Berita

Simulasi
Investasi

Tips Ketika Nilai Investasi Turun

Tips Ketika Nilai Investasi Turun

Secara umum, pasar modal di dunia sedang turun sepanjang tahun 2015, tak terkecuali Indonesia. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sejak awal Januari 2015 sudah turun -15%.

Situasi mungkin masih diperparah dengan penurunan nilai tukar Rupiah plus kenaikan harga barang-barang. Para investor wajar saja jika merasa bingung dan bertanya-tanya apa yang harus dilakukan.

Satu hal yang pasti, investor jangan sampai panik dan malah mengambil keputusan emosional. Ada baiknya para investor tetap tenang dan melihat kembali portofolio yang dimilikinya serta mempertimbangkan beberapa langkah yang mungkin bisa dilakukan, antara lain:

1. Lihat Kembali Tujuan Investasi

Investasi sebaiknya dilakukan untuk jangka panjang. Meskipun saat ini pasar tampak sedang turun, namun dalam jangka panjang besar kemungkinan akan memberikan nilai positif. Sejarah pasar modal Indonesia menunjukkan ketika terjadi penurunan kinerja dalam satu periode biasanya akan disusul rebound di periode berikutnya (contoh tahun 2008 vs. tahun 2009).

Jangka waktu yang panjang akan memberikan kesempatan bagi pasar recovery ketika sedang fluktuasi. Data historis juga menunjukkan hasil investasi akan positif dalam jangka panjang.

investasi turun

2. Atur Kembali Komposisi Portofolio (Rebalancing)

Apabila investor merasakan situasi pasar saat ini kurang bersahabat, investor boleh mengurangi eksposur ekuitas dan mengalokasikan ke dalam produk Reksa Dana Pasar Uang. Selain memberikan rasa yang lebih aman ketika pasar sedang fluktuatif, Reksa Dana Pasar Uang juga memberikan kesempatan kepada investor untuk segera dapat masuk kembali ke pasar saham (melalui fasilitas switching) jika investor sudah merasa siap kembali serta jika kondisi pasar sudah lebih stabil.

3. Menambah Investasi

Banyak investor yang justru melihat penurunan pasar sebagai momen yang tepat untuk masuk ketika valuasi sedang murah. Jangan malah keluar ketika pasar sedang turun, apalagi jika investasi tersebut adalah untuk jangka panjang sebab malah akan menyebabkan investor ketinggalan ketika pasar rebound (seperti di tahun 2009 ketika IHSG rebound 86%).

investasi turun 2

4. Tetap Berinvestasi Secara Disiplin

Daripada pusing menebak-nebak kapan saatnya masuk atau keluar, investor dapat menempuh langkah investasi secara berkala terlepas ketika pasar sedang naik atau turun. Strategi ini yang lazim disebut dollar cost averaging (DCA) akan memberikan kesempatan bagi investor membeli jumlah unit investasi yang lebih banyak ketika pasar sedang turun, dan sebaliknya mendorong pertumbuhan nilai total investasi ketika pasar sedang naik.

Dengan kata lain, investor akan selalu memperoleh benefit dari berbagai situasi pasar yang ada.

5. Melihat Kembali Pos Pengeluaran

Di saat situasi ekonomi kurang menguntungkan, tidak ada salahnya apabila investor juga melihat kembali kondisi keuangan yang dimilikinya. Review kembali apakah ada pos-pos pengeluaran bulanan yang bisa dihemat. Pengeluaran-pengeluaran reguler yang kurang mendesak seharusnya masih bisa ditekan.

Melalui penghematan, paling tidak investor dapat memiliki ruang atau fleksibilitas di dalam pengelolaan anggaran keuangannya sebagai cushion untuk antisipasi ketika kondisi ekonomi kurang bersahabat.

Kesimpulan

Satu hal yang patut selalu diingat, siklus naik turun pasar adalah hal yang biasa. Yang terpenting adalah bagaimana antisipasi maupun reaksi dari investor. Tetap tenang, tetap teratur berinvestasi, rebalancing, serta tinjau kembali tujuan investasi dan kondisi keuangan dapat menjadi rekomendasi yang jangan diabaikan.

 

DISCLAIMER :
INVESTASI MELALUI REKSA DANA MENGANDUNG RISIKO. CALON PEMODAL WAJIB MEMBACA DAN MEMAHAMI PROSPEKTUS SEBELUM MEMUTUSKAN UNTUK BERINVESTASI MELALUI REKSA DANA. KINERJA MASA LALU TIDAK MENCERMINKAN MASA DATANG.

07 September 2015
Simulasi
Investasi
DISCLAIMER COPYRIGHT 2012 Danareksa All Rights RESERVED|
PT Danareksa Investment Management terdaftar dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Republik Indonesia | DISCLAIMER