Berita

Simulasi
Investasi

Outlook Pasar Finansial 2019 : Antara Bahaya dan Kesempatan

Outlook Pasar Finansial 2019 : Antara Bahaya dan Kesempatan

Penguatan nilai Rupiah dan indeks saham Indonesia yang sejatinya dimulai sejak awal Desember 2018 mendapatkan angin segar dari hasil rapat FOMC bulan Januari 2019 lalu. Keputusan mengejutkan the Fed untuk sementara menghentikan rangkaian peningkatan suku bunga yang telah berlangsung sepanjang 2018 direspon positif oleh pelaku pasar finansial global. Bagai menghela nafas lega setelah mengalami tekanan sepanjang tahun lalu pasar saham terutama di Emerging Markets (EM) melanjutkan penguatannya menyambut sikap the Fed yang mendadak berubah menjadi dovish itu. Nilai tukar negara-negara berkembang terhadap Dolar AS pun terimbas sentimen positif, termasuk Rupiah.


Publik bertanya-tanya apa gerangan yang menyebabkan the Fed mengubah haluan secara drastis dari bersikukuh menaikkan suku bunga menjadi bersabar memantau perkembangan. Alih-alih melanjutkan kenaikan suku bunga, pernyataan the Fed itu malah memberi pesan kepada pasar bahwa the Fed membuka kemungkinan pemotongan suku bunga bila memang dibutuhkan.


Boleh jadi the Fed menghentikan pengetatan suku bunga setelah membaca sinyal-sinyal pasar yang mengisyaratkan akan datangnya resesi ekonomi di AS yang justru dipicu oleh kesalahan kebijakan mereka sendiri. Pengetatan suku bunga yang terlalu cepat oleh the Fed di tengah pelemahan ekonomi global dan ancaman perang dagang AS-China ditengarai justru dapat menyebabkan datangnya resesi ekonomi di Amerika Serikat. Pelaku pasar menilai the Fed mengambil keputusan bijaksana untuk menghentikan sementara pengetatan suku bunga sambil memantau perkembangan selanjutnya.

Grafik 1

GRAFIK 1

Sebelum keputusan the Fed yang mengejutkan itu diumumkan sebenarnya NY Fed baru saja memperbaharui model risiko resesi mereka. Model tersebut menunjukkan peningkatan signifikan angka probabiltas resesi untuk 12 bulan kemuka hingga 21.4% di bulan Desember 2018, dari 15.8% pada November dan 14.1% di bulan Oktober. Sebagai catatan, angka bulan Desember itu adalah angka tertinggi sejak Agustus 2008 saat berlangsungnya The Great Recession.
Lalu bagaimana berbagai faktor global dan domestik yang saat ini berkembang akan mempengaruhi pasar finansial Indonesia di sepanjang tahun 2019?

Bahaya dan Kesempatan
Aksara Cina 危机 (wēijī) yang diterjemahkan sebagai ‘Krisis’ terlanjur disalahartikan di dunia Barat sebagai gabungan antara dua aksara yang memiliki arti ‘Bahaya’ dan ‘Kesempatan’. Pemahaman keliru yang terlanjur meluas di dunia Barat ini terutama terjadi setelah John F. Kennedy menggunakan makna tersebut dalam salah satu pidatonya di awal tahun 1960an. Terlepas dari kelirunya dunia Barat dalam memahami aksara Cina 危机 (wēijī), dua kata itu yakni ‘Bahaya’ dan ‘Kesempatan’ tampaknya menjadi sangat relevan bagi para investor pasar finansial Indonesia di tahun 2019 ini.


Selain bahaya resesi di Amerika Serikat ancaman terbesar bagi pasar finansial global, terutama pasar negara-negara berkembang seperti Indonesia, adalah perlambatan pertumbuhan ekonomi yang tengah berlangsung di Cina. Pertumbuhan ekonomi Cina menyumbang sekitar 27.2% pertumbuhan ekonomi global saat ini dan lembaga IMF telah memangkas proyeksi pertumbuhan mereka atas pertumbuhan GDP Cina di tahun 2019 ini menjadi 6.2% dari sebelumnya 6.6% yang merupakan pertumbuhan ekonomi paling lemah sejak tahun 1990. Otomatis tingkat pertumbuhan ekonomi global turut terpangkas oleh karenanya.

