Berita

Simulasi
Investasi

Menakar Sektor Prospektif 2016

Menakar Sektor Prospektif 2016

Memasuki awal 2016, kita disuguhkan dengan data ekonomi yang menggembirakan yaitu inflasi Desember yang mencapai 3,5% (YoY), terendah sejak lebih dari 5 tahun terakhir.

Inflasi yang rendah meningkatkan spekulasi Bank Indonesia untuk mulai menurunkan tingkat suku bunga sehingga menggairahkan pertumbuhan ekonomi. Pemerintah juga menurunkan harga premium dan diesel untuk menyesuaikan harga minyak dunia yang berada pada tren penurunan.

Baca juga:

Sesuai dengan ekspektasi, Bank Indonesia memutuskan menurunkan suku bunga pada pertemuan bulanan pada Januari dan diikuti dengan penurunan suku bunga berturut-turut di rapat dewan gubernur pada Februari dan Maret. Saat ini tingkat suku bunga Bank Indonesia berada pada 6,75% atau 1% di atas tingkat suku bunga terendah yang pernah terjadi dalam kurun 10 tahun terakhir.

Pertumbuhan ekonomi yang menjadi target kebijakan pemerintah mulai terlihat membaik. PDB kuartal IV kembali tumbuh di atas 5% , setelah terpuruk di level 4,66% pada kuartal II/2015. Rupiah pun merespon perkembangan ekonomi yang membaik dengan menguat sebesar 4% di kuartal pertama tahun ini.

Survei Kepercayaan Konsumen yang dirilis Bank Indonesia juga menunjukkan titik balik di atas 109 selama tiga bulan pertama pada 2016, setelah terpuruk di level 97,5 pada September 2015.

Fokus pemerintah pada sektor infrastruktur tetap terjaga. Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat berhasil melelang proyek-proyek sesuai yang ditargetkan.

reksadana danareksa artikel menakar sektor prospektif 2016 1

Pengeluaran pemerintah juga melaju 105% pada kuartal I, padahal percepatan itu umumnya terjadi menjelang akhir periode anggaran. Kontraktor pemerintah seperti ADHI, PTPP, WIKA, WSKT, menargetkan kontrak baru senilai total Rp130 triliun atau meningkat 25% dari 2015.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melanjutkan tren positif pada kuartal pertama tahun ini dengan mencatat kenaikan 5,5% setelah sebelumnya mencatat pertumbuhan 11,4% pada kuartal sebelumnya.

Investor terus merespons positif terutama usaha pemerintah untuk terus mendorong pertumbuhan ekonomi dan pembangunan infrastruktur melalui serangkaian paket kebijakan deregulasi, peningkatan pengeluaran pemerintah, dan kebijakan moneter yang longgar.

Pada kuartal I/2016, sektor yang berkinerja di atas IHSG adalah Aneka Industri (15,9%), Pertanian (11,5%), Industri Barang Konsumsi (10,9%), dan Pertambangan (10,4%). Di luar sektor aneka industri, ketiga sektor lainnya berbeda dengan sektor yang unggul pada kuartal sebelumnya.

Sektor Aneka Industri dimotori Astra Internasional dan sektor pertanian dimotori oleh Astra Agro Lestari (AALI) yang juga merupakan anak usaha Grup Astra. Kenaikan AALI didasari oleh penguatan harga CPO di mana terjadi tren penurunan cadangan CPO di Malaysia.

Sektor konsumsi dimotori oleh emiten-emiten yang melayani mass market seperti UNVR, GGRM, ICBP, INDF, HMSP, KLBF dan MYOR. Ketujuh saham itu merepresentasikan 92% kapitalisasi indeks industri barang konsumsi dan 25% kapitalisasi Indeks Harga Saham Gabungan.

Sektor pertambangan yang mungkin masih dihindari oleh sebagian investor mencatatkan kinerja yang sangat baik seiring dengan perbaikan data ekonomi China dan kembali meningkatnya harga minyak dunia setelah sempat terpuruk di bawah US$30.

PROYEKSI KUARTAL II

Memasuki kuartal kedua tahun ini, investor mulai menunggu data-data baru, yaitu laba kuartal pertama emiten dan angka PDB Indonesia.

Data-data ini krusial mengingat pergerakan indeks lebih didominasi oleh sentimen positif dari kebijakan pemerintah dan kondisi eksternal yang relatif kondusif.

Namun demikian, saya melihat ada peluang untuk meningkatkan posisi saham pada harga yang lebih baik mengingat kondisi ekonomi secara umum masih sangat baik dan kemajuan program pemerintah masih sesuai rencana.

