi ini sepenuhnya dilindungi oleh peraturan perundangan yang berlaku di Indonesia khususnya tentang hak cipta bagi kemanfaatan DIM. Tidak diperkenankan seorangpun melakukan fotokopi, menyalin, mereproduksi baik secara manual maupun elektronik atau dengan cara apapun sebagian atau seluruhnya yang dapat berakibat dokumen ini digandakan dan digunakan baik untuk tujuan ekonomis atau tujuan lainnya tanpa ada persetujuan terlebih dahulu dari DIM. Investasi melalui Reksa Dana mengandung risiko. Calon Pemodal wajib membaca dan memahami Prospektus sebelum memutuskan untuk berinvestasi melalui Reksa Dana.  Kinerja masa lalu tidak mencerminkan kinerja masa datang. Reksa Dana adalah produk pasar  modal dan BUKAN merupakan produk perbankan; BUKAN  merupakan bagian dari simpanan pihak ketiga yang terikat pada jangka waktu tertentu serta TIDAK termasuk objek dalam program penjaminan pemerintah.

 

27 Juni 2016
Simulasi
Investasi
DISCLAIMER COPYRIGHT 2012 Danareksa All Rights RESERVED|
PT Danareksa Investment Management terdaftar dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Republik Indonesia | DISCLAIMER