Grafik 2

GAMBAR 2

Data-data perekonomian membuktikan bahwa Cina memang sedang mengalami perlambatan ekonomi dan otoritas fiskal maupun moneter Cina tampaknya kini hanya memiliki pilihan kebijakan yang lebih terbatas untuk melakukan stimulus dibandingkan di masa-masa lalu. Perlu diingat bahwa saat berlangsungnya Great Recession 2008/2009 Beijing meluncurkan stimulus ekonomi masif yang belum pernah dilakukan di dunia pasca perang dunia ke-2. Stimulus tersebut mencapai hingga 19% dari GDP Cina. Sebagai bahan perbandingan stimulus ekonomi AS saat itu hanya sebesar 5 hingga 6% dari GDP. Uniknya pemerintah pusat Cina tidak meminjam secara langsung dana yang digunakan sebagai stimulus melainkan mendorong pemerintah-pemerintah daerah dan BUMN mereka untuk menanggung beban stimulus. Akibatnya tumpukan hutang masa lalu tersebut menjadi lebih sulit untuk diselesaikan dan menggantung hingga saat ini dan tingkat gagal bayar (defaults) pinjaman korporasi di Cina diperkirakan akan semakin meningkat.


Perlambatan pertumbuhan ekonomi Cina ditambah ancaman perang dagang dengan AS tampaknya cukup mengkhawatirkan bahkan bagi Partai Komunis Cina mengingat pertumbuhan yang lebih lambat dari 6% berpotensi menimbulkan gejolak sosial dan politik di Cina. Pertumbuhan ekonomi yang lambat 30 tahun silam tidak berdampak signifikan, namun dengan kondisi saat ini dimana rakyat Cina telah mencicipi kemakmuran yang jauh lebih baik kondisi ekonomi yang sulit berpotensi menimbulkan gejolak sosial dan politik yang bila tidak dikelola dengan baik dapat menimbulkan krisis yang meluas di negara raksasa berpenduduk hampir 1.4 miliar orang. Krisis sosial dan politik di Cina tentunya akan memiliki bahaya efek berantai kepada negara-negara berkembang lainnya.


Kekhawatiran pasar akan kondisi ekonomi Cina telah menyebabkan Indeks saham Cina CSI 300 turun 25% sepanjang 2018 dan merupakan indeks saham berkinerja terburuk di dunia tahun lalu. Selain itu nilai tukar Yuan terhadap Dolar AS pun mengalami tekanan hingga mendekati nilai kritikal 7.0 per dolar AS di posisi terburuknya pada Oktober 2018.


Perlambatan ekonomi Cina masih berlangsung saat ini dan pelaku pasar tampaknya belum mampu mengukur sejauh mana keadaan akan memburuk mengingat keterbukaan informasi ekonomi dan bisnis merupakan masalah tersendiri di Cina. Namun demikian, pertanda pelemahan ekonomi Cina juga tercermin dari data penjualan iPhone di Cina misalnya yang turun 20% pada kwartal terakhir 2018. Penurunan tersebut selain didorong oleh pelemahan ekonomi Cina juga disebabkan oleh meningkatnya nasionalisme konsumen Cina yang mengutamakan produk-produk dalam negeri ketimbang produk perusahaan AS sebagai buntut perang dagang.


Secara konsensus para pelaku pasar global masih percaya bahwa pemerintah Cina akan mampu mengatasi mara bahaya yang menghantui perekonomian Cina, paling tidak untuk kali ini. Namun, mengingat kondisi yang masih rentan di Cina investor Global yang mulai mengalokasikan dana mereka ke Emerging Asia sejak akhir tahun lalu lebih memilih Indonesia atau negara lain seperti Vietnam atau Filippina sebagai negara tujuan investasi portfolio mereka dalam jangka pendek. Keadaan tersebut telah mengerek naik indeks saham Indonesia ke level tertingginya dalam 11 bulan terakhir di level 6500.


