Berita

Simulasi
Investasi

Return on Investments vs. Return to Investors

Return on Investments vs. Return to Investors

Bagaimana efek pengambilan-keputusan berperan di dalam return bagi seorang investor?

Katakanlah seorang investor memutuskan berinvestasi dalam sebuah Reksa Dana. Salah satu cara untuk melihat berapa return sesungguhnya yang diterima oleh investor tersebut adalah dengan membandingkannya terhadap return dari Reksa Dana itu sendiri. Apakah return sesungguhnya itu lebih tinggi atau lebih rendah?

Dalbar Inc. dan Morningstar pernah melakukan penelitian perbandingan return yang sesungguhnya diterima investor terhadap return yang sejatinya dihasilkan oleh produk yang sama dalam rentang periode tertentu. Dalam hal ini, mereka mengambil sampel dari sebuah Reksa Dana yang berkinerja cemerlang, CGM Focus Fund, sebuah Reksa Dana yang dikelola oleh sebuah perusahaan manajer investasi di Boston, Amerika Serikat.

Dalam rentang tahun 2000-2010, produk CGM Focus Fund tersebut menghasilkan rata-rata return 11% per tahun. Namun dalam periode yang sama, para responden investor yang berinvestasi pada Reksa Dana tersebut mayoritas ternyata menikmati rata-rata return dibawah 11%, bahkan ada yang rata-rata hanya 4% per tahun. Berarti ada gap 7%. Ke mana yang 7% ini?

return versus

Dalbar Inc. dan Morningstar dalam laporannya “Quantitative Analysis of Investor Behavior (QAIB)” memperoleh fakta bahwa perbedaan atau gap yang timbul adalah karena investor sering mengambil keputusan untuk masuk/keluar di tengah-tengah, sedangkan angka return yang tertera dari Reksa Dana tersebut adalah angka kinerja untuk buy-and-hold.

Alasan keputusan masuk/keluar memang bisa bermacam-macam, misalnya: redemption karena butuh uang, profit-taking, rebalancing, atau investasi bulanan.

Namun faktor yang paling banyak ternyata adalah karena market-timing dalam rangka usaha mengejar performance setinggi-tingginya. Alih-alih mendapat return tinggi, performance yang tercipta justru banyak tergerus oleh pembayaran subscription/redemption fee. Yang lebih parah adalah ketika pasar sedang berfluktuasi sehingga banyak investor mengambil keputusan bersifat emosional. Akibatnya, mereka malah menjadi “buy high and sell low”. Di dalam penelitian di atas, Dalbar Inc. menyebutkan gap yang timbul adalah “cost of behavior”.

Memang betul, ada beberapa investor yang mampu memperoleh return di atas kinerja produk terkait yang dikarenakan investor tersebut kebetulan masuk/keluar di timing yang tepat. Akan tetapi perlu diingat, bahwa market-timing yang akurat sangat tidak mudah untuk dilakukan secara konsisten dalam jangka panjang, apalagi oleh khalayak investor pada umumnya yang mungkin terbatas akan akses perdagangan maupun informasi di pasar.

Kesimpulan, efek psikologis dapat berpengaruh di dalam mengambil keputusan berinvestasi, yang pada akhirnya berpengaruh pada return yang diterima. Tetaplah tenang di dalam berinvestasi. Susunlah rencana investasi jangka panjang dan tetap disiplin berinvestasi pada jalan tersebut.

REKSA DANA… YA DANAREKSA

DISCLAIMER :
INVESTASI MELALUI REKSA DANA MENGANDUNG RISIKO. CALON PEMODAL WAJIB MEMBACA DAN MEMAHAMI PROSPEKTUS SEBELUM MEMUTUSKAN UNTUK BERINVESTASI MELALUI REKSA DANA. KINERJA MASA LALU TIDAK MENCERMINKAN MASA DATANG. 

01 Oktober 2015
Simulasi
Investasi
DISCLAIMER COPYRIGHT 2012 Danareksa All Rights RESERVED|
PT Danareksa Investment Management terdaftar dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Republik Indonesia | DISCLAIMER