Berita

Simulasi
Investasi

Global Markets Shake: China Effect?

Global Markets Shake: China Effect?

Pasar saham dunia pada penutupan kemarin 24 Agustus 2015 mengalami kejatuhan besar-besaran dan membuat investor global untuk mundur sejenak. Penurunan hari Senin kemarin sempat dianggap sebagai penurunan terbesar semenjak kejatuhan bursa saham Amerika Serikat atau peristiwa “Black Monday” tahun 1987 yang juga jatuh di hari Senin.

Kekhawatiran akan kekuatan ekonomi China yang meredup sehingga mendorong terjadinya devaluasi Yuan dua minggu lalu, menciptakan kekhawatiran para pelaku pasar sehingga beramai-ramai meninggalkan poin merah di lantai bursa dunia di Amerika, Asia, Eropa, tak terkecuali Indonesia.

global shake

Tak jauh berbeda dengan negara-negara lain, Index Harga Saham Gabungan (IHSG) ikut turun tajam sebesar 172,22 poin (3,97%) ditutup di 4.163,73. IHSG yang sejak awal perdagangan sudah dibuka di teritori negatif, bahkan sempat menyentuh posisi terendah pada level 4.111,11. Sepanjang tahun 2015 ini (Year to Date – YTD), IHSG sudah turun minus 20%.

China Effect Terhadap Indonesia

Seperti yang sudah diutarakan, investor memang tak bisa mengabaikan apa yang sedang terjadi dalam ekonomi Cina. Kebijakan devaluasi Yuan dua pekan lalu tampaknya semakin mengkonfirmasi bahwa perekonomian Cina sedang di hadapan krisis.

Indeks manufaktur China (Purchasing Manager Index – PMI) akhir bulan ini diperkirakan terjadi kontraksi di level 47 (angka dibawah 50 dianggap kontraksi). Perlambatan ekonomi China ini dianggap akan berdampak terhadap mitra dagang negara-negara lain, khususnya sesama negara Asia. Tentu saja, negara yang memiliki ketergantungan ekspor (baik barang maupun jasa) terhadap China akan menerima dampak terbesar.

Indonesia sendiri sesungguhnya tidak terlalu tergantung secara langsung pada ekspor ke China, dimana mitra dagang terbesar Indonesia per akhir kuartal II kemarin tercatat Swiss, India, dan Amerika Serikat. Namun Rupiah seperti mata uang global lainnya memang terimbas sentimen hingga melemah di level Rp. 14.000-an per USD.

Morgan Stanley, sebuah bank investasi global, merilis laporan ketergantungan ekspor negara-negara Asia ke China. Tampak bahwa Korea, Taiwan, dan Singapura memiliki eksposur ekspor tertinggi terhadap China.

global shake 2

Markets Rebound: What Comes Down, Must Come Up

Seperti yang sudah diduga, indeks saham yang jatuh dalam biasanya akan disusul rebound yang kencang. Hingga tengah hari ini (25 Agustus 2015), Nikkei Jepang rebound dari kejatuhan kemarin dan sudah naik 1,10%. Hang Seng Index juga sudah hijau dan pulih 1,50%. IHSG sendiri tidak ketinggalan merambat naik di level 4270 atau pulih 106 poin.

Satu hal yang patut selalu diingat, siklus naik turun pasar adalah hal yang biasa. Yang terpenting adalah bagaimana antisipasi maupun reaksi investor. Tetap tenang, investasi berkala secara disiplin dan terdiversifikasi tetap menjadi rekomendasi yang sebaiknya tidak diabaikan.

REKSA DANA… YA DANAREKSA

DISCLAIMER :
INVESTASI MELALUI REKSA DANA MENGANDUNG RISIKO. CALON PEMODAL WAJIB MEMBACA DAN MEMAHAMI PROSPEKTUS SEBELUM MEMUTUSKAN UNTUK BERINVESTASI MELALUI REKSA DANA. KINERJA MASA LALU TIDAK MENCERMINKAN MASA DATANG.

25 Agustus 2015
Simulasi
Investasi
DISCLAIMER COPYRIGHT 2012 Danareksa All Rights RESERVED|
PT Danareksa Investment Management terdaftar dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Republik Indonesia | DISCLAIMER