Berita

Simulasi
Investasi

Investasi Reksa Dana Syariah : A Way Of Life

Investasi Reksa Dana Syariah : A Way Of Life

Investasi Syariah saat ini sudah menjadi alternatif investasi bagi banyak investor secara umum. Dan untuk investor yang memang memilih berinvestasi berbasis Islami ini, maka pilihan produk investasi Syariah sudah banyak tersedia dan memang layak untuk dijadikan pertimbangan. Salah satunya adalah reksa dana Syariah.

Baca juga:

Konsep investasi Syariah sendiri sudah dimulai di level global sekitar 5 dekade lalu, diawali tahun 1960-an di Malaysia dan mulai berkembang tahun 1970-an di Timur Tengah. Salah satu faktor pendorong pertumbuhan investasi Syariah adalah keinginan banyak investor untuk berinvestasi yang berdasarkan keyakinan (faith-based investing) serta populasi Muslim yang mencapai 25% dari penduduk dunia.

Total dana kelolaan atau Asset Under Management (AUM) dari reksa dana Syariah global mencapai USD 58 milyar di kuartal IV 2015 atau tumbuh dua kali lipat dibandingkan sejak akhir tahun 2004. Pasar reksa dana Syariah global sendiri mayoritas masih didominasi oleh Arab Saudi dan disusul dengan Malaysia, sebagaimana ditunjukkan dalam diagram di bawah ini.

reksadana danareksa artikel reksadana syariah a way of life 1

Arab Saudi tumbuh menjadi pasar reksa dana Syariah global terbesar karena besarnya populasi investor kaya (High Net Worth) yang menginginkan investasi Syariah. Namun sebagai pelopor reksa dana Syariah di Asia Tenggara, Malaysia saat ini dianggap sebagai kiblat negara Syariah dengan undang-undang dan infrastruktur reksa dana Syariah global yang paling lengkap. 

Bagaimana Kinerja Investasi Syariah vs. Konvensional?

Kebijakan investasi reksadana Syariah adalah hanya berinvestasi pada perusahaan dengan kategori halal. Halal yang dimaksud adalah perusahaan tersebut tidak memproduksi atau menjual sesuatu yang haram menurut hukum Islam, seperti menjual daging babi, minuman keras, bisnis hiburan maksiat/judi, tidak bersifat mudarat (misalnya rokok), tidak boleh investasi pada portofolio yang yang bersifat riba (adanya bunga), perdagangan yang tidak disertai penyerahan barang, perdagangan dengan penawaran dan permintaan palsu, jual beli mengandung ketidakpastian dan spekulatif, atau transaksi suap.

Secara umum, dapat dikatakan kinerja investasi Syariah dengan investasi konvensional adalah vis-à-vis atau tidak berbeda jauh satu sama lain. Namun karena investasi Syariah tidak berinvestasi pada bunga riba, maka berarti investasi Syariah tidak berinvestasi pada saham keuangan/perbankan konvensional. Hal ini ternyata menjadi kunci positif bagi investasi Syariah khususnya ketika sektor perbankan sedang mengalami kemerosotan seperti pada masa-masa krisis keuangan global di tahun 2008-2009.

Sebuah penelitian dilakukan oleh MoneyObserver untuk melihat perbandingan kinerja indeks saham Syariah dan konvensional dalam kurun waktu 2006 – 2014. Hasilnya menunjukkan bahwa secara umum indeks saham Syariah ternyata masih lebih unggul (outperform) dibandingkan indeks saham konvensional negara-negara maju lainnya selama periode tersebut, sebagaimana dalam grafik di bawah. Hal ini disebabkan karena krisis keuangan 2008 di Amerika Serikat dan Eropa yang menarik jatuh bursa di kedua regional tersebut. Ketidakhadiran sektor keuangan konvensional di Syariah membuatnya relatif lebih bertahan. Dengan kata lain, investasi Syariah dapat menjadi pilihan yang tepat ketika situasi pasar sedang tidak menentu.

reksadana danareksa artikel reksadana syariah a way of life 2

Investasi Syariah di Indonesia

Pada tanggal 3 Juli 2000, diluncurkanlah Jakarta Islamic Index (JII) sebagai indeks saham Syariah pertama di Indonesia, yang merupakan hasil kerjasama Danareksa Investment Management (DIM) dengan Bursa Efek Indonesia (BEI). JII sendiri saat ini berisi 30 saham emiten Indonesia yang dianggap sesuai dengan prinsip Islam.

JII kemudian tumbuh menjadi indeks pendorong dan acuan utama bagi pengelolaan industri reksa dana Syariah di Indonesia. Pengelolaan reksa dana Syariah di Indonesia mengandung unsur ekonomi Islam dimana sistem pengelolaannya diatur sesuai dengan fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI).

Data dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menunjukkan hingga akhir bulan Mei 2016 tercatat total dana kelolaan reksa dana Syariah di Indonesia mencapai lebih dari Rp 10 triliun, tumbuh sekitar dua kali lipat dibandingkan lima tahun yang lalu. Total kelolaan dana industri reksa dana nasional sendiri mencapai lebih dari Rp. 300 triliun pada akhir Mei 2016. Dengan demikian, masih banyak ruang pertumbuhan pangsa pasar bagi reksa dana Syariah di Indonesia.

