Berita

Simulasi
Investasi

Pasar Finansial 2019 Pasca Pilpres : Bagaimana Menyikapi Ketidakpastian?

Pasar Finansial 2019 Pasca Pilpres : Bagaimana Menyikapi Ketidakpastian?


Pesta demokrasi terbesar sepanjang sejarah Indonesia yaitu Pemilu Serentak telah terlaksana dengan aman dan lancar pada 17 April 2019 lalu. Rakyat Indonesia pun telah menentukan pilihannya baik untuk anggota DPR, DPD, DPRD Provinsi, DPRD Kabupaten/Kota hingga Presiden dan Wakil Presiden. Walaupun hasil lengkap perhitungan suara masih harus menunggu beberapa waktu hingga 22 Mei mendatang, paslon 01 Jokowi-Ma’ruf masih unggul sejauh ini setelah lebih dari 100 juta suara masuk dan dihitung secara real-count.

Segera setelah Pemilu Serentak terlaksana, hasil Quick Count beberapa lembaga survei yang menunjukkan bahwa paslon Jokowi-Ma’ruf adalah pemenang dari Pilpres 2019 awalnya direspon positif pasar keuangan dengan rally yang terjadi satu hari setelahnya. Namun, pasar seolah melakukan aksi jual sell-on-news sehingga IHSG anjlok lebih dari 5% dari level tertinggi tahun ini sebesar 6.636 hingga mencapai titik terendah di 6.261 walaupun akhirnya ditutup pada level 6.319 minggu lalu. Imbal hasil obligasi RI 10 tahun yang sempat rally menyentuh level 7.54% saat ini sudah melemah hingga 7.85%. Kurs Rupiah yang sempat menguat hingga 14.050 per USD sekarang kembali melemah bertengger di 14.265 per USD.

Mengapa pasar modal menyambut secara galau hasil pesta demokrasi yang merupakan peristiwa penting yang sudah ditunggu-tunggu selama ini? Sesuai dengan apa yang telah kami kemukakan dalam beberapa kesempatan, menurut hemat kami outlook pasar finansial Indonesia hingga penghujung tahun 2019 ini akan lebih dipengaruhi oleh faktor global daripada faktor domestik. Faktor global berupa arah kebijakan suku bunga the Fed, perlambatan ekonomi China, hasil perundingan China dengan Amerika Serikat dalam penyelesaian sengketa dagang serta rebalancing indeks MSCI Emerging Market pada bulan Mei dan Agustus akan menjadi faktor dominan penentu arah pasar finansial Indonesia hingga akhir tahun 2019. Bahkan faktor domestik yang berpotensi menggerakkan pasar saat ini seperti arah kebijakan suku bunga Bank Indonesia dan besaran Current Account Deficit pun sejatinya adalah hasil efek berantai dari dominasi faktor global melalui mekanisme spread suku bunga acuan dan kurs Rupiah terhadap USD.

Faktor domestik berupa pemilu yang pada periode lalu mampu menjadi faktor penentu arah pasar finansial Indonesia saat ini tampaknya tidak terlalu digubris pelaku pasar. Pasar keuangan terlihat masih menunggu hasil perundingan dagang China dengan Amerika Serikat atau arah kebijakan suku bunga The Fed untuk menentukan
sikap. Lalu bagaiamana investor harus menyikapi berbagai ketidakpastian yang terjadi?

God Portfolio

Bayangkan bila sebagai investor tepat sepuluh tahun yang lalu anda memiliki seorang manajer investasi yang memiliki pengetahuan sempurna laksana Tuhan mengenai saham-saham apa yang akan menghasilkan return terbaik selama kurun waktu 10 tahun hingga di tahun 2019 ini. Lalu anda membeli portfolio yang terdiri dari saham-saham berkinerja terbaik itu. Andaikan sang manajer investasi tersebut tahu bahwa BBCA akan menghasilkan return 828%, CPIN akan menghasilkan return 7940%, BBRI akan menghasilkan return 905% dan seterusnya, bagaimanakah portfolio yang kita sebut saja sebagai God Portfolio itu berkinerja selama kurun waktu 10 tahun perjalanannya?


