Berita

Simulasi
Investasi

Ulasan Pasar 19 Oktober 2015

Ulasan Pasar 19 Oktober 2015

Data-data ekonomi yang dirilis selama sepekan ini menunjukkan bahwa perekonomian Amerika Serikat masih mengalami pertumbuhan yang lambat. Penjualan retail hanya tumbuh sebesar 0.1% di bulan September versus estimasi 0.2%. Inflasi di bulan September mengalami penurunan terbesar selama 8 bulan terakhir yaitu -0.2% (sesuai ekspektasi). Inventory tercatat flat di bulan Agustus. Hal ini mengindikasikan perusahaan memiliki kekhawatiran terhadap penjualan mereka (dampak ekonomi melambat).

market watch 19 oct 2015

William Dudley (pejabat Fed) mengatakan bahwa kenaikan suku bunga akan terjadi di tahun 2015 bila perekonomian AS tumbuh sesuai target, namun data terakhir seperti persediaan, apresiasi dolar dan perekonomian global yang lemah menyebabkan AS sulit mencapai target. Mengenai inflasi, Dudley yakin bila tingkat pengangguran terus menurun akan berdampak positif pada inflasi.

Perekonomian Cina di Q3 diestimasi hanya tumbuh 6.8% terendah sejak 2009. Estimasi ini mengalami penurunan bila dibandingkan realisasi Q2 sebesar 7%. Pemerintah diharapkan akan kembali menerapkan kebijakan ekonomi longgar untuk menyokong pertumbuhan ekonomi yang melambat.

Pemerintah Indonesia mengeluarkan paket kebijakan ekonomi IV yang berisi formula untuk menetapkan gaji minimum berdasarkan inflasi dan real GDP. Adanya formula seperti ini, diharapkan iklim investasi dan dunia usaha semakin kondusif. Neraca perdagangan di bulan September tercatat surplus sebesar USD1.02 miliar (vs estimasi USD400 juta), ekspor turun 18% yoy (-1.6% mom) sedangkan impor mengalami kontraksi lebih dalam -26% yoy (-7.2% mom). Surplus neraca perdagangan di 3Q15 mencapai USD2.7 miliar (vs USD2.1 miliar di 2Q15) sehingga CAD dapat menyempit di level 1.9% terhadap GDP (vs -2.1% GDP di 2Q15). BI rate tetap berada di level 7.5%. Diprediksi penurunan tingkat suku bunga akan terjadi di tahun depan setelah inflasi mencapai target.

Market View:

Untuk seminggu terakhir, tidak banyak katalis selain konsolidasi dari pasar modal setelah mengalami penguatan yang signifikan di minggu sebelumnya. Untuk pasar saham, IHSG melemah sebesar 1.47% dimana penguatan hanya terjadi pada sektor perkebunan (+3.37%wow). Arus dana asing tercatat keluar sebesar USD10.4 juta, relatif kecil dibandingkan dengan arus masuk sebesar USD146 juta pada pekan sebelumnya.

Katalis untuk pasar saham dalam bulan ini terutama dari laporan keuangan kuartal ke-III emiten yang diprediksi sedikit lebih baik dibanding kuartal sebelumnya tapi dibawah performