Berita

Simulasi
Investasi

Prinsip-prinsip Dasar Ekonomi Islam (Bagian 1)

Prinsip-prinsip Dasar Ekonomi Islam (Bagian 1)

Ilmu ekonomi dalam perspektif konvensional didesain untuk menganalisis perilaku manusia dalam memenuhi keinginan dan kebutuhannya yang tidak terbatas, dengan menggunakan faktor-faktor produksi yang terbatas. Sehingga ilmu ekonomi konvensional pada dasarnya berangkat dari kombinasi antara scarcity (kelangkaan) dan unlimited wants (keinginan yang tidak terbatas). Sebagai konsekuensinya, maka manusia harus melakukan choices (pilihan) dalam hal what to produce (apa yang akan diproduksi), how to produce (bagaimana cara memproduksi) dan for whom to produce (untuk siapa produksi ini).

Dalam konstruksi keilmuannya, maka landasan pengembangan ilmu ekonomi konvensional adalah paham rasionalisme dan empirisme dimana teori-teori yang dibangunnya harus memenuhi kaidah logis dan empiris, yang bebas dari intervensi nilai agama. Logis berarti sesuai dengan nalar dan pemikiran manusia, sementara empiris berarti dapat dibuktikan secara nyata. Peran nilai dianggap nihil kecuali memenuhi kaidah logis dan dapat dibuktikan secara empiris. Klaim yang dibangun adalah ilmu ekonomi konvensional adalah ilmu yang bebas nilai.

Namun demikian, jika menelaah kondisi riil, dalam proses memenuhi kebutuhan hidup, peran nilai sangat penting dan mempengaruhi usaha manusia. Nilai yang dianut oleh manusia akan mempengaruhi pola fikir dan pola tindakan manusia dalam kegiatan ekonomi yang dilakukannya. Karena itu, ilmu ekonomi adalah value loaded science (ilmu yang sarat dengan nilai) dan bukan menjadi ilmu yang bebas nilai atau tanpa nilai. Disinilah pentingnya memahami ekonomi dalam pendekatan Islam, bagaimana Islam mengatur sistem perekonomian yang akan melahirkan kebaikan dan manfaat bagi umat manusia. Namun demikian, pertanyaan mendasar terkait dengan pendekatan syariah ini adalah apakah yang menjadi titik berangkat ilmu ekonomi Islam juga adalah konsep scarcity sebagaimana pendekatan konvensional?

The departure point (titik berangkat) ilmu ekonomi Islam didasarkan pada konsepsi tentang bagaimana manusia melaksanakan tugasnya sebagai ‘Abdullah (hamba Allah) dan khalifatullah fil ardh (khalifah di muka bumi) dalam memakmurkan bumi dan memenuhi kebutuhan hidupnya, baik secara individu maupun secara kolektif. Jadi bukan semata-mata didasarkan pada kombinasi konsep keinginan manusia yang tidak terbatas dan kelangkaan sumberdaya sebagaimana pendekatan ekonomi konvensional.

Sebagai seorang hamba, manusia harus memiliki keyakinan bahwa Allah SWT telah menjamin rezeki seluruh hamba-Nya. Bahkan makhluk-makhluk yang lebih lemah dari manusia sekalipun telah dijamin rezekinya oleh Allah SWT karena Allah adalah Ar-Razzaq (Maha Pemberi Rezeki). Hal ini sebagaimana dinyatakan-Nya dalam Al-Quran Surat Al-Ankabut (29) ayat 60:

USM-1

Artinya: Dan berapa banyak binatang yang tidak (dapat) membawa (mengurus) rezekinya sendiri. Allah-lah yang memberi rezeki kepadanya dan kepadamu dan Dia Maha Mengetahui lagi Maha Mendengar.

Namun demikian, bukan berarti rezeki akan datang begitu saja tanpa usaha yang dilakukan manusia, karena jaminan rezeki tersebut harus disertai dengan ikhtiar (usaha).

Lalu, bagaimana cara manusia memenuhi kebutuhan hidupnya menurut Islam?

Nantikan penjelasannya pada edisi berikutnya.

#JendelaEkonomiIslamDIM

#UnitSyariahManagement

30 Mei 2018
Simulasi
Investasi
DISCLAIMER COPYRIGHT 2012 Danareksa All Rights RESERVED|
PT Danareksa Investment Management terdaftar dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Republik Indonesia | DISCLAIMER