Berita

Simulasi
Investasi

Ulasan Pasar 16 November 2015

Ulasan Pasar 16 November 2015

Pejabat The Fed, John William (anggota yang memiliki hak untuk voting) berpendapat bahwa besar kemungkinan terjadi kenaikan suku bunga pada pertemuan FOMC di bulan Desember. Namun, hal ini harus didukung oleh data perekonomian yang positif.

Data retail bulan Oktober hanya tumbuh 0.1%MoM, dibawah ekspektasi consensus (0.3%) vs +0.1% (mom) bulan September.

market watch 16 nov 2015

GDP Zona Eropa di 3Q tumbuh sebesar 0.3% (qoq) di bawah estimasi +0.4%, secara tahunan tumbuh sebesar 1.6%. Pertumbuhan ekonomi didorong oleh aktivitas konsumsi. Dua negara terbesar di zona Euro, Perancis mencatat perbaikan ekonomi dari kuartal kedua, namun Jerman menunjukkan penurunan dari kuartal II.

Data inflasi China di bulan Oktober tumbuh di bawah estimasi yaitu 1.3% (yoy) vs estimasi 1.5% yoy. Selain harga komoditas rendah, inflasi rendah juga mengindikasikan daya beli masih lemah. Diprediksi pemerintah China akan melakukan stimulus tambahan. Bank sentral China telah menurunkan tingkat suku bunga sebanyak 6 kali dari bulan November 2014 dan menurunkan rasio reserve requirement beberapa kali. 

Defisit transaksi berjalan Indonesia dalam neraca pembayaran pada  3Q15 membaik dari $ 4.2 miliar 2Q15 (1.95% terhadap GDP) menjadi $4 miliar (1.86% terhadap GDP). Perbaikan ini karena adanya perbaikan neraca perdagangan nonmigas (impor nonmigas masih menurun relatif tajam 18.2% yoy; ekspor nonmigas menurun 11% yoy) serta menurun defisit neraca jasa (impor jasa pengangkutan menurun; meningkatnya surplus jasa perca perjalanan).

Bank Indonesia meyakini inflasi di tahun bisa lebih rendah dari 3.6% hal ini karena hilangnya base effect dari tingginya inflasi November tahun lalu akibat kenaikan harga BBM. Menurut survey pemantauan harga yang dilakukan oleh BI pada minggu pertama November, inflasi menunjukkan tumbuh sebesar 4.8% yoy.

Market View:

Sejalan dengan mayoritas bursa di Asia dan minimnya katalis positif di dalam negeri, IHSG turun sebesar 2.05%wow pada pekan lalu. Berdasarkan performa, hanya sektor industri dasar yang mencatatkan kenaikan sebesar 0.29% dikarenakan angka penjualan semen yang bagus sejalan dengan berjalannya proyek-proyek infrastruktur.

Sektor yang mencatat kinerja terburuk adalah perkebunan (-7.38%wow) dan pertambangan (-6.12%) di mana untuk perkebunan, harga tertekan dengan tingginya inventory CPO di Malaysia dikarenakan lemahnya permintaan dari China dan Eropa, dan juga dikarenakan harga minyak yang terus menurun seiring lemahnya permintaan global.

Untuk obligasi, sejalan dengan membaiknya angka defisit transaksi berjalan (CAD) yang berada di level 1.86% dari PDB, terjadi switching dari obligasi bertenor pendek (dibawah 10 tahun) ke obligasi bertenor panjang. Hal ini berimplikasi pada menurunnya yield pada obligasi tenor 15 dan 20 tahun dan sebaliknya, yield meningkat untuk yang bertenor dibawah 10 tahun.

Untuk INDON, yield cenderung naik ke level 4.44% dengan naiknya angka CDS ke level 218% (+2.8%wow). Kepemilikan asing pada pasar SUN cenderung naik dibandingkan akhir bulan lalu (Rp528tn), per tanggal 11 November tercatat sebesar Rp532tn atau sebesar 37.4% dari total outstanding-nya.

Pasar masih dipengaruhi oleh sentiment dari luar. Jika dilihat dari data US yg keluar minggu lalu, yaitu data retail untuk bulan Oktober yang dibawah ekspektasi dan hanya tumbuh 0.1%MoM dari ekspektasi konsensus di 0.3%MoM. Dengan keluarnya data ini, konsensus kembali menurunkan ekspektasi kenaikan suku bunga di bulan Desember dari 72% ketika data nonfarm payroll keluar menjadi 64%.

Kami menyadari   resiko ketidakpastian itu tidak bisa dilawan, dan ekspektasi dari konsensus sendiri cenderung berubah dengan cepat dengan keluarnya data-data ekonomi. Akan tetapi, kita tahu bahwa ekonomi Indonesia mulai menunjukkan trend positif, seperti data semen, retail, otomotif, Rupiah yang mulai stabil dan fundamental Indonesia yang solid untuk jangka menengah dan panjang. Justru resiko yang paling besar yaitu resiko untuk tidak membeli karena kita akan kehilangan kesempatan dari kenaikan saham tersebut.

“Be Fearful When Others Are Greedy and Greedy When Others Are Fearful” (Warren Buffett).

DISCLAIMER :
INVESTASI MELALUI REKSA DANA MENGANDUNG RISIKO. CALON PEMODAL WAJIB MEMBACA DAN MEMAHAMI PROSPEKTUS SEBELUM MEMUTUSKAN UNTUK BERINVESTASI MELALUI REKSA DANA. KINERJA MASA LALU TIDAK MENCERMINKAN MASA DATANG.

16 Nopember 2015
Simulasi
Investasi
DISCLAIMER COPYRIGHT 2012 Danareksa All Rights RESERVED|
PT Danareksa Investment Management terdaftar dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Republik Indonesia | DISCLAIMER