Berita

Simulasi
Investasi

Catatan Tengah Tahun 2018 - The Year of Living Almost Dangerously

Catatan Tengah Tahun 2018 - The Year of Living Almost Dangerously

Setelah mengarungi paruh pertama tahun 2018 kini di tengah gegap gempitanya perhelatan akbar Piala Dunia di Rusia pasar keuangan global masih terus mengalami turbulensi. Gonjang ganjing yang terjadi sejak awal tahun 2018 itu berawal dari normalisasi kebijakan moneter Amerika Serikat. Namun kekhawatiran investor global akibat peningkatan suku bunga acuan The Fed semakin memburuk setelah Presiden Trump mengeluarkan jurus-jurus mengejutkan demi mengubah keseimbangan perdagangan antara AS dengan negara-negara mitra-nya.

Perang tarif antara Amerika Serikat dengan Cina pun tidak terhindarkan setelah AS memberlakukan bea masuk sebesar 25% terhadap 34 milliar Dollar AS nilai impor dari Cina pada 6 Juli lalu. Aksi tersebut langsung disambut Cina dengan tarif balasan terhadap produk kacang kedelai, daging dan kendaraan dari AS. Akibatnya pasar global pun kembali dihantui tekanan jual atas asset-aset finansial berisiko tanpa pandang bulu. Pasalnya perang dagang berpotensi memangkas tingkat pertumbuhan ekonomi global selain berdampak secara langsung pada keuntungan korporasi, utamanya para eksportir.

The Fragile Five

Indonesia sebagai salah satu negara yang dijuluki The Fragile Five kembali mengalami kenyataan pahit akibat tekanan jual baik pada mata uang, pasar saham, maupun pasar finansial berpendapatan tetap. Year-to-date Rupiah telah terdepresiasi 5.32% terhadap Dollar AS, IHSG mengalami pelemahan sebesar 8.5% dan imbal hasil 10 Tahun SUN Indonesia naik dari 6.3% menjadi 7.5%. Credit Default Swap (CDS) 5 tahun Indonesia tidak luput dari tekanan dan mengalami peningkatan drastis dari 85 bps menjadi 125 bps. Nasib yang tidak terlalu berbeda juga dialami negara anggota Fragile Five lain seperti Turki, Brazil, India dan Afrika Selatan.

The Fragile Five adalah istilah yang diperkenalkan oleh lembaga keuangan global Morgan Stanley pada 2013 untuk menggambarkan negara-negara berkembang yang sangat tergantung pada aliran dana asing untuk membiayai pertumbuhannya. Seiring dengan repatriasi dana asing saat terjadi Taper Tantrum tahun 2013 The Fragile Five mengalami tekanan pada nilai tukar serta pada harga asset finansialnya. Akibatnya mereka kesulitan untuk membiayai defisit neraca berjalan (Current Account Deficit) yang pada gilirannya memperlambat pertumbuhan ekonomi negara-negara tersebut.

Setelah mengalami pukulan yang cukup telak akibat minggatnya dana asing ketika Taper Tantrum 2013 yang berlanjut pada 2015 saat Cina melakukan devaluasi Yuan, kini Indonesia kembali menghadapi tantangan serupa. Akankah badai ini segera berlalu seperti episode 2013 dan 2015 ataukah keadaannya berbeda sekarang?

Risiko Resesi Ekonomi Amerika Serikat

Bila pertumbuhan ekonomi Amerika Serikat yang dimulai pada Juni 2009 terus berlanjut hingga musim panas 2019, Amerika Serikat akan mencatat pertumbuhan terpanjang dalam sejarahnya. Perekonomian AS saat ini sedang menikmati tingkat pertumbuhan ekonomi yang tinggi, tingkat pengangguran terendah dalam 17 tahun dan keuntungan korporasi yang kuat.

Menurut National Bureau of Economic Research (NBER), ada empat periode ekspansi terlama sepanjang sejarah Amerika Serikat:

  1. Dari Maret 1991 hingga puncaknya di bulan Maret 2001, selama 120 bulan.
  2. Dari Juni 2009 hingga saat ini, Juni 2018, selama 108 bulan dan masih berlangsung.
  3. Dari Februari 1961 hingga puncaknya di bulan Desember 1969, selama 106 bulan.
  4. Dari November 1982 hingga puncaknya di bulan Juli 1990, selama 92 bulan.

Ada sebuah mantra di pasar modal yang berbunyi: “Bull markets do not die of old age. They are ended by recessions”. Meyakini mantra tersebut, pelaku pasar saat ini terus melakukan kalkulasi dan pengamatan mengenai kapan ekspansi ekonomi AS akan berakhir menjadi resesi atau kemungkinan resesi justru akan dipicu oleh peningkatan suku bunga yang berlebihan oleh The Fed. Resesi ekonomi Amerika Serikat atau bahkan resesi global kemungkinan dapat pula disebabkan oleh Perang Dagang yang dimulai oleh Presiden Trump.

Dalam suatu survei yang diterbitkan oleh J.P. Morgan Private Bank di bulan April lalu, 75% dari 700 orang super kaya di dunia memprediksi bahwa resesi di Amerika Serikat akan terjadi dalam dua tahun ke depan. Sebanyak 21% responden meyakini resesi akan dimulai pada 2019 dan 50% berkeyakinan bahwa resesi akan dimulai pada 2020.