Di dalam pemilihan instrumen reksa dana Syariah, manajer investasi menganut prinsip Syariah yakni hanya membeli instrumen investasi yang termasuk dalam Daftar Efek Syariah (DES) yang disusun oleh Dewan Pengawas Syariah (DPS). DES sendiri diperbaharui oleh DPS setiap 6 bulan sekali. Selain itu, di dalam pengelolaannya DPS juga turut mengawasi manajer investasi guna memastikan dan mengarahkan agar pengelolaan reksa dana tersebut sesuai dengan prinsip Syariah yaitu jujur, berkeadilan dan bermanfaat bagi sesama.

Pengelolaan reksa dana Syariah juga mensyaratkan adanya proses cleansing atau
pembersihan. Proses cleansing sendiri adalah proses pembersihan portofolio reksa dana Syariah pada pendapatan yang berasal dari sumber-sumber yang tidak sesuai kaidah Islam.

Masuknya pendapatan non-halal dalam pengelolaan reksa dana Syariah terkadang adalah hal yang tidak dapat dihindari. Misalnya, dana portofolio investasi sebuah reksa dana Syariah mungkin saja mengendap selama beberapa waktu dalam rekening bank konvensional sebelum dipergunakan. Ketika hal ini terjadi, maka proses cleansing perlu dilakukan.

Dalam proses cleansing, pendapatan bunga yang berasal dari rekening bank konvensional ini harus “dibersihkan” atau dipisahkan dari portofolio inti Syariah. Dana hasil cleansing ini nantinya kemudian akan didonasikan dalam bentuk sumbangan amal.

Oleh karena itu, berinvestasi pada reksadana Syariah – selain untuk tujuan investasi juga membantu perwujudan amal bagi para investor, dimana sebagian dari pendapatan investasi Syariahnya akan disumbangkan untuk lapisan masyarakat yang membutuhkannya.

Apakah reksa dana Syariah terbatas hanya untuk umat Muslim saja? Jawabnya, tidak. Pada dasarnya prinsip Syariah itu bukan ”keyakinan sebuah agama” melainkan ”sistem ekonomi” yang bersifat universal yang mengedepankan prinsip kejujuran, keadilan dan manfaat bagi sesama terlepas apapun keyakinan maupun latar belakangnya.

Oleh karena itu, produk reksa dana Syariah - selain populer di Arab Saudi Malaysia, juga sudah berkembang pesat hingga ke negara-negara maju lainnya seperti Inggris, Perancis, Amerika Serikat, termasuk Hongkong dan Korea Selatan. Landasan ini pulalah yang mendorong diluncurkannya beberapa indeks saham Syariah global oleh negara-negara maju lain, misalnya FTSE Global Shariah Index di Inggris dan Dow Jones Islamic Market Index di Amerika Serikat.

Akhir kata, selamat berinvestasi melalui reksa dana Syariah. Jadikanlah prinsip Syariah sebagai way of life yang dapat memberikan manfaat dalam hidup bagi semuanya.

 

Perhatian:
• Publikasi ini bukan merupakan suatu bentuk tawaran untuk menjual atau membeli efek atau derivatifnya yang termuat dalam publikasi ini. Isi dari publikasi ini bukan merupakan nasehat investasi kepada pihak manapun. Rekomendasi yang termuat dalam publikasi ini belum tentu sesuai untuk setiap calon investor. Meskipun seluruh  informasi yang termuat dalam publikasi ini diperoleh dari sumber yang kami percaya, namun kami tidak menjamin keakuratan dan kelengkapannya. Pendapat dan rekomendasi yang termuat dalam publikasi ini berlaku terbatas pada tanggal pembuatan dan setiap saat dapat berubah dan diubah oleh PT Danareksa Investment Management (“DIM”) tanpa pemberitahuan sebelumya. DIM tidak berkewajiban memperbaharui atau menambahi informasi yang termuat dalam publikasi ini. Publikasi ini ditujukan sebagai informasi dan tidak bertujuan untuk membentuk suatu dasar keputusan investasi. Investor harus menetapkan sendiri setiap keputusan sesuai dengan kebutuhan dan strategi investasi dengan mempertimbangkan masalah hukum, pajak dan akuntasi. DIM maupun setiap karyawan dan afiliasinya tidak bertanggung jawab terhadap setiap keputusan investasi yang diambil oleh investor.
• Hak milik atas bentuk dan isi presentasi ini sepenuhnya dilindungi oleh peraturan perundangan yang berlaku di Indonesia khususnya tentang hak cipta bagi kemanfaatan DIM. Tidak diperkenankan seorangpun melakukan fotokopi, menyalin, mereproduksi baik secara manual maupun elektronik atau dengan cara apapun sebagian atau seluruhnya yang dapat berakibat dokumen ini digandakan dan digunakan baik untuk tujuan ekonomis atau tujuan lainnya tanpa ada persetujuan terlebih dahulu dari DIM. Investasi melalui Reksa Dana mengandung risiko. Calon Pemodal wajib membaca dan memahami Prospektus sebelum memutuskan untuk berinvestasi melalui Reksa Dana.  Kinerja masa lalu tidak mencerminkan kinerja masa datang. Reksa Dana adalah produk pasar  modal dan BUKAN merupakan produk perbankan; BUKAN  merupakan bagian dari simpanan pihak ketiga yang terikat pada jangka waktu tertentu serta TIDAK termasuk objek dalam program penjaminan pemerintah.

 

14 Juni 2016
Simulasi
Investasi
DISCLAIMER COPYRIGHT 2012 Danareksa All Rights RESERVED|
PT Danareksa Investment Management terdaftar dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Republik Indonesia | DISCLAIMER