Saya melihat sektor konsumsi akan terus diuntungkan dari kondisi inflasi, yang akan tercermin dalam daya beli) yang relatif baik, rupiah yang stabil, dan rencana pemerintah untuk menyesuaikan pajak penghasilan.

Kinerja harga saham sektor terkait seperti sektor perdagangan/retail diperkirakan akan memiliki kinerja yang relatif lebih baik dibandingkan dengan kuartal pertama sehubungan dengan faktor di atas.

Sektor properti dan konstruksi serta transportasi dan infrastruktur juga berpeluang mencatatkan kinerja yang lebih baik seiring dengan kemajuan penyelesaian proyek infrastruktur pemerintah.

Sektor pertambangan mungkin akan sulit untuk melanjutkan pertumbuhan yang signifikan pada harga sahamnya, bila kenaikan harga komoditas masih mengalami fluktuasi yang tinggi dan laporan keuangan yang masih belum sepenuhnya pulih. Ini juga sejalan dengan sektor pertanian di mana harga sahamnya tergantung dari pergerakan harga CPO yang sangat siklikal.

Sektor keuangan yang didominasi bank besar termasuk bank BUMN berpotensi bergerak sejalan IHSG saja, mengingat keinginan pemerintah untuk menurunkan bunga kredit perbankan berpotensi mengurangi NIM dan profitabilitas dalam jangka pendek.

Pada akhirnya, investor saham harus mencermati risiko fluktuasi jangka pendek yang bisa datang dari internal maupun eksternal. Untuk itu, siasati fluktuasi dengan investasi secara berkala. Reksa dana saham bisa menjadi pilihan untuk mendapatkan skala diversifikasi dan potensi return yang menarik dalam jangka panjang.

*) Prihatmo Hari Mulyanto, Direktur Utama PT Danareksa Investment Management.

Sumber : Harian Bisnis Indonesia & Bisnis.com

Perhatian:
• Publikasi ini bukan merupakan suatu bentuk tawaran untuk menjual atau membeli efek atau derivatifnya yang termuat dalam publikasi ini. Isi dari publikasi ini bukan merupakan nasehat investasi kepada pihak manapun. Rekomendasi yang termuat dalam publikasi ini belum tentu sesuai untuk setiap calon investor. Meskipun seluruh  informasi yang termuat dalam publikasi ini diperoleh dari sumber yang kami percaya, namun kami tidak menjamin keakuratan dan kelengkapannya. Pendapat dan rekomendasi yang termuat dalam publikasi ini berlaku terbatas pada tanggal pembuatan dan setiap saat dapat berubah dan diubah oleh PT Danareksa Investment Management (“DIM”) tanpa pemberitahuan sebelumya. DIM tidak berkewajiban memperbaharui atau menambahi informasi yang termuat dalam publikasi ini. Publikasi ini ditujukan sebagai informasi dan tidak bertujuan untuk membentuk suatu dasar keputusan investasi. Investor harus menetapkan sendiri setiap keputusan sesuai dengan kebutuhan dan strategi investasi dengan mempertimbangkan masalah hukum, pajak dan akuntasi. DIM maupun setiap karyawan dan afiliasinya tidak bertanggung jawab terhadap setiap keputusan investasi yang diambil oleh investor.
• Hak milik atas bentuk dan isi presentasi ini sepenuhnya dilindungi oleh peraturan perundangan yang berlaku di Indonesia khususnya tentang hak cipta bagi kemanfaatan DIM. Tidak diperkenankan seorangpun melakukan fotokopi, menyalin, mereproduksi baik secara manual maupun elektronik atau dengan cara apapun sebagian atau seluruhnya yang dapat berakibat dokumen ini digandakan dan digunakan baik untuk tujuan ekonomis atau tujuan lainnya tanpa ada persetujuan terlebih dahulu dari DIM. Investasi melalui Reksa Dana mengandung risiko. Calon Pemodal wajib membaca dan memahami Prospektus sebelum memutuskan untuk berinvestasi melalui Reksa Dana.  Kinerja masa lalu tidak mencerminkan kinerja masa datang. Reksa Dana adalah produk pasar  modal dan BUKAN merupakan produk perbankan; BUKAN  merupakan bagian dari simpanan pihak ketiga yang terikat pada jangka waktu tertentu serta TIDAK termasuk objek dalam program penjaminan pemerintah.
11 April 2016
Simulasi
Investasi
DISCLAIMER COPYRIGHT 2012 Danareksa All Rights RESERVED|
PT Danareksa Investment Management terdaftar dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Republik Indonesia | DISCLAIMER