Berita

Simulasi
Investasi

Global Market Oversold: Time to Rebound

Global Market Oversold: Time to Rebound

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) masih terus menguat setelah seminggu terakhir selalu berada di zona hijau atau tumbuh positif. Di tanggal 12 Oktober 2015 pagi ini, IHSG pun tembus lagi di atas level psikologis 4.600-an. Kendati demikian, sepanjang tahun 2015 ini IHSG masih minus -12% (YTD). Aksi beli masih ramai dilakukan investor karena IHSG sudah jenuh jual alias oversold pada bulan lalu. Saham-saham unggulan di berbagai sektor pun jadi incaran investor.

global oversold

Tidak hanya bursa IHSG. bursa saham regional juga naik pagi ini, seperti:

- Indeks Hang Seng (Hongkong) naik 103,89 poin (0,46%) ke level 22.458,80.
- Indeks Shanghai Composite (China) naik 39,79 poin (1,27%) ke level 3.183,15.

Sementara nilai tukar Rupiah terhadap Dolar Amerika Serikat (AS) dibuka menguat. Nilai tukar Rupiah terhadap Dolar AS berada di Rp 13.300-an, masih terus menguat dibandingkan posisi pada penutupan perdagangan akhir pekan lalu di Rp 13.400-an. Dana asing yang mulai masuk lagi ke Indonesia menjadi driver dari penguatan ini. Sepanjang tahun 2015 ini, Rupiah masih melemah sekitar 6% terhadap Dolar AS.

Penguatan IHSG dan Rupiah juga tidak lepas dari sambutan positif pengumuman paket ekonomi jilid III yang dianggap lebih berpihak pada rakyat. Salah satunya adalah diskon tarif listrik serta penurunan harga solar yang dianggap membawa angin segar bagi perindustrian. Penyederhanaan birokrasi ijin investasi juga dianggap berdampak positif bagi investor.

Informasi sektor komoditas, harga minyak dunia kembali naik pekan lalu, menembus kembali harga psikologis US$ 50 per barel setelah anjlok ke titik terendahnya Agustus lalu. Pada perdagangan akhir Jumat lalu, harga minyak sudah mencapai ke harga US$ 50,50. Padahal sebelumnya banyak analis yang memprediksi harga minyak bisa jatuh hingga US$ 20.

Jadi sebenarnya apa yang terjadi sehingga situasinya tiba-tiba berubah cepat? Setidaknya ada tiga alasan:

1. Konflik Geopolitik.

Ketegangan yang terjadi di Timur Tengah sebagai wilayah penghasil minyak terbesar, membuat harga minyak melambung.

Rusia pekan lalu meluncurkan operasi militer di Suriah, pertanda dimulainya kerja sama militer negara tersebut dengan Pemerintah Suriah pimpinan Presiden Bashar al-Assad. Negara koalisi Barat tidak senang dengan keputusan Rusia ini. Tampaknya perang di Suriah akan menjadi berkepanjangan untuk kepentingan Rusia vs. Barat. Investor khawatir memanjangnya konflik di Timur Tengah akan mengganggu produksi dan transportasi minyak.

2. Hasil Pertemuan The Fed.

Hasil pertemuan bank sentral AS, The Federal Reserve (The Fed), menunjukkan tidak ada kenaikan tingkat suku bunga tahun ini. Keputusan ini langsung membuat Dolar AS melemah terhadap berbagai mata uang di dunia (termasuk terhadap Rupiah).

Lemahnya Dolar AS membuat harga-harga komoditas naik sebab berarti harga barang-barang komoditas (yang dinyatakan dalam Dolar AS) menjadi semakin murah dan terjangkau.

3. Produksi Minyak AS Turun.

Laporan akhir September 2015 menunjukkan produksi minyak AS turun 120.000 barel per hari (BPH) di September dibandingkan posisi Agustus. Produksinya juga diperkirakan akan terus turun sampai pertengahan tahun depan. Sebaliknya, permintaan minyak di AS diperkirakan terus naik sampai awal tahun depan karena akan menghadapi musim dingin.

Di sisi lain, investor sebaiknya tetap mencermati perkembangan ekonomi dan pasar. Tetap tenang dan tetap berinvestasi adalah kunci di dalam menghadapi pasar yang terus berfluktuasi.

REKSA DANA… YA DANAREKSA

DISCLAIMER :
INVESTASI MELALUI REKSA DANA MENGANDUNG RISIKO. CALON PEMODAL WAJIB MEMBACA DAN MEMAHAMI PROSPEKTUS SEBELUM MEMUTUSKAN UNTUK BERINVESTASI MELALUI REKSA DANA. KINERJA MASA LALU TIDAK MENCERMINKAN MASA DATANG.

12 Oktober 2015
Simulasi
Investasi
DISCLAIMER COPYRIGHT 2012 Danareksa All Rights RESERVED|
PT Danareksa Investment Management terdaftar dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Republik Indonesia | DISCLAIMER