Berita

Simulasi
Investasi

Dollar Cost Averaging (DCA): Strategi Investasi Tanpa Merasa Tidak Pasti.

Dollar Cost Averaging (DCA): Strategi Investasi Tanpa Merasa Tidak Pasti.

Harian Boston Globe, 12 Agustus 2000: “……Indeks S&P 500 sudah di paling bawah (bottom). Kita tidak akan pernah lagi melihat harga indeks semurah ini…..”. Saat itu indeks S&P 500 ditutup di level 1491. Empat tahun kemudian, 12 Agustus 2004, S&P 500 ditutup di level 1063 (jatuh 29% lebih rendah lagi).

Artikel wawancara Tempo dengan pengamat ekonomi dan sekuritas asing dalam www.tempo.co, 2 Januari 2009: “…. Indeks saham (IHSG) 2009 bisa tumbuh sekitar 10-15 persen dibanding indeks akhir 2008. …… pertumbuhannya tidak mungkin cepat, karena butuh proses….”. Siapa menyangka, IHSG akhir 2009 ternyata naik hampir 87% setelah tahun sebelumnya terjun bebas -50% lebih. Tidak ada seorang pun yang memprediksi.

Buku “Dow 36,000” yang diterbitkan bulan November 2000 dan disusun oleh anggota penasehat ekonomi mantan Presiden Bill Clinton, memprediksi bahwa Dow Jones Index akan mencapai level 36.000 dalam 1-2 tahun kemudian. Saat itu, Dow Jones di level 10.000-an. Namun akhir tahun 2002, Dow Jones ditutup di level 8.300-an. Saat ini bulan April 2015, Dow Jones masih di kisaran 18.000-an. Dan hari ini - hampir 15 tahun kemudian, buku tersebut hanya dihargai 1 cent (satu sen) saja di toko Amazon.com, lebih murah dari ongkos kirimnya.

Catching a Falling Knife

Jika para ahli ekonomi dan analis pasar saja bisa meleset, berarti investor awam pun juga bisa meleset. Sesungguhnya, tidak ada seorang pun di muka bumi yang mampu menebak atau memprediksi pergerakan pasar modal secara akurat. Hampir setiap pelaku pasar dan investor berusaha melakukannya dengan segala perangkat analisanya dan menyampaikan pendapatnya di berbagai media massa. Memang betul, ada satu atau dua yang mampu memprediksi secara tepat dalam satu kondisi tertentu, namun hal tersebut tidak dapat dilakukan secara konsisten terus-menerus. Jauh lebih banyak prediksi-prediksi semacam itu yang ternyata melenceng jauh.

Ingat selalu, tidak ada yang mampu menerka market surprise, apalagi menebak apakah pasar sudah paling top atau paling bottom. Berusaha menebak timing pasar ibarat seperti berusaha menangkap pisau yang sedang jatuh – dalam dunia investasi disebut “catching a falling knife”. Mungkin yang ditangkap adalah gagang pisaunya (market rebound) atau malah sisi tajamnya (market fall lebih dalam lagi) yang justru akan lebih menyakitkan.

Namun investor tidak perlu bingung, sebab ada rekomendasi strategi investasi yang mengeliminir analisa tebak-tebakan timing, yaitu Dollar Cost Averaging (DCA).

Mengapa Dollar Cost Averaging (DCA) Efektif?

Dollar Cost Averaging (DCA) adalah strategi berinvestasi dimana investor tetap selalu menginvestasikan dananya pada instrumen investasi dengan jumlah yang sama secara berkala, disiplin dan teratur. Investasi ini biasanya dilakukan pada tanggal yang sama setiap bulan - terlepas apakah saat itu pasar sedang naik atau turun. Ketika harga pasar sedang turun, maka investor akan memperoleh unit investasi lebih banyak. Sebaliknya ketika harga pasar sedang naik, maka berarti nilai seluruh investasinya bertambah.

Berikut adalah sebuah illustrasi: seorang investor memiliki dana Rp. 10 juta untuk diinvestasikan. Dengan strategi DCA, ia berencana menginvestasikan Rp. 2 juta pada sebuah Reksa Dana setiap akhir bulan untuk selama 5 bulan seperti contoh dibawah:

dca 1

Nilai investasi yang dikeluarkan = Rp. 10.000.000, dengan biaya rata-rata Rp. 820/unit.

