Berita

Simulasi
Investasi

Prospek Investasi 2014

Prospek Investasi 2014

Kilas Balik 2013

 Tak terasa tahun 2013 telah berlalu dan berbagai peristiwa mewarnai pasar modal sepanjang tahun. Yang paling tampak adalah ketika Indeks Harga Saham Gabungan mencatat penutupan rekor tertinggi pada tanggal 20 Mei 2013 di level 5.214, yang kemudian turun lebih rendah. Dibandingkan dengan penutupan di tanggal 30 Desember 2013 di level 4.274, berarti IHSG sudah turun sekitar 18% dari puncaknya.

 Gejolak mulai terasa di pertengahan tahun ketika Bank Sentral Amerika Serikat (Fed) mengumumkan wacana kemungkinan pengurangan stimulus keuangan (tapering) di negaranya karena melihat prospek perbaikan ekonomi yang mulai tampak. Investor bereaksi berbondong-bondong kemudian keluar dari pasar emerging markets dan membanjiri pasar modal Amerika.

Hal ini tentu saja berimbas pada kondisi keuangan dan pasar modal domestik. Indeks pasar saham turun. Kepemilikan asing atas Surat Berharga Negara (SUN) juga turun dari Rp. 300 Triliun di bulan Mei 2013 menjadi sekitar Rp. 280 Triliun di bulan Agustus 2013. Hal ini kemudian juga  berimbas pada pelemahan Rupiah terhadap Dollar AS (saat ini kurs di kisaran Rp. 12.000-an).

Pada periode yang sama, inflasi bergerak naik di atas 8%. Bank Indonesia (BI) melakukan langkah menaikkan suku bunga hingga di level 7,5% saat ini guna stabilisasi makro ekonomi Indonesia. Situasi diatas tentu saja berimbas pada penurunan kinerja reksa dana pula. Dibandingkan dengan akhir tahun 2012, rata-rata kinerja Reksa Dana Saham masih minus lebih dari 3% dan Reksa Dana Pendapatan Tetap minus lebih dari 5%.

 

 Prospek Reksa Dana 2014

Bagaimana dengan prospek Reksa Dana tahun depan? Jawabannya: masih prospektif.

Tahun 2014 adalah tahun Pemilu, dan biasanya konsumsi masyarakat akan meningkat pula. Peningkatan konsumsi ini tentu saja menjadi faktor positif bagi pasar saham. Penurunan IHSG dari level di atas 5000-an di Mei 2013 ke level saat ini dengan P/E sekitar 13 menunjukkan valuasi IHSG saat ini menarik untuk masuk (time to buy).

Di sisi makro, inflasi diperkirakan akan lebih stabil di kisaran 4,5 - 5,5% dan suku bunga di level 7,5% di akhir tahun 2014, yang tentu saja berarti membawa imbas yang baik bagi pasar obligasi. Harapan stabilitas ini tampaknya juga dimiliki investor asing, dimana kepemilikan asing atas SUN kembali melonjak di level hampir Rp. 325 Triliun di akhir November 2013, jauh lebih tinggi dari level bulan Juli 2013 yang hanya Rp. 287 Triliun. Cadangan devisa negara mencapai hampir US$ 97 miliar di akhir November 2013, lebih tinggi dari bulan Juli 2013 yang tidak sampai US$ 93 miliar.

Dari sisi global, Amerika Serikat akan melakukan tapering di tahun 2014 ini seiring dengan semakin prospektifnya ekonomi negara tersebut. Harapan itu tampak dari membaiknya tingkat pengangguran yang tercatat sudah turun di 7% di akhir November 2013 (dari posisi tertinggi 10%) serta revisi pertumbuhan PDB Q3 2013 sebesar 4,1% yang lebih baik dari ekspektasi. Harapan recovery juga tampak pada ekonomi China, dimana data Purchasing Manager Index (PMI) per akhir November 2013 masih stabil tercatat di level 50,8 (angka di atas 50 dianggap sebagai angka ekspansif).

Mari kita lihat lebih jauh. Dalam jangka panjang, membaiknya motor ekonomi Amerika Serikat dan China tentu saja akan meningkatkan investasi dan demand impor mereka, yang pada gilirannya jelas akan membawa dampak positif bagi kenaikan ekspor negara-negara lain, termasuk Indonesia. Khususnya untuk Indonesia, apabila Pemilu juga berjalan lancar, maka pasar modal domestik sangat berpotensi untuk bergairah kembali setelah tapering dan Pemilu.

Dengan kata lain, prospek investasi di tahun 2014 masih sangat baik untuk jangka panjang. Kendati demikian, dapat dipahami bahwa ketidakpastian pasar modal dalam negeri masih perlu dicermati. Persoalan finansial global maupun dalam negeri tetap dapat memberikan imbas pada pasar modal domestik. Oleh karena itu, investor direkomendasikan untuk mulai menambah investasinya pada Reksa Dana Campuran. Mengapa? Karena Reksa Dana Campuran memberikan eksposur pada investor untuk dapat berinvestasi baik di pasar saham maupun pasar obligasi. Fleksibilitas yang dimiliki Reksa Dana Campuran dapat menambah bobot portofolionya di kedua pasar efek tersebut sesuai dengan momentum yang sedang terjadi.

Untuk menjawab kebutuhan investasi tersebut, PT. Danareksa Investment Management (DIM) telah memiliki produk Reksa Dana Campuran yang dapat direkomendasikan, yakni Danareksa Anggrek, Danareksa Anggrek Fleksibel, dan Danareksa Syariah Berimbang. Khusus Danareksa Syariah Berimbang, pengelolaan produk ini juga dijalankan sesuai kaidah Syariah.

Perlu diingat, investor sebaiknya tetap memilih jenis investasi reksa dana yang tepat, sesuai profil risiko, serta berorientasi jangka panjang. Jangan lupa pula untuk tetap memantau perkembangan ekonomi serta kondisi pasar.

01 Januari 2014
Simulasi
Investasi
DISCLAIMER COPYRIGHT 2012 Danareksa All Rights RESERVED|
PT Danareksa Investment Management terdaftar dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Republik Indonesia | DISCLAIMER