Berita

Simulasi
Investasi

Ketika Pasar Saham Jatuh : What to do?

Ketika Pasar Saham Jatuh : What to do?

Do Nothing Sometimes is Doing Something

Tahun 2016 sudah berjalan 3 minggu. Tahun baru dimulai dengan harapan baru. Ekspektasi bahwa pasar dan ekonomi dunia membaik juga sudah didengungkan berbagai lembaga ekonomi. International Monetary Fund (IMF) memproyeksikan pertumbuhan ekonomi dunia tahun 2016 ini akan naik 3,4% dan lebih baik daripada 3,1% di tahun 2015 lalu.

Namun jika kita menengok apa yang terjadi di pasar saham tahun ini, mungkin rasanya harapan itu sulit terwujud. Pasar saham dalam 3 minggu pertama tahun 2016 kurang menunjukkan tanda-tanda menggembirakan. Tidak hanya di Indonesia, namun seluruh dunia mengalami hal yang sama. Indeks S&P 500 sudah terjun bebas lebih dari 9% tahun ini. Indeks Euro Stoxx 50 juga melemah lebih dari 3%. IHSG sendiri juga tidak ketinggalan di zona merah lebih dari 3%.

Ketika pasar saham jatuh dalam, apalagi sampai beberapa hari berturut-turut, Anda sebagai seorang investor mungkin secara psikologis akan timbul dorongan harus melakukan sesuatu. We have to do something! Investasi kita ada di situ. Uang sekolah anak dan pensiun kita ada di situ. Dana untuk jangka panjang semua ada di situ. Betul?

Ya di situlah penjelasannya. That’s the idea! Karena dananya untuk kebutuhan jangka panjang, maka justru instrumen yang dipilih sebaiknya adalah saham. Kecuali apabila terjadi perubahan fundamental kebutuhan jangka panjang mendadak – misalnya uang sekolah universitas mendadak harus dilunasi semua besok – maka Anda sebaiknya tidak perlu mengubah struktur portofolio dengan keluar dari pasar saham sekarang. Do nothing sometimes is doing something.

Tips To Consider

Di bawah ini adalah sedikit tips yang bisa dipertimbangkan terlebih dahulu sebelum Anda memutuskan keluar dari pasar saham ketika indeks saham sedang turun:

1. Keragaman aset yang dimiliki.

Lihat kembali semua aset yang Anda miliki; besar kemungkinan akan terdiri dari
berbagai macam ragam aset secara keseluruhan. Semustinya aset Anda tidak 100% di saham saja. Ketika pasar saham turun, Anda mungkin masih memiliki aset investasi yang lain, misalnya obligasi, dana tunai, bahkan properti atau bisnis. Belum lagi potensi prospek dari kenaikan pendapatan Anda di masa depan. Penurunan indeks saham bukan berarti seluruh aset Anda akan ikut turun secara bersamaan. Situasi ini juga mengukuhkan pentingnya pembagian investasi aset sejak awal: jangan menaruh semua telur dalam satu keranjang.

2. Anda mungkin sudah beruntung.

Jika Anda kebetulan sudah berinvestasi di saham sejak tahun 2005 misalnya, maka sesungguhnya Anda sudah menikmati keuntungan saham rata-rata 15% per tahun (bandingkan dengan deposito yang hanya 6-7% saja per tahun). Perhitungan angka ini sudah termasuk penurunan IHSG hingga lebih dari 50% di tahun 2008 dan minus 12% di tahun 2015 kemarin.

Perolehan gain 15% per tahun itu adalah bukti reward bagi Anda untuk berinvestasi jangka panjang, terlepas apakah di tahun-tahun yang dilalui ada yang naik atau turun. Oleh karena itu, jika Anda memutuskan untuk keluar dari bursa saham hari ini, bagaimana Anda bisa tahu kapan pasar akan rebound nanti? Dan ketika Anda memutuskan untuk masuk kembali ke pasar ketika sudah rebound, berarti sesungguhnya Anda sudah ketinggalan.

3. Masih banyak waktu untuk recover.

Kenanglah kembali saat-saat ketika Anda memutuskan untuk berinvestasi. Untuk tujuan apa Anda membangun portofolio investasi saat itu? Apakah untuk biaya pendidikan universitas anak atau pensiun Anda?

Apabila tujuan tersebut masih 5, 10, bahkan 15 tahun lagi, berarti akan masih banyak waktu bagi investasi Anda untuk recover atas penurunan saham minggu lalu, yang berarti pula tidak ada alasan bagi Anda untuk keluar dari pasar saham hari ini.

