Berita

Simulasi
Investasi

Siapa Mau Yield Obligasi Negatif?

Siapa Mau Yield Obligasi Negatif?

Ketika seorang investor berinvestasi, tentunya ia ingin agar investasinya tersebut menghasilkan return atau yield yang positif. Entah itu instrumen dalam saham, deposito, obligasi, atau instrumen lainnya.

Namun akhir-akhir ini, kita mulai mendengar berita bahwa bank sentral dapat menurunkan suku bunganya tidak hanya nol %, namun hingga negatif. Sejak Juni 2014, bank sentral Eropa (European Central Bank – ECB) menurunkan suku bunga depositonya -0,1% pa dan di akhir 2015 kembali menurunkan suku bunga depositonya menjadi minus -0,3% pa. Apakah berarti seorang nasabah atau deposan yang menempatkan depositonya di bank menjadi minus?.

Suku bunga negatif berarti bank sentral akan mengenakan suku bunga negatif kepada sektor perbankan apabila bank tersebut menempatkan uang dalam deposito bank sentral. Dengan kata lain, sebuah bank justru harus membayar (bukan menerima) bunga ke bank sentral jika mereka menempatkan kelebihan dananya pada deposito di bank sentral. Manajemen bank biasanya tidak mau membebankan biaya bunga ini lebih jauh ke nasabahnya karena khawatir nasabah bank malah akan keluar menutup rekeningnya.

Oleh karena, nasabahnya biasanya masih menerima bunga yang amat sangat kecil atau bahkan nol saja. Nasabah terkadang memilih penempatan deposito saja (walau bunga nol) dengan anggapan deposito tersebut masih relatif lebih aman dibandingkan instrumen lainnya atau jika menyimpan sendiri.

Tujuan ECB melakukan kebijakan ini adalah untuk mendorong sektor perbankan agar aktif menyalurkan pinjaman dengan bunga rendah kepada nasabah-nasabahnya agar dana tersebut diputar kembali di sektor riil – dengan harapan akan memutar perekonomian secara keseluruhan.

Di sisi lain, kebijakan ini juga agar mendorong nasabah tidak hanya dananya di deposito saja, namun mau aktif untuk menginvestasikan dananya di sektor lain yang lebih berisiko. Bisa membuka bisnis (melalui pinjaman bunga rendah), berinvestasi di instrumen saham, atau instrumen berisiko lainnya. Bahkan ada yang mengatakan bahwa dibalik kebijakan ini adalah bank sentral ingin agar masyarakat juga lebih aktif membelanjakan dananya (daripada ditempatkan di deposito).

Dari sini dapat disimpulkan bahwa sebuah bank sentral mengenakan suku bunga negatif dengan tujuan agar perekonomian negara tersebut dapat berputar dan tumbuh.

Berita terakhir datang dari Jepang dimana bank sentral Jepang (Bank of Japan – BOJ) pada tanggal 29 Januari 2016 menurunkan suku bunganya minus -0,1% pa. Berarti, sektor perbankan yang menempatkan kelebihan dananya di deposito BOJ harus membayar bunga 0,1% pa. Berita tersebut langsung mendorong bursa Nikkei naik 3% pada hari yang sama.

Tujuan BOJ memang untuk mendorong pertumbuhan ekonomi yang stagnan, bahkan deflasi 2 dekade terakhir. BOJ mentargetkan inflasi 2% untuk sepanjang tahun 2016.

Di sisi lain, BOJ juga aktif melakukan pembelian kembali (buyback) obligasi pemerintahnya. Hal ini mengakibatkan likuiditas yang membanjir serta supply obligasi yang ketat di pasar. Supply obligasi yang berkurang di pasar mengakibatkan harga obligasi naik dan yield turun, bahkan hingga negatif. Obligasi pemerintah Jepang berjangka 10-tahun saat ini memberikan yield dengan minus -0,04% pa.

Siapa Mau Yield Obligasi Negatif?

Obligasi dengan yield negatif, berarti investor obligasi tersebut tidak akan menerima kembali uang investasinya secara penuh ketika obligasinya jatuh tempo (walau sudah termasuk penerimaan kupon). Memang agak terdengar aneh, namun ada kelompok jenis investor yang masih tetap mengincar investasi obligasi, walaupun dengan yield negatif.

Kelompok investor pertama adalah bank sentral, bisa bank sentral itu sendiri atau bank sentral negara lain, sebagai bagian dari cadangan devisa (forex reserve). Asuransi dan pengelola dana pensiun juga perlu berinvestasi obligasi untuk matching pemenuhan kewajiban pembayaran mereka (liability). Pihak perbankan mau tidak mau wajib pula membeli obligasi pemerintah sebagai alat pemenuhan kewajiban likuiditas (liquidity requirements).