Investor global yang awalnya memburu saham-saham berkapitalisasi besar seperti saham-saham perbankan kini mulai melirik dan merotasi portfolio ke saham-saham berkapitalisasi menengah dan kecil yang valuasinya jauh lebih menarik. Akibatnya IHSG mengalami dukungan yang cukup kuat akibat masuknya likuiditas global ke pasar Indonesia dan tidak kunjung mengalami koreksi berarti.

 Grafik 3

 

Grafik 43

4

Sumber: Robin Brooks, Institute of Iternational Finance

 

Tampak jelas dari grafik 3 di atas bahwa alokasi portfolio global ke Emerging Asia-ex China (hitam gelap) tergerus secara signifikan setelah penjualan besar-besaran oleh investor global pada tahun 2015. Saat itu pemerintah Cina melakukan devaluasi mata uang Yuan secara tiba-tiba untuk menstimulasi perekonomiannya dan IHSG pun terkoreksi 26% dari level 5500 hinga 4080 sebelum kembali naik. Pasca kejadian tersebut dana global lebih memilih Cina dibandingkan pasar Emerging Asia-ex China terlihat dari membengkaknya porsi alokasi ke Cina relatif terhadap alokasi ke Emerging Asia-ex China.


Kini tampaknya bahaya yang menghantui perekonomian Cina di sisi lain menjadi kesempatan yang tidak disangka bagi pasar modal Emerging Asia-ex China dengan kembalinya investor global melakukan alokasi portfolio ke wilayah ini dibandingkan ke pasar Cina, paling tidak dalam jangka pendek. Data terakhir dari aliran dana ETF mingguan ke Emerging Asia menunjukkan bahwa aliran dana ekuitas ke China/Hong Kong turun 32.3% dari minggu sebelumnya sedangkan alokasi ke Indonesia naik 20.1% dan Thailand naik 46.3% (lihat Grafik 4).


Kami percaya bahwa Emerging Asia-ex China akan semakin dilirik investor mengingat negara-negara di wilayah ini dalam jangka panjang akan menjadi pilihan utama bagi relokasi pabrik dan diversifikasi rantai pasokan dari Cina ataupun dari negara-negara maju sebagai buntut perang dagang antara AS dengan Cina.


Sektor Pilihan dan Target
Dalam pemilihan sektor kami masih fokus pada saham-saham finansial mengingat bobotnya yang signifikan baik di IHSG maupun indeks saham lain seperti LQ45. Saham-saham berkapitalisasi besar seperti BBCA tetap diburu investor global walaupun secara valuasi tidak murah lagi karena memiliki keunggulan dalam hal kapitalisasi pasar dan likuiditas.


Pilihan kedua adalah saham-saham yang berada di sektor konsumsi dan retail mengingat perusahaan-perusahaan barang konsumsi cenderung diuntungkan pada tahun politik menjelang pilpres dan pileg. Saham-saham seperti GGRM, CPIN, JPFA, RALS, MAPI, dan ACES merupakan pilihan kami saat ini.


Sektor pilihan kami selanjutnya adalah sektor konstruksi yang kami percaya akan menjadi incaran investor menjelang atau bahkan pasca pilpres. Pemerintah tidak memiliki banyak pilihan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi Indonesia dalam jangka menengah kecuali melanjutkan pembangunan infrastruktur dan mengharapkan efek penggandanya kepada sektor konsumsi. Sektor konstruksi yang didominasi perusahaan-perusahaan BUMN ini akan menjadi sektor yang diuntungkan dari kecenderungan tersebut. Apalagi saat ini valuasi sektor ini masih sangat murah relatif terhadap sektor lain.


