Berita

Simulasi
Investasi

Ulasan Pasar 18 April 2016

Ulasan Pasar 18 April 2016

Inflasi Amerika Serikat (AS) di bulan Maret hanya meningkat sebesar 0.1%MoM (vs ekspektasi +0.2%). Meski harga minyak mengalami kenaikan, hal ini tidak dapat mendukung inflasi ke level yang diharapkan karena adanya penurunan terbesar sejak April 2009 di harga makanan. Kondisi ini mengindikasikan bahwa tren kenaikan inflasi masih lambat di Amerika Serikat .

Baca juga:

Data penjualan retail AS di bulan Maret mengalami penurunan sebesar 0.3%MoM (vs ekspektasi +0.1%). Data pejualan retail yang lemah serta beberapa data aktivitas ekonomi lainnya mengindikasikan bahwa perekonomian AS di kuartal I tumbuh melambat hanya sebesar 0.2%YoY vs pertumbuhan ekonomi di kuartal IV yang tumbuh sebesar 1.4%YoY. 

Zona Eropa terhindar dari deflasi, setelah di bulan Maret mencatat inflasi secara tahunan sebesar 0.0% (vs ekspektasi -0.1%). Membaiknya data inflasi lebih disebabkan oleh kenaikan harga minyak.

Perekonomian Tiongkok di kuartal I 2016 tumbuh sebesar 6.7% sesuai ekspektasi dan sejalan dengan target pemerintah bahwa ekonomi di tahun 2016 akan tumbuh berkisar 6.5%-7%.

reksadana danareksa ulasan pasar 18 april 2016

Neraca perdagangan Tiongkok di bulan Maret tercatat surplus sebesar USD29.6 miliar karena adanya peningkatan ekspor sebesar 11.5%YoY sedangkan impor mengalami penurunan sebesar 7.6%YoY.

Dari Indonesia, neraca perdagangan di bulan Maret tercatat surplus sebesar USD479 juta. Neraca migas masih tercatat defisit USD300.7 juta sedangkan neraca non-migas tercatat surplus sebesar USD797.7 juta. Ekspor bulan Maret tercatat sebesar USD11.79 miliar (+4.3%MoM; -13.51%YoY). Impor tercatat sebesar USD11.3 miliar (+11.01%MoM; -10.41%YoY).

RUU tax amnesty diprediksi akan selesai pada 29 April. Setelah melakukan rapat konsultasi antar DPR dengan presiden, pemerintah mengklaim telah memiliki data-data berupa nama, alamat dan nomor paspport atas wajib pajak yang potensial untuk melakukan amnesti pajak.

Bank Indonesia (BI) akan melakukan perubahan kebijakan moneter berkaitan dengan suku bunga acuan yang efektif pada tanggal 19 Agustus 2016. Instrumen suku bunga acuan tidak lagi BI rate tetapi akan menggunakan reverse repo rate 7 hari yang dapat mempengaruhi suku bunga jangka pendek di pasar uang karena BI menilai BI rate tidak dapat menurunkan suku bunga perbankan.

Market View : 

Minimnya katalis positif untuk pasar saham menjadi pendorong melemahnya IHSG sebesar 0.48% dalam sepekan terakhir. IHSG ditutup di level 4.824. Pasar juga masih mengantisipasi kenaikan Non Performing Loan (NPL), menurunnya suku bunga pinjaman dan deposito, dan Net Interest Margin (NIM) untuk sektor perbankan. Salah satu yang mendasari juga akan penggantian suku bunga acuan (benchmark rate) yang sebelumnya BI rate menjadi reverse repo rate 7 hari. Hal ini diekspektasi akan semakin mempercepat penurunan suku bunga pinjaman dan deposito.

Di saat sektor keuangan yang mendapatkan tekanan penjualan dengan alasan di atas (-3.15%), sektor industri dasar menjadi penopang indeks (+1.69%) karena sektor ini merupakan salah satu yang dianggap akan diuntungkan dengan adanya penurunan suku bunga kredit ke depannya. Asing mencatatkan net sell sebesar USD 34.78 juta.

Berbeda dengan pasar saham, harga obligasi Surat Utang Negara (SUN) cenderung mengalami kenaikan.  Yield benchmark 10 tahun (FR0056) tercatat pada level 7.38%. Penurunan imbal hasil (yield) menyusul keberhasilan lelang obligasi Negara yang mengumpulkan permintaan sebesar Rp 32 triliun (vs Rp 16 triliun pada lelang sebelumnya) dengan total yang dimenangkan sebesar Rp 18 triliun. Investor asing masih menunjukan minat yang besar pada pasar obligasi Negara yang ditunjukan oleh peningkatan foreign bid to total bid ratio dari 13.9% pada lelang sebelumnya menjadi 35.8% pada lelang minggu ini. Disamping itu, keputusan BI untuk mengganti suku bunga acuan juga dianggap positif oleh pasar karena diharapkan dapat membuat transmisi kebijakan moneter menjadi lebih efektif.

