Berita

Simulasi
Investasi

IHSG : Dampak Pasca Serangan

IHSG : Dampak Pasca Serangan

14 Januari 2016, Indonesia mengalami bencana serangan bom dan bersenjata oleh kelompok yang tidak bertanggung jawab. Kali ini serangan langsung di jantung ibukota, tepatnya di jalan protokol MH Thamrin yang memakan sejumlah korban jiwa.

Bagaimana dampak serangan ini? Secara geopolitis, Indonesia sudah masuk sebagai target serangan teroris, seperti halnya Amerika Serikat, Perancis, Turki, dan negara-negara lainnya. Sesuai dengan pesan Presiden Joko Widodo seusai serangan, negara Republik Indonesia (RI) tidak akan goyah dan tetap berdiri berdaulat tegak.

Secara finansial, dampak dari serangan kemarin semestinya tidak berpengaruh. Penurunan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang terjadi sesaat setelah serangan biasanya hanya gelombang kejut sejenak. Sejarah sudah membuktikan, IHSG tidak terpengaruh oleh imbas akibat tindakan yang tidak bertanggung jawab ini.

Berdasarkan data dan informasi dari Bareksa.com, efek dari terjadinya serangan ledakan bom ternyata tidak mengguncang IHSG dalam jangka panjang: 

Bom Bali 2002

Sesaat setelah peristiwa ledakan bom di Bali tahun 2002, IHSG terjun 10% ke level 337,47 dari sebelumnya 376,46. Namun, sehari setelahnya IHSG kemudian melompat 4,4% ke level 357,37. Penguatan kemudian berlanjut hingga akhir tahun 2002 di mana IHSG ditutup pada level 424,94 atau naik 25% dari tanggal terjadinya bom.

dampak bom

Bom JW Marriott 2003

Begitu ledakan bom terjadi di hotel JW Marriott pada 5 Agustus 2003, IHSG turun 3% ke level 488,52 dari level sebelumnya 503,94. Sehari setelah kejadian tersebut, IHSG menguat 1% ke level 494,43. Pada akhir 2003, IHSG sudah berada di level 691,89 atau naik 42% dari tanggal kejadian bom.

dampak bom 2

Bom Kedubes Australia 2004

Serangan bom di gedung Kedubes Australia pada 9 September 2004 hanya mengakibatkan turunnya IHSG sebesar 1% dari hari sebelumnya. IHSG kemudian pulih dengan menguat 2% sehari setelah kejadian tersebut. Pada akhir 2004, IHSG justru sukses ditutup naik 28% dari tanggal kejadian bom.

dampak bom 3

Bom Kedubes Australia 2009 

Selanjutnya kejadian bom Mega Kuningan pada 17 Juli 2009 yang menelan korban 9 orang. Dampaknya terhadap IHSG justru baru terjadi pada 18 Juli 2009, di mana IHSG anjlok 4% ke level 1.950 dari sebelumnya level 2.022. Sementara pada akhir 2009, IHSG ditutup pada level 2.534 atau naik 25% dari tanggal kejadian bom. 

dampak bom 4

Bom Thamrin Jakarta 2016 

Setelah peristiwa ledakan bom 14 Januari 2016 kemarin, IHSG ditutup melemah turun 0,5% ke level 4.513. Pada pembukaan pagi hari ini Jumat - 15 Januari 2016, IHSG sudah bergerak menguat ke level 4.532. Bank Indonesia (BI) pun juga menurunkan suku bunga 0,25% menjadi 7,25% kemarin.

Melihat sejarah pergerakan IHSG, investor tampak sudah cukup cerdas untuk tidak terpengaruh oleh peristiwa semacam itu. Fundamental tetap menjadi dasar perhitungan pengambilan keputusan berinvestasi. Bahkan secara teknikal, penurunan karena sentimen sesaat sesungguhnya justru bisa menjadi momentum yang tepat untuk masuk ke pasar.

REKSA DANA… YA DANAREKSA 

Perhatian:

• Publikasi ini bukan merupakan suatu bentuk tawaran untuk menjual atau membeli efek atau derivatifnya yang termuat dalam publikasi ini. Isi dari publikasi ini bukan merupakan nasehat investasi kepada pihak manapun. Rekomendasi yang termuat dalam publikasi ini belum tentu sesuai untuk setiap calon investor. Meskipun seluruh  informasi yang termuat dalam publikasi ini diperoleh dari sumber yang kami percaya, namun kami tidak menjamin keakuratan dan kelengkapannya. Pendapat dan rekomendasi yang termuat dalam publikasi ini berlaku terbatas pada tanggal pembuatan dan setiap saat dapat berubah dan diubah oleh PT Danareksa Investment Management (“DIM”) tanpa pemberitahuan sebelumya. DIM tidak berkewajiban memperbaharui atau menambahi informasi yang termuat dalam publikasi ini. Publikasi ini ditujukan sebagai informasi dan tidak bertujuan untuk membentuk suatu dasar keputusan investasi. Investor harus menetapkan sendiri setiap keputusan sesuai dengan kebutuhan dan strategi investasi dengan mempertimbangkan masalah hukum, pajak dan akuntasi. DIM maupun setiap karyawan dan afiliasinya tidak bertanggung jawab terhadap setiap keputusan investasi yang diambil oleh investor.
• Hak milik atas bentuk dan isi presentasi ini sepenuhnya dilindungi oleh peraturan perundangan yang berlaku di Indonesia khususnya tentang hak cipta bagi kemanfaatan DIM. Tidak diperkenankan seorangpun melakukan fotokopi, menyalin, mereproduksi baik secara manual maupun elektronik atau dengan cara apapun sebagian atau seluruhnya yang dapat berakibat dokumen ini digandakan dan digunakan baik untuk tujuan ekonomis atau tujuan lainnya tanpa ada persetujuan terlebih dahulu dari DIM. Investasi melalui Reksa Dana mengandung risiko. Calon Pemodal wajib membaca dan memahami Prospektus sebelum memutuskan untuk berinvestasi melalui Reksa Dana.  Kinerja masa lalu tidak mencerminkan kinerja masa datang. Reksa Dana adalah produk pasar  modal dan BUKAN merupakan produk perbankan; BUKAN  merupakan bagian dari simpanan pihak ketiga yang terikat pada jangka waktu tertentu serta TIDAK termasuk objek dalam program penjaminan pemerintah.
14 Januari 2016
Simulasi
Investasi
DISCLAIMER COPYRIGHT 2012 Danareksa All Rights RESERVED|
PT Danareksa Investment Management terdaftar dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Republik Indonesia | DISCLAIMER