Nilai investasi di bulan ke-5 = 13.000 unit x Rp. 1000 (harga/unit terakhir) = Rp. 13.000.000. Berarti ia sudah menangguk keuntungan Rp. 3.000.000 di akhir masa investasi bulan ke-5.

Apabila ia masuk sekaligus Rp. 10 juta di bulan ke-1 dan tidak melakukan investasi apa-apa lagi hingga akhir bulan ke-5, maka di akhir bulan ke-5 nilai investasinya akan tetap Rp. 10 juta.

Tapi bukankah dia bisa profit besar jika masuk Rp. 10 juta sekaligus di bulan ke-3, ketika harga sedang bottom Rp. 500 per unit? Well, bagaimana dia bisa menebak secara tepat bahwa harga per unit akan turun lagi di Rp. 500 (kecuali ia seorang ahli nujum)?

Sedikit catatan, menambah investasi (top-up) boleh saja dilakukan ketika investor merasa bahwa pasar saat ini sedang turun. Namun tidak ada yang bisa menebak persisnya sampai di angka berapa. Dan juga hati-hati dengan situasi catching a falling knife, bisa saja ternyata harga pasar masih turun lagi. Oleh karena itu, top-up pun sebaiknya dilakukan bertahap.

Sebaliknya dengan ketika pasar sedang naik, tidak ada pula yang mampu memprediksi akurat sampai dimana puncaknya, serta menebak apakah level tersebut akan turun atau masih akan naik lagi? Apabila sudah terlanjur keluar dan ternyata pasar masih naik lagi, investor justru malah akan “ketinggalan kereta”.

Singkat kata, bisa dikatakan bahwa investor mungkin masih bisa memprediksi arah tren atau kecenderungan apakah pasar akan bergerak naik atau turun ke depan. Namun untuk bisa menebak di angka berapa adalah hal yang sangat sulit bisa dilakukan secara konsisten.

Investasiku Masa Depanku (IMD)

Menyadari pentingnya strategi DCA ini, Danareksa Investment Management (DIM) telah lama menyediakan fasilitas Investasiku Masa Depanku (IMD). Bekerjasama dengan platform Autocollection dari Bank Central Asia (BCA), fasilitas ini akan secara otomatis mendebet langsung rekening tabungan investor pada BCA setiap bulannya untuk diinvestasikan pada produk Reksa Dana yang dikelola oleh DIM sesuai kebutuhan investor. Dengan manfaat IMD, investor tidak perlu lagi menerka timing kapan saatnya masuk berinvestasi. IMD akan melakukan proses investasi secara otomatis untuk kepentingan investor.

Secara singkat DIM merekomendasikan strategi DCA ini kepada para investor karena:

1. Investor tidak perlu lupa atau repot dengan faktor “timing”. Investor secara psikologis tidak perlu menebak-nebak apakah market sudah di posisi top atau bottom.

2. Nominal investasi relatif lebih terjangkau. Jumlah yang diinvestasikan setiap periode tidak perlu besar, asalkan besarnya sama dan periode investasinya tetap.

3. Fluktuasi portofolio lebih smooth. Harga rata-rata yang tercipta dari serangkaian investasi membuat pergerakan portofolio tidak terlalu fluktuatif.

4. Ketika pasar sedang turun, maka berarti investor akan memperoleh unit investasi lebih banyak. Ketika pasar sedang naik, maka berarti nilai portofolionya akan bertambah.

5. Berinvestasi secara bertahap juga akan membentuk karakter investasi untuk tujuan jangka panjang (long-term).

Melalui IMD, strategi DCA merupakan solusi win-win bagi para investor untuk berinvestasi di segala kondisi pasar.

REKSA DANA… YA DANAREKSA

DISCLAIMER :
INVESTASI MELALUI REKSA DANA MENGANDUNG RISIKO. CALON PEMODAL WAJIB MEMBACA DAN MEMAHAMI PROSPEKTUS SEBELUM MEMUTUSKAN UNTUK BERINVESTASI MELALUI REKSA DANA. KINERJA MASA LALU TIDAK MENCERMINKAN MASA DATANG.

24 April 2015
Simulasi
Investasi
DISCLAIMER COPYRIGHT 2012 Danareksa All Rights RESERVED|
PT Danareksa Investment Management terdaftar dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Republik Indonesia | DISCLAIMER