Selain pilihan sektor, secara taktikal saham-saham berkapitalisasi menengah dan kecil saat ini manjadi incaran investor mengingat valuasinya yang masih jauh lebih murah dibandingkan saham-saham berkapitalisasi besar yang lebih dahulu naik.


Sebagai base case, kami berpendapat bahwa IHSG dapat mencapai level 7100 pada tahun ini dengan rentang kurs Rupiah terhadap Dolar AS antara 13500 hingga 14200. Target yield obligasi 10 tahun pemerintah kami perkirakan berada di rentang 7.4-7.7% dengan tingkat inflasi yang rendah.


Sub-sektor Pilihan: Perunggasan
Salah satu sub-sektor pilihan kami saat ini adalah poultry atau perunggasan. Saham-saham yang berada di sektor ini seperti CPIN, JPFA dan MAIN mengalami penguatan yang signifikan pada paruh kedua 2018 dan tampaknya penguatan tersebut masih akan berlanjut pada tahun ini.


Menarik untuk diketahui bahwa tren global poultry sangat menjanjikan dimana konsumsi daging ayam mengalami pertumbuhan yang sangat signifikan dalam konteks bauran konsumsi daging. Sementara konsumsi per capita daging babi dan daging sapi konstan, konsumsi daging ayam tumbuh 70% sejak 1990 hingga kini di negara-negara anggota OECD. Konsumsi daging ayam per capita di Amerika Serikat contohnya juga tumbuh jauh lebih cepat dari konsumsi daging babi maupun daging sapi dalam kurun waktu 50 tahun terakhir sehingga daging ayam kini menguasai 50% dari bauran konsumsi daging di Amerika Serikat.

Grafik 5

5

Grafik 6

 6

Dalam hal keuntungan investasi salah satu perusahaan poultry yang listed di bursa saham Indonesia, PT Charoen Pokphand (CPIN), dalam mata uang Dolar AS menghasilkan keuntungan 7070% selama kurun waktu 10 tahun terakhir. Sebagai perbandingan selama periode yang sama investasi pada saham Apple ‘hanya’ menghasilkan keuntungan 1125% dan IHSG menghasilkan 309%.

Grafik 7

7

 

Kesimpulan
Walaupun bursa saham Indonesia telah naik secara signifikan sejak akhir November 2018 namun secara valuasi masih menarik terlebih bila dibandingkan dengan potensi pertumbuhan ekonomi Indonesia yang diprediksi tumbuh 5.1-5.2% tahun ini. Tingkat pertumbuhan ekonomi yang lebih baik pada akhirnya akan berimbas pada tingkat keuntungan perusahaan. Indonesia adalah salah satu pasar yang menjanjikan tingkat keuntungan yang lebih tinggi bila dibandingkan dengan kondisi di negara-negara maju. Bila dibandingkan dengan Cina, seperti telah dibahas di muka, kami percaya bahwa investor global lebih mengutamakan pasar Emerging Asia-ex China termasuk Indonesia pada tahun 2019 ini.

Tentunya volatilitas pasar sepanjang 2019 masih akan tinggi mengingat banyaknya ketidakpastian dan bahaya yang masih menghantui perekonomian global disamping belum jelasnya hasil akhir perundingan perang dagang antara AS dengan Cina. Faktor lain yang akan turut mempengaruhi volatilitas pasar di sepanjang 2019 adalah Brexit.


Pada akhirnya investasi adalah aktivitas jangka panjang yang menuntut fokus dan kesabaran. Kepercayaan anda sebagai investor adalah salah satu kunci utama keberhasilan investasi kami. Maka tetaplah berinvestasi bersama kami mengarungi tahun 2019.


Wassalam,
Edwin Ridwan, CFA, FRM

18 Februari 2019
Simulasi
Investasi
DISCLAIMER COPYRIGHT 2012 Danareksa All Rights RESERVED|
PT Danareksa Investment Management terdaftar dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Republik Indonesia | DISCLAIMER