Kenaikan suku bunga acuan The Fed sejauh ini sejatinya adalah langkah otoritas keuangan Amerika Serikat untuk mengantisipasi kemungkinan memanasnya perekonomian AS akibat pertumbuhan ekonomi yang lama dan kuat tersebut. Bahkan tidak tertutup kemungkinan bahwa langkah The Fed menaikkan suku bunga saat ini sebagai persiapan agar apabila resesi terjadi The Fed punya amunisi yang cukup berupa suku bunga acuan yang dapat dilonggarkan.

Bila resesi AS datang lebih cepat dari yang diperkirakan, maka tidak ada alasan lagi bagi The Fed untuk terus mengerek suku bunga acuan. Justru sebaliknya, suku bunga akan diturunkan untuk mengatasi kondisi tersebut. Di sisi lain resesi ekonomi AS tentunya akan menghambat pertumbuhan ekonomi global mengingat Amerika Serikat hingga saat ini masih merupakan perekonomian terbesar di dunia dan lokomotif ekonomi global.

Late-Cycle Investing

Tak seorang pun dapat memprediksi secara pasti kapan ekonomi AS dan ekonomi global akan mulai mengalami resesi namun mengingat perekonomian Amerika Serikat saat ini berada pada periode akhir siklus-nya maka pertanyaan yang lebih tepat adalah investasi apa yang paling cocok untuk dilakukan pada periode akhir tersebut.

Beberapa sektor ekonomi yang cenderung mengalami performa baik dalam siklus akhir perekonomian adalah sektor komoditas, sektor utilitas, layanan kesehatan dan consumer staple. Harga minyak mentah yang meroket pada paruh pertama 2018 adalah salah satu pertanda bahwa perekonomian AS dan dunia memang sedang berada di siklus akhir.

Kenaikan harga komoditas, terutama batu bara dan komoditas lain seperti metal, akan berdampak positif bagi perekonomian Indonesia. Nilai ekspor batubara merepresentasikan 13-14% total ekspor Indonesia atau sekitar 3% PDB Indonesia dan terdapat korelasi positif antara harga batubara dengan tingkat pertumbuhan ekonomi melalui peningkatan nilai ekspor, investasi dan belanja modal serta multiplier effect yang dihasilkan dalam bentuk peningkatan konsumsi masyarakat.

Harga Batubara berkorelasi secara positif dengan pertumbuhan ekonomi Indonesia

Tahun Politik

Di paruh kedua 2018 tampaknya faktor politik akan semakin mengemuka dan mempengaruhi persepsi pelaku pasar di Indonesia. Pasca Pilkada, isu yang paling santer saat ini adalah mengenai calon wakil presiden bagi Jokowi di tahun 2019 serta pasangan capres dan cawapres tandingan yang akan berkontestasi melawan Jokowi.

Untungnya berbagai survei politik mengerucut pada kesimpulan bahwa Jokowi masih capres paling kuat dan bahkan elektabilitasnya terus meningkat pasca Pilkada lalu, walaupun masih berada di bawah angka 50%. Jumlah undecided voters juga menurun. Hal ini tentunya membawa angin segar bagi investor yang cenderung menyukai stabilitas dan kontinuitas program pembangunan dengan terpilihnya Presiden Jokowi untuk peridoe kedua.

Kesimpulan

Kami berkeyakinan bahwa aksi jual terutama yang dilakukan oleh investor asing sejak awal tahun 2018 telah menyebabkan harga aset finansial di Indonesia berada di level yang menarik relatif terhadap kondisi fundamental-nya. Kondisi tersebut tidak akan berlangsung lama karena smart money akan segera datang untuk memungut aset-aset berharga murah.

Bank Indonesia mungkin masih akan menaikkan suku bunga acuan hingga 75 bps sampai dengan akhir tahun 2018 dan Current Account Deficit Indonesia kuartal ke-2 kemungkinan dapat melampaui angka 2.5% akibat laju impor barang modal. Namun CAD yang meningkat justru menunjukkan bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia masih kuat, terutama ditopang oleh pertumbuhan investasi.

Kondisi terburuk sudah dekat atau bahkan mungkin sudah kita alami. Kami percaya bahwa paruh kedua 2018 akan lebih baik daripada paruh pertama ditopang oleh harga komoditas terutama batu bara dan metal yang cenderung kuat, belanja modal korporasi yang meningkat, peningkatan belanja pemerintah yang pada gilirannya akan menopang tingkat konsumsi masyarakat dan cenderung melemahnya mata uang Dollar AS terhadap mata uang utama dunia terutama EURO.

Perang tarif yang telah dimulai kemungkinan tidak akan mengalami eskalasi menjadi perang dagang yang meluas mengingat negara-negara besar seperti Amerika Serikat dan Cina sama-sama menyadari konsekuensi buruk yang diakibatkan oleh perang dagang. Lagipula besarnya tarif impor dapat memicu relokasi pabrik oleh perusahaan-perusahaan Amerika Serikat ke luar negeri seperti diwacanakan oleh Harley Davidson dan Tesla sehingga pengenaan tarif oleh Pemerintah AS menjadi kurang efektif.

Satu hal yang perlu dicermati dalam 2 - 3 tahun ke depan adalah potensi resesi di Amerika Serikat. Dimana hal ini dapat mempengaruhi penempatan aset alokasi investor pada saat terjadi.

Tetaplah Berinvestasi!

Salam,

Edwin Ridwan, CFA, FRM

Chief Investment Officer PT Danareksa Investment Management

 

 

 

 

16 Juli 2018
Simulasi
Investasi
DISCLAIMER COPYRIGHT 2012 Danareksa All Rights RESERVED | DISCLAIMER