Kelompok investor kedua adalah para investor asing yang masih melihat peluang profit dari membeli obligasi walau dengan yield negatif. Obligasi pemerintah Jepang dinyatakan dalam Yen. Investor asing akan happy membeli obligasi pemerintah Jepang tersebut jika mereka melihat mata uang Yen akan menguat. Hal ini ternyata memang terbukti; Yen menguat terhadap USD dari 121,6 (29 Jan) naik menjadi 114,9 (9 Feb) atau kurang dari 2 minggu. Profit dari penguatan Yen ini lebih dari cukup untuk menutup nilai yield yang negatif.

Misalnya, seorang investor asing dengan dana awal USD 1 juta menukarkan dananya menjadi Yen 121,6 juta (nilai tukar USD 1 = Yen 121,6). Dana ini kemudian dibelikan obligasi pemerintah Jepang dengan yield negatif.

Ketika Yen apresiasi menjadi USD 1 = Yen 114,9 maka ketika dikonversikan kembali ke USD akan menjadi USD 1.058.312,-. Selisih profit yang timbul sebesar USD 58.312,-. Keuntungan dari forex gain sebesar USD 58.312,- ini mungkin terasa masih lebih dari cukup untuk menutupi kerugian dari perdagangan obligasinya.

Kelompok investor ketiga adalah para investor yang mungkin sangat konservatif. Sebagai contoh kawasan Eurozone, dimana pasar saham Eropa turun 20%, harga komoditi yang terus melemah, serta risiko default yang tinggi pada obligasi korporasi – menimbulkan ketidakpastian yang tinggi. Situasi uncertainty ini tidak banyak memberikan pilihan investasi; selain suku bunga deposito nol (atau minus), pilihan obligasi pemerintah tampaknya menjadi alternatif safe haven di tengah ketidakpastian – walaupun dengan yield negatif.

Perhatian:

• Publikasi ini bukan merupakan suatu bentuk tawaran untuk menjual atau membeli efek atau derivatifnya yang termuat dalam publikasi ini. Isi dari publikasi ini bukan merupakan nasehat investasi kepada pihak manapun. Rekomendasi yang termuat dalam publikasi ini belum tentu sesuai untuk setiap calon investor. Meskipun seluruh  informasi yang termuat dalam publikasi ini diperoleh dari sumber yang kami percaya, namun kami tidak menjamin keakuratan dan kelengkapannya. Pendapat dan rekomendasi yang termuat dalam publikasi ini berlaku terbatas pada tanggal pembuatan dan setiap saat dapat berubah dan diubah oleh PT Danareksa Investment Management (“DIM”) tanpa pemberitahuan sebelumya. DIM tidak berkewajiban memperbaharui atau menambahi informasi yang termuat dalam publikasi ini. Publikasi ini ditujukan sebagai informasi dan tidak bertujuan untuk membentuk suatu dasar keputusan investasi. Investor harus menetapkan sendiri setiap keputusan sesuai dengan kebutuhan dan strategi investasi dengan mempertimbangkan masalah hukum, pajak dan akuntasi. DIM maupun setiap karyawan dan afiliasinya tidak bertanggung jawab terhadap setiap keputusan investasi yang diambil oleh investor.
• Hak milik atas bentuk dan isi presentasi ini sepenuhnya dilindungi oleh peraturan perundangan yang berlaku di Indonesia khususnya tentang hak cipta bagi kemanfaatan DIM. Tidak diperkenankan seorangpun melakukan fotokopi, menyalin, mereproduksi baik secara manual maupun elektronik atau dengan cara apapun sebagian atau seluruhnya yang dapat berakibat dokumen ini digandakan dan digunakan baik untuk tujuan ekonomis atau tujuan lainnya tanpa ada persetujuan terlebih dahulu dari DIM. Investasi melalui Reksa Dana mengandung risiko. Calon Pemodal wajib membaca dan memahami Prospektus sebelum memutuskan untuk berinvestasi melalui Reksa Dana.  Kinerja masa lalu tidak mencerminkan kinerja masa datang. Reksa Dana adalah produk pasar  modal dan BUKAN merupakan produk perbankan; BUKAN  merupakan bagian dari simpanan pihak ketiga yang terikat pada jangka waktu tertentu serta TIDAK termasuk objek dalam program penjaminan pemerintah.
11 Februari 2016
Simulasi
Investasi
DISCLAIMER COPYRIGHT 2012 Danareksa All Rights RESERVED|
PT Danareksa Investment Management terdaftar dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Republik Indonesia | DISCLAIMER