Berita

Simulasi
Investasi

Pergerakan Indeks IHSG di Akhir Tahun, Apakah Lebih Baik?

Pergerakan Indeks IHSG di Akhir Tahun, Apakah Lebih Baik?

Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada tahun 2017 ini sering kali tertahan oleh faktor  domestik maupun faktor internasional, walaupun sampai dengan akhir September 2017 yang lalu kita tidak melihat adanya pergerakan ekstrim dari IHSG, pergerakan indeks sejak awal tahun cenderung naik. Memasuki kuartal IV 2017, apakah investasi saham lebih baik?

Baca juga:

Fenomena Window Dressing dan January Effect

Memasuki kuartal IV tahun 2017, kita melihat ada tren indeks saham yang cenderung membaik pada akhir tahun dan kuartal pertama di tahun berikutnya. Tren ini sering disebut dengan istilah “Window Dressing” akhir tahun dan “January Effect”. Kenaikan indeks menjelang tutup tahun ini perlu kita cermati pergerakannya dan kami coba tunjukkan pergerakan IHSG sejak periode 2006-2017 pertengahan di bawah ini:

Tahun

Periode Oktober - Desember

Periode Oktober - Maret +1

2006

18,09%

19,75%

2007

14,44%

1,99%

2008

-17,79%

-13,02%

2009

2,28%

12,08%

2010

4,41%

3,71%

2011

14,13%

23,08%

2012

1,90%

16,63%

2013

-1,65%

9,72%

2014

1,67%

7,35%

2015

7,95%

12,37%

2016

-3,06%

1,91%

Average p.a.

3,85%

8,69%

Dari tabel di atas terlihat bahwa pergerakan IHSG menjelang akhir tahun sejak tahun 2006 cenderung bergerak positif pada periode Oktober – Desember dengan imbal hasil rata-rata saham sebesar 3,85% dan Oktober – Maret (tahun berikutnya) dengan imbal hasil rata-rata saham sebesar 8,69%, walaupun ada pergerakan negatif di beberapa contoh di atas seperti tahun 2008 (krisis global sub-prime mortgage di AS) dan 2013 (sentimen negatif dari pernyataan Ben Bernanke atas wacana pengurangan stimulus).

Berinvestasi Pada Bulan Januari – September, Apakah Tidak Lebih Baik?

Dari data historikal tersebut di atas, kita bisa lihat bahwa dengan jangka waktu yang relatif pendek (3 bulan dan 6 bulan), IHSG dapat tumbuh positif. Dan istilah “Window Dressing” dan “January Effect” menjadi stigma yang setiap tahunnya dimanfaatkan oleh investor saham kebanyakan. Tapi apakah periode tersebut betul merupakan periode terbaik untuk investasi?

Mari kita coba lihat hasil investasi periode yang lebih panjang (9 bulan) setiap tahunnya, dimulai dari bulan Januari sampai September di bawah ini:

Tahun

Periode Januari - September

2006

30,97%

2007

28,46%

2008

-32,91%

2009

71,68%

2010

35,95%

2011

-4,79%

2012

11,90%

2013

-0,70%

2014

18,73%

2015

-19,43%

2016

20,02%

2017

11,84%

Average p.a.

14,31%

Dari tabel di atas, menarik bahwa investasi dengan periode lebih panjang (9 bulan) pada periode Januari – September setiap tahunnya, antara tahun 2006-2017, ternyata memberikan imbal hasil rata-rata yang lebih tinggi dibandingkan dengan periode yang disebut “Window Dressing” dan “January Effect”. Dan perbedaan imbal hasil rata-rata yang cukup signifikan dari 2 periode tersebut (14,31% dibandingkan dengan 3,85% dan 8,69%) menunjukkan bahwa berinvestasi lebih lama akan cenderung lebih menguntungkan (kecuali pada tahun dimana terdapat krisis/sentimen negatif)

Dari sini kita bisa simpulkan bahwa menentukan waktu yang tepat untuk berinvestasi saham berdasarkan momentum belum tentu memberikan kinerja yang lebih optimal. Namun, berinvestasi secara jangka panjang dengan disiplin bisa memberikan probabilitas untuk meningkatkan nilai portofolio kita lebih optimal.

Sebagai penutup, bagaimana kita berhasil dalam berinvestasi saham akan didasarkan dari:

  1. Tujuan Investasi/Target pertumbuhan investasi
  2. Disiplin dalam berinvestasi dalam setiap periode
  3. Diversifikasi strategi saham untuk mengurangi risiko berlebihan
09 Oktober 2017
Simulasi
Investasi
DISCLAIMER COPYRIGHT 2012 Danareksa All Rights RESERVED | DISCLAIMER