Berita

Simulasi
Investasi

LISTEN TO WHAT THEY SAY ON MARKETS

LISTEN TO WHAT THEY SAY ON MARKETS

Topik seputar pasar modal hingga hari ini mungkin masih seputar topik yang sama: penurunan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dari rekor tertinggi di level 5.523 di penutupan 7 April 2015, dan akhirnya ditutup bulan 30 April 2015 di level 5.086 atau turun -2,69% sejak awal tahun 2015.

Bagi sebagian besar investor, khususnya investor pemula yang belum pernah mengalami siklus naik-turun pasar sebelumnya, mungkin merasa cemas atau khawatir akan terjadi sesuatu atas portofolionya. Rasa waspada boleh-boleh saja, namun hendaknya jangan sampai menjadi berkepanjangan, emosional dan akhirnya mengambil keputusan yang salah.

Pengalaman adalah guru yang paling baik. Pepatah tersebut memang benar, karena melalui pengalaman maka seseorang akan belajar secara langsung mana yang benar dan salah. Pengalaman yang berulang-ulang akan memberikan pelajaran yang berulang-ulang pula sehingga pada akhirnya akan menempa karakter yang kuat, termasuk karakter berinvestasi.

Oleh karena itu, daripada terus gelisah di batin memikirkan bagaimana situasi pasar, mungkin ada baiknya kita mengambil napas sejenak dan dengarkan filosofi investasi dari para investor yang sudah berpengalaman. Para investor ini telah menggeluti dunia investasi sejak lama dan sudah mengarungi siklus pasar bertahun-tahun. Asam-garam dunia investasi yang telah dilalui justru membentuk mereka menjadi investor yang solid:

1. “Pasar modal ini dipenuhi dengan orang-orang yang mengerti harga, namun tidak mengerti nilai (value)” – Philip Fisher (salah satu pemilik Motorola dan penulis buku Common Stocks and Uncommon Profits).

2. “Ketika dilanda resesi, sebaiknya anda tetap disitu. Ekonomi adalah sebuah siklus dan pasar sudah terbukti akan selalu recover. Pastikan anda ikut ambil bagian ketika recovery terjadi” – Peter Lynch (Senior Portfolio Manager sekaligus Vice Chairman dari Fidelity Investment).

3. “Berinvestasi itu seperti menunggu lukisan kering atau memandang rumput tumbuh. Perlu waktu. Jika anda memang mencari kegembiraan, ambil saja 800 dolar dan pergilah ke Las Vegas” – Paul Samuelson (Penerima Hadiah Nobel bidang Ekonomi tahun 1970).

4. “Kerugian karena harga turun adalah biasa. Namun kerugian yang timbul karena kita tidak mau mengambil kesempatan selagi ada; justru inilah yang tidak termaafkan” – Jesse Livermore (legenda pialang saham Wall Street tahun 1920-an).

5. “Ketika pasar bullish, semua orang happy dan semua merasa sudah menjadi investor profesional. Namun ketika pasar bearish, mereka yang optimis menjadi pesimis dan akhirnya keluar. Justru di saat inilah investor profesional yang sesungguh masuk” – Robert Kiyosaki (motivator keuangan dan investasi).

6. “Seorang investor sebaiknya tetap bertindak seperti layaknya seorang investor dan jangan berubah menjadi spekulator” – Ben Graham (Pencetus metode Analisa Fundamental melalui bukunya Security Analysis di tahun 1934).

7. “Biasanya, semakin merah angkanya…. semakin murah harganya” – Seth Klarman (pendiri Baupost Group, perusahaan investasi di Boston).

8. “Rasa pesimis yang sedang memuncak adalah saat paling tepat untuk membeli, dan sebaliknya” – John Templeton (pendiri perusahaan investasi Templeton Mutual Fund).

9. “Barang siapa yang tidak berinvestasi sekarang akan kehilangan banyak kesempatan besar” – Carlos Slim (Dijuluki “Warren Buffett dari Mexico” dan sempat dinobatkan sebagai “Orang Terkaya No. 1 Dunia” tahun 2010 – 2013).

10. “Anda ingin kaya? Jadilah orang penakut ketika yang lain sedang lahap, dan jadilah pelahap yang besar ketika yang lain sedang takut.” – Warren Buffett (The Investor Legend).

REKSA DANA… YA DANAREKSA

DISCLAIMER :
INVESTASI MELALUI REKSA DANA MENGANDUNG RISIKO. CALON PEMODAL WAJIB MEMBACA DAN MEMAHAMI PROSPEKTUS SEBELUM MEMUTUSKAN UNTUK BERINVESTASI MELALUI REKSA DANA. KINERJA MASA LALU TIDAK MENCERMINKAN MASA DATANG.

08 Mei 2015
Simulasi
Investasi
DISCLAIMER COPYRIGHT 2012 Danareksa All Rights RESERVED|
PT Danareksa Investment Management terdaftar dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Republik Indonesia | DISCLAIMER