Untuk yield INDON 10 tahun (INDON 26) bergerak turun ke level 3.91% sedangkan yield US Treasury 10 tahun cenderung flat di level 1.77% (dibandingkan dengan posisi per 8 April 2016 yaitu 4.09% dan 1.79%). Turunnya yield INDON 26 sejalan dengan turunnya premi resiko Indonesia yang terefleksikan dalam Credit Deafult Swap (CDS) 5 tahun yang turun ke level 199 bps (vs 206 bps pada akhir minggu lalu).

Sementara itu Rupiah ditutup pada level 13,178 per US Dollar melemah 0.25% dari minggu lalu

Kepemilikan asing pada pasar SUN per tanggal 14 April 2016 tercatat sebesar Rp619.57 Triliun atau sebesar 38.92% dari total outstanding-nya, naik dibandingkan posisi per tanggal 4 April 2016 yaitu sebesar Rp610.22 triliun (38.86% dari total outstanding-nya).

Ke depan, ekspektasi pasar untuk pasar saham masih tergantung dengan data PDB dan kinerja emiten untuk kuartal I-2016. Data-data ini akan dirilis dari akhir bulan April hingga bulan Mei. Untuk pasar obligasi, penurunan suku bunga di dalam negeri serta imbal hasil yang negatif di kawasan zona Eropa dan Jepang masih akan menjadi katalis.

Market Data

JCI Indonesia IDR 10yr (%) Indonesia USD 10yr (10%) US Treasury 10yr (%) USD/IDR
4.824 7.38 3.91 1.77 1.178

Economic Data

Indonesia CPI (%yoy) Indonesia CPI (%mom) BI Rate (%)
4.45 0.19 6.75

Selamat berinvestasi!

Perhatian:
• Publikasi ini bukan merupakan suatu bentuk tawaran untuk menjual atau membeli efek atau derivatifnya yang termuat dalam publikasi ini. Isi dari publikasi ini bukan merupakan nasehat investasi kepada pihak manapun. Rekomendasi yang termuat dalam publikasi ini belum tentu sesuai untuk setiap calon investor. Meskipun seluruh  informasi yang termuat dalam publikasi ini diperoleh dari sumber yang kami percaya, namun kami tidak menjamin keakuratan dan kelengkapannya. Pendapat dan rekomendasi yang termuat dalam publikasi ini berlaku terbatas pada tanggal pembuatan dan setiap saat dapat berubah dan diubah oleh PT Danareksa Investment Management (“DIM”) tanpa pemberitahuan sebelumya. DIM tidak berkewajiban memperbaharui atau menambahi informasi yang termuat dalam publikasi ini. Publikasi ini ditujukan sebagai informasi dan tidak bertujuan untuk membentuk suatu dasar keputusan investasi. Investor harus menetapkan sendiri setiap keputusan sesuai dengan kebutuhan dan strategi investasi dengan mempertimbangkan masalah hukum, pajak dan akuntasi. DIM maupun setiap karyawan dan afiliasinya tidak bertanggung jawab terhadap setiap keputusan investasi yang diambil oleh investor.
• Hak milik atas bentuk dan isi presentasi ini sepenuhnya dilindungi oleh peraturan perundangan yang berlaku di Indonesia khususnya tentang hak cipta bagi kemanfaatan DIM. Tidak diperkenankan seorangpun melakukan fotokopi, menyalin, mereproduksi baik secara manual maupun elektronik atau dengan cara apapun sebagian atau seluruhnya yang dapat berakibat dokumen ini digandakan dan digunakan baik untuk tujuan ekonomis atau tujuan lainnya tanpa ada persetujuan terlebih dahulu dari DIM. Investasi melalui Reksa Dana mengandung risiko. Calon Pemodal wajib membaca dan memahami Prospektus sebelum memutuskan untuk berinvestasi melalui Reksa Dana.  Kinerja masa lalu tidak mencerminkan kinerja masa datang. Reksa Dana adalah produk pasar  modal dan BUKAN merupakan produk perbankan; BUKAN  merupakan bagian dari simpanan pihak ketiga yang terikat pada jangka waktu tertentu serta TIDAK termasuk objek dalam program penjaminan pemerintah.
18 April 2016
Simulasi
Investasi
DISCLAIMER COPYRIGHT 2012 Danareksa All Rights RESERVED|
PT Danareksa Investment Management terdaftar dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Republik Indonesia | DISCLAIMER