4. Kenali kembali karakter diri.

Pengalaman adalah guru terbaik. Pengalaman melihat indeks saham yang turun bisa menjadi momen untuk melihat kembali profil risiko Anda. Beberapa investor memang tergolong konservatif dan kurang cocok untuk berinvestasi saham dalam porsi besar. Mungkinkah Anda termasuk investor konservatif?

Namun perlu diingat bahwa investor konservatif akan disarankan berinvestasi pada instrumen-instrumen yang berisiko kecil, seperti instrumen deposito atau pasar uang. Konsekwensinya, Anda mungkin harus menerima return yang lebih kecil atau menabung dalam jumlah yang lebih besar. Bahkan return-nya bisa berisiko tergerus inflasi.

5. Saatnya untuk masuk.

Pergerakan naik dan turun di pasar saham adalah hal yang biasa dan hal ini sudah terjadi semenjak bursa saham pertama dibentuk tahun 1602 di Amsterdam. Sejarah juga menunjukkan bahwa saham merupakan investasi yang paling tepat untuk pemenuhan kebutuhan jangka panjang (liburan, sekolah, pensiun, dll.).

Oleh karena itu, penurunan indeks saham baru-baru ini jangan dianggap sebagai hal yang mengkhawatirkan. Ibarat berbelanja, penurunan harga adalah saat yang paling tepat untuk shopping (itulah sebabnya masa sale paling ramai pembeli). Begitu pula pasar saham. Harga saham yang sedang menurun justru menjadi momen yang paling tepat untuk masuk dan menikmati kenaikannya nanti ketika rebound.

Reksa Dana… Ya Danareksa

Perhatian:

• Publikasi ini bukan merupakan suatu bentuk tawaran untuk menjual atau membeli efek atau derivatifnya yang termuat dalam publikasi ini. Isi dari publikasi ini bukan merupakan nasehat investasi kepada pihak manapun. Rekomendasi yang termuat dalam publikasi ini belum tentu sesuai untuk setiap calon investor. Meskipun seluruh  informasi yang termuat dalam publikasi ini diperoleh dari sumber yang kami percaya, namun kami tidak menjamin keakuratan dan kelengkapannya. Pendapat dan rekomendasi yang termuat dalam publikasi ini berlaku terbatas pada tanggal pembuatan dan setiap saat dapat berubah dan diubah oleh PT Danareksa Investment Management (“DIM”) tanpa pemberitahuan sebelumya. DIM tidak berkewajiban memperbaharui atau menambahi informasi yang termuat dalam publikasi ini. Publikasi ini ditujukan sebagai informasi dan tidak bertujuan untuk membentuk suatu dasar keputusan investasi. Investor harus menetapkan sendiri setiap keputusan sesuai dengan kebutuhan dan strategi investasi dengan mempertimbangkan masalah hukum, pajak dan akuntasi. DIM maupun setiap karyawan dan afiliasinya tidak bertanggung jawab terhadap setiap keputusan investasi yang diambil oleh investor.
• Hak milik atas bentuk dan isi presentasi ini sepenuhnya dilindungi oleh peraturan perundangan yang berlaku di Indonesia khususnya tentang hak cipta bagi kemanfaatan DIM. Tidak diperkenankan seorangpun melakukan fotokopi, menyalin, mereproduksi baik secara manual maupun elektronik atau dengan cara apapun sebagian atau seluruhnya yang dapat berakibat dokumen ini digandakan dan digunakan baik untuk tujuan ekonomis atau tujuan lainnya tanpa ada persetujuan terlebih dahulu dari DIM. Investasi melalui Reksa Dana mengandung risiko. Calon Pemodal wajib membaca dan memahami Prospektus sebelum memutuskan untuk berinvestasi melalui Reksa Dana.  Kinerja masa lalu tidak mencerminkan kinerja masa datang. Reksa Dana adalah produk pasar  modal dan BUKAN merupakan produk perbankan; BUKAN  merupakan bagian dari simpanan pihak ketiga yang terikat pada jangka waktu tertentu serta TIDAK termasuk objek dalam program penjaminan pemerintah.
21 Januari 2016
Simulasi
Investasi
DISCLAIMER COPYRIGHT 2012 Danareksa All Rights RESERVED|
PT Danareksa Investment Management terdaftar dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Republik Indonesia | DISCLAIMER