Berita

Simulasi
Investasi

Ulasan Pasar 18 Agustus 2015

Ulasan Pasar 18 Agustus 2015

Setelah ekspor China di bulan Juli menurun sebesar 8.3% yoy, Bank Sentral China (PBoC) melakukan devaluasi mata uangnya sebesar 1.9%. Selain alasan daya saing, kebijakan devaluasi ini merupakan salah satu cara untuk membuat sistem finansial China lebih berorientasi ke pasar, dan ini sejalan dengan keinginan mereka bergabung ke dalam mata uang cadangan IMF.

market watch 18 agustus 2015

Dari Indonesia, Current Account Deficit (CAD) di 2Q lebih baik dibandingkan konsensus yaitu sebesar US$-4.471 juta vs estimasi US$-5.375 juta, atau CAD terhadap Growth Domestic Product (GDP) membaik bila dibandingkan dari 2Q14 yaitu dari -4.06% terhadap GDP menjadi -2.05%. Namun, karena faktor musiman, CAD terhadap GDP meningkat dari Q1-15 yaitu sebesar -1.81% di Q1-15. BI memprediksi CAD di 2015 akan sebesar  2.3% terhadap GDP.

Data penjualan retail AS mengalami perbaikan di bulan Juli naik sebesar 0.6% (tahunan) vs ekspektasi 0.5%. Positifnya data retail ini mengindikasikan bahwa perekonomian AS di kuartal III akan membaik. Meskipun pelemahan mata uang China akan membuat mata uang dollar semakin kuat yang akan berdampak pada ekspor AS, sejumlah ekonom memprediksi bahwa kenaikan tingkat suku bunga sebesar 25bps akan tetap terjadi di September atau Desember berdasarkan data tenaga kerja yang membaik.

Market View: 

Kinerja IHSG turun sebesar 3.88% selama 1 minggu dimana sektor Industri dasar mencatatkan penurunan terdalam sebesar 6.69%. Penurunan IHSG terutama dipengaruhi oleh melemahnya mata uang Rupiah sebagai imbas dari kebijakan devaluasi mata uang Yuan oleh PBoC, yang ditujukan untuk meningkatkan daya saing ekspor. Selain itu, devaluasi mata uang Yuan ini merupakan bagian dari perubahan kebijakan pemerintah China untuk menjadikan sistem finansial mereka menuju ke mekanisme pasar, diharapkan dapat memuluskan Yuan menjadi mata uang cadangan IMF (Special Drawing Rights). Akan tetapi, kebijakan devaluasi ini menyebabkan sentimen negatif di Asia dimana terjadi ketakutan akan perang mata uang dan persaingan bisnis yang akan merugikan industri domestik. Sebagai gambaran, ekspor Indonesia ke China berdasarkan data tahun 2014 sebesar 12.32% dari total ekspor, lebih rendah dibandingkan Korea Selatan (31.43%), Philippines (26.46%), Japan (21.49%), Malaysia (18.25%), dan Hong Kong (15.85%).

Kami menilai devaluasi mata uang Yuan menambah kompleksitas baru di pasar dan cenderung akan mempengaruhi mata uang negara-negara yang ekonominya lebih lemah seperti Indonesia. Hal ini tentunya akan memberikan  dampak yang negatif pada mata uang Rupiah lebih lama dari yang diharapkan. Akan tetapi, kami pikir fluktuasi mata uang di global tidak akan berlangsung lama karena negara-negara seperti China dan US memiliki kepentingan terhadap mitra dagangnya. Fluktuasi yang berkepanjangan cenderung akan merugikan negara yang bersangkutan sehingga butuh suatu keseimbangan. Hal ini tercermin dari intervensi PBoC untuk mencegah pelemahan yang lebih dalam pada mata uang Yuan setelah kebijakan devaluasinya. Kami juga melihat US akan melakukan hal serupa dengan menaikkan suku bunga secara hati-hati dan dengan lambat agar tidak menganggu kinerja ekspornya

Di samping itu, untuk perspektif jangka panjang, industri di Indonesia seharusnya diuntungkan dengan kebijakan PBoC. Dengan kembalinya daya saing produk China, ekonomi China akan membaik, dan akan berdampak positif pada Indonesia sebagai negara pengekspor bahan baku ke China, terutama ekspor produk-produk komoditas.

Untuk pasar obligasi, yield benchmark SUN 5 tahun (FR0069), 10 tahun (FR0070), 15 (FR0071), 20 (FR0068) tahun tercatat pada 8.259%, 8.657%, 8.976%, dan 9.023%. Di samping itu, yield INDON 10 tahun (INDON 25) berada di level 4.348%. Yield tersebut cenderung meningkat dibandingkan yield minggu lalu, terutama karena melemahnya nilai tukar rupiah yang dipengaruhi oleh aksi devaluasi mata uang China (Yuan). Kepemilikan asing pada pasar SUN tercatat meningkat dibandingkan akhir bulan lalu, per tanggal 12 Agustus tercatat sebesar IDR 539.73 tn atau 39.15% dari total outstandingnya.

DISCLAIMER :
INVESTASI MELALUI REKSA DANA MENGANDUNG RISIKO. CALON PEMODAL WAJIB MEMBACA DAN MEMAHAMI PROSPEKTUS SEBELUM MEMUTUSKAN UNTUK BERINVESTASI MELALUI REKSA DANA. KINERJA MASA LALU TIDAK MENCERMINKAN MASA DATANG.

18 Agustus 2015
Simulasi
Investasi
DISCLAIMER COPYRIGHT 2012 Danareksa All Rights RESERVED|
PT Danareksa Investment Management terdaftar dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Republik Indonesia | DISCLAIMER