Berita

Simulasi
Investasi

Finally, Harga BBM naik. what's next??

Finally, Harga BBM naik. what's next??

Apa yang telah ditunggu-tunggu investor akhirnya telah tiba: harga Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi akhirnya menjadi Rp. 8500/liter untuk premium dan Rp. 7500/liter untuk solar, mulai berlaku tanggal 18 November 2014 pukul 00:00.

Naiknya harga BBM ini merupakan bukti komitmen oleh presiden baru terpilih Jokowi untuk mengurangi besarnya subsidi BBM yang ternyata ini toh hanya dinikmati oleh golongan menengah ke atas serta mendorong maraknya penyelundupan BBM. Naiknya harga BBM ini juga menciptakan naiknya ruang fiskal sebesar Rp. 20 triliun untuk tahun 2014 ini dan Rp. 90-100 triliun di tahun depan yang dapat dialokasikan untuk membangun sektor-sektor yang lebih penting seperti infrastruktur, kesehatan, dll.

Kenaikan harga BBM ini sepertinya sudah diantisipasi, bahkan disambut positif oleh pelaku pasar. Pada penutupan IHSG di tanggal 18 November 2014, indeks ditutup pada level 5102,47 atau naik 48,53 dibanding penutupan sehari sebelumnya. Para pelaku pasar melihat keputusan kenaikan ini sebagai langkah yang positif guna pembangunan lebih baik di jangka panjang.

Mengapa harga BBM justru dinaikkan ketika harga minyak global menurun? Alasannya adalah karena nilai tukar Rupiah yang terus melemah. Sehingga, walaupun memang harga pasaran bensin bisa menurun, namun kondisi Indonesia yang masih mengimpor bahan bakar tetap akan menjadi beban negara di tengah nilai Rupiah yang masih rentan untuk melemah lebih lanjut.

Implikasi dari kenaikan harga BBM ini tentu saja ada. Kenaikan harga BBM tentu akan turut mendorong kenaikan harga tarif angkutan dan transportasi, yang pada gilirannya tentu akan mendorong kenaikan harga barang-barang. Kenaikan harga barang tentu diterjemahkan pada kenaikan inflasi yang diperkirakan naik di kisaran 7-8% di akhir tahun 2014 ini.

Untuk mengantisipasi inflasi, Bank Indonesia (BI) melakukan keputusan pre-emptive dengan menaikkan suku bunga acuan menjadi 7,75% di tanggal 18 November 2014. Tentu saja, keputusan proaktif ini bertujuan untuk meredam kenaikan inflasi agar lebih terkendali ke depannya.

Dampak kenaikan harga BBM dan kenaikan suku bunga BI tentu akan membawa dampak. Di jangka pendek, konsumsi barang-barang sekunder dan tersier akan terkikis. Namun sektor-sektor lain akan diuntungkan akibat realokasi anggaran yang dihemat.

Hal positif lainnya adalah persepsi yang positif dari investor global yang pada akhirnya akan mendorong perbaikan rating (re-rating) atas kondisi investasi Indonesia. Jelas, pengurangan subsidi BBM akan memperbaiki struktur anggaran belanja dan pembangunan negara, yang pada akhirnya membuka peluang naiknya peringkat kredit (credit rating), terutama oleh S&P.

Stasiun televisi finansial Amerika Serikat, CNBC, bahkan memuji langkah presiden Jokowi ini dengan mengatakan bahwa dengan berkurangnya tekanan subsidi BBM menciptakan peluang Indonesia untuk keluar dari Fragile Five. Sebagai informasi, Fragile Five, sebutan yang diciptakan oleh perusahaan investasi Morgan Stanley, adalah 5 negara yang dianggap sangat rentan terhadap dampak akibat penghapusan quantitative easing oleh Amerika Serikat, yakni Brazil, Rusia, India, China, dan Indonesia.

What To Invest?

Seperti yang diutarakan di atas, sektor-sektor yang diuntungkan dari pengalihan alokasi fiskal antara lain adalah sektor infrastruktur dan kesehatan. Pembangunan infrastruktur akan semakin giat. Jembatan, jalan tol, pelabuhan, akan semakin banyak dibangun, yang pada akhirnya mendorong distribusi barang-barang lebih efisien.

Di sektor kesehatan, pemerintah berjanji untuk membangun lebih banyak puskesmas serta perbaikan kesejahteraan tenaga-tenaga medis di pelosok. Selain itu, pemerintah juga telah memenuhi komitmennya dengan pembagian Kartu Indonesia Sejahtera dan Kartu Indonesia Sehat kepada lapisan masyarakat miskin. Pemanfaatan kartu ini berarti akan menciptakan kenaikan permintaan akan obat-obatan kesehatan, yang berarti membawa dampak positif bagi industri obat-obatan dan farmasi.

Dari sini, berarti investor membutuhkan produk investasi yang mampu menangkap peluang akan pertumbuhan sektor-sektor seperti di atas. Danareksa Investment Management (DIM) merekomendasikan Danareksa Mawar Rotasi Sektor Strategis (MARSS). Kelebihan yang dimiliki MARSS adalah pengelolaan portofolio yang fleksibel yang memungkinkan manajer investasi untuk berotasi masuk ke dalam sektor-sektor bisnis yang masih defensif atau bahkan positif dalam kondisi saat ini.

Dengan kata lain, melalui MARSS, investor memiliki portofolio yang luwes untuk dapat tetap berinvestasi pada sektor-sektor yang masih berprospek positif, terlepas dalam kondisi ekonomi yang seperti apapun.

Patut selalu diingat, dampak kenaikan harga BBM mungkin membawa fluktuasi di pasar modal sesaat untuk jangka pendek. Namun dampak kenaikan harga BBM akan sangat positif di jangka panjang. Dengan demikian, ketika terjadi momentum penurunan harga, justru saat itulah investor perlu untuk masuk di saat harga sedang rendah. Paling tidak investor dapat masuk dengan cara bertahap (Dollar Cost Averaging) untuk memperoleh unit yang lebih banyak lagi di tengah-tengah fluktuasi.

 

19 Nopember 2014
Simulasi
Investasi
DISCLAIMER COPYRIGHT 2012 Danareksa All Rights RESERVED|
PT Danareksa Investment Management terdaftar dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Republik Indonesia | DISCLAIMER