Bahwa anda adalah salah satu orang yang beruntung karena memiliki God Portfolio adalah hal yang pasti. Tapi mari kita lihat menggunakan teknik back-testing apakah anda adalah salah satu orang yang paling senang karena memiliki portfolio dengan saham-saham berperforma terbaik selama masa sepuluh tahun itu?

Ternyata, God Portfolio pun tidak luput dari masa-masa sulit berupa negative return,  bahkan portfolio tersebut juga mengalami periode underperformance terhadap indeks IHSG selama berbulan-bulan. Walaupun pada akhirnya God Portfolio menghasilkan kinerja yang memuaskan dan mengalahkan tingkat pengembalian IHSG ternyata terdapat periode bulanan dimana portfolio yang dikelola oleh manajer investasi yang memiliki informasi sempurna sekalipun menghasilkan kerugian dan bahkan kalah dalam performa terhadap IHSG. Analisa terhadap God Portfolio menunjukkan bahwa sebagai investor anda harus bertahan untuk terus berinvestasi walaupun keadaan sedang tidak menentu. Bahkan bila portfolio anda dikelola oleh seorang manajer investasi dengan pengetahuan sempurna portfolio itu tetap akan mengalami masa-masa sulit. Pelajaran yang dapat diambil dari analisa sederhana ini adalah untuk mencapai keberhasilan seorang investor harus gigih bertahan menghadapi ketidakpastian dan masa-masa sulit. Bahkan dengan memiliki God Portfolio sekalipun tidak menjamin perjalanan anda dalam berinvestasi menjadi mudah dan selalu menyenangkan.

Grafik 1

Gambar Cio Mei CIO COMMENTARY-May -2019-Final

Light at The End of The Tunnel

Angka pertumbuhan ekonomi Indonesia kuartal I 2019 yang baru saja dirilis Pemerintah menunjukkan bahwa ekonomi hanya tumbuh 5.07% YoY, lebih lambat dari perkiraan pasar yang sebesar 5.20%. Pertumbuhan berada di bawah konsensus terutama disebabkan oleh perlambatan aktivitas investasi. Namun bila kita membandingkan angka pertumbuhan ekonomi kuartal I 2019 dengan angka-angka periode sebelumnya terlihat bahwa angka 5.07% adalah pertumbuhan ekonomi kuartal I tertinggi sejak 2015. Masih segar dalam ingatan kita bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia melambat pada 2015 akibat kenaikan suku bunga Bank Indonesia sejak medio 2013 hingga akhir 2014. Bank Indonesia mengerek suku bunga acuan sebanyak 200 bps dari 5.75% hingga 7.75% saat itu. Pertumbuhan kuartal I 2019 walaupun berada di bawah ekspektasi pasar memperlihatkan lanjutan tren yang meningkat dan semakin membaiknya laju pertumbuhan ekonomi Indonesia di tengah ketidakpastian global.

Grafik 2

Gambar Cio Mei 2

Kami percaya bahwa pada akhirnya kekuatan ekonomi Indonesia yang bertumpu pada kestabilan politik akan menghasilkan tingkat pertumbuhan yang relatif lebih baik daripada kebanyakan negara berkembang lainnya, apalagi terhadap pertumbuhan ekonomi negara-negara maju yang tergabung dalam G20. Pertumbuhan ekonomi itu pada gilirannya akan memberikan tingkat keuntungan yang memuaskan pada investor yang bertahan menanamkan investasinya pada portfolio asset Indonesia dalam keadaan sesulit apapun.

Investasi adalah aktivitas jangka panjang yang menuntut fokus dan kesabaran. Kepercayaan anda sebagai investor adalah salah satu kunci utama keberhasilan investasi kami. Maka tetaplah berinvestasi bersama kami.


Wassalam,
Edwin Ridwan, CFA, FRM

10 Mei 2019
Simulasi
Investasi
DISCLAIMER COPYRIGHT 2012 Danareksa All Rights RESERVED|
PT Danareksa Investment Management terdaftar dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Republik Indonesia | DISCLAIMER