Berita

Simulasi
Investasi

Ulasan Pasar 12 Oktober 2015

Ulasan Pasar 12 Oktober 2015

Mengacu pada hasil rapat FOMC bulan September, The Fed mengatakan bahwa outlook inflasi relatif stabil (kecil kemungkinan terjadi deflasi) di saat terjadinya penurunan harga minyak. Namun, inflasi saat ini masih jauh di bawah target 2%. Pejabat The Fed masih membutuhkan data lebih lanjut untuk mengonfirmasi bahwa perekonomian AS telah bergerak ke arah yang positif. Sejumlah anggota The Fed mengatakan bahwa suku bunga AS sebaiknya dinaikkan pada akhir tahun 2015.

market watch 12 oct 2015

Ekspor Jerman pada bulan Agustus mengalami penurunan sebesar 5.2% dibandingkan bulan sebelumnya. Penurunan ini juga disebabkan oleh melemahnya perekonomian di Cina (Cina tercatat sebagai partner dagang ketiga terbesar untuk Jerman). Dengan kondisi ini, muncul kekhawatiran akan dampak pada perekenomian di Zona Eropa secara keseluruhan. Jerman adalah kontributor utama perekonomian di Zona Eropa. Namun, beberapa analis mengatakan bahwa selain data ekspor perlu diperhatikan pula data konsumsi sebagai kontributor utama perekonomian.

Dari zona Asia Timur, cadangan devisa Cina pada kuartal III mengalami penurunan, sebagai dampak intervensi dari bank sentral Cina agar Yuan tidak mengalami penurunan lebih lanjut setelah dilakukan devaluasi mata uang. Per September 2015, cadangan devisa tercatat sebesar USD3,514 Triliun (turun sebesar USD43.3 Miliar dari bulan sebelumnya).

Pemerintah Indonesia telah mengeluarkan paket kebijakan ekonomi III yang berdampak positif pada sektor industri dan daya beli masyarakat. Program ini terdiri dari penurunan tarif listrik (pelanggan industri I3 dan I4), penurunan harga gas (industri pupuk, petrokimia, keramik, dsb efektif 1 Januari 2016), penurunan BBM (avtur & solar), perluasan penerima KUR, dan penyederhanaan izin pertanahan untuk kegiatan penanaman modal sampai 9M15, pendapatan pajak mencapai IDR686 Triliun (53% dari target 2015, -0.26% yoy). Kekurangan penerimaan pajak akan mencapai IDR120 Triliun atau 10% dari total target 2015.

Market View: 

Dengan penguatan Rupiah sebesar 8.1%wow setelah mendapatkan angin segar dari global, di mana adanya potensi mundurnya kenaikan suku bunga The Fed, IHSG mencatat kenaikan yang menggembirakan sebesar 9.1% dan ditutup di level 4,589. Kenaikan tercatat di semua sektor, dan sektor aneka industri (+24.3%wow) mencatatkan kinerja terbaik sedangkan sektor perkebunan hanya mencatatkan pertumbuhan sebesar +0.1%wow.

Untuk pasar obligasi, yield benchmark SUN 10 tahun turun sebesar 75bps dikarenakan sentimen global dan penguatan mata uang Rupiah. Untuk harga obligasi global pemerintah atau INDON bertenor 10 tahun juga mengalami penguatan dan yield turun ke level 4.24%. CDS 5-tahun Indonesia juga mengalami penurunan signifikan dan berada di level 225 dari sebelumnya 264.

Seminggu terakhir ini, arus dana asing yang masuk ke pasar saham mencapai USD161.8 Juta sedangkan untuk pasar obligasi, kepemilikan asing pada pasar SUN per tanggal 6 Oktober tercatat sebesar IDR 524 Triliun atau sebesar 37.7% dari total outstandingnya atau naik sebesar IDR397 Miliar.

Walaupun beberapa data indikator ekonomi domestik seperti kinerja penjualan semen, penjualan retail, serta penjualan otomotif menunjukkan perbaikan, kami tetap akan berhati-hati dalam menentukan strategi investasi. Kinerja para emiten untuk kuartal ke III akan keluar di bulan Oktober dan ini akan menjadi penentu kinerja IHSG beberapa pekan ke depan. Kami mengharapkan terjadinya perbaikan kinerja emiten walaupun kemungkinan kinerja tersebut masih dibawah pencapaian tahun lalu.

Dengan kenaikan IHSG selama seminggu terakhir, valuasi Indonesia sekarang berada di 13.4x untuk tahun 2016F, sedikit lebih tinggi dibanding level rata-rata selama 10 tahun terakhir. Kami menilai pergerakan saham maupun obligasi masih akan sangat bergantung pada kestabilan mata uang Rupiah, yang masih didominasi oleh perkembangan eksternal/global. Jika stabilitas mata uang dapat dijaga dan kebijakan pemerintah, terutama stimulus-stimulus ekonominya dapat dieksekusi dengan baik, ini tentunya akan berdampak positif terhadap ekonomi indonesia secara keseluruhan.

Kami juga berharap kebijakan stimulus ke-III pemerintah, seperti diskon tarif listrik, elpiji, dan bahan bakar solar dapat membantu perbaikan daya beli masyarakat . Hal ini dikarenakan kekuatan dari ekonomi Indonesia selama ini konsumsi domestik, yang mencapai 55% dari PDB. Oleh sebab itu, sangatlah penting pemerintah untuk memulihkan daya beli dan kepercayaan pasar akan ekonomi Indonesia.

DISCLAIMER :
INVESTASI MELALUI REKSA DANA MENGANDUNG RISIKO. CALON PEMODAL WAJIB MEMBACA DAN MEMAHAMI PROSPEKTUS SEBELUM MEMUTUSKAN UNTUK BERINVESTASI MELALUI REKSA DANA. KINERJA MASA LALU TIDAK MENCERMINKAN MASA DATANG.

12 Oktober 2015
Simulasi
Investasi
DISCLAIMER COPYRIGHT 2012 Danareksa All Rights RESERVED|
PT Danareksa Investment Management terdaftar dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Republik Indonesia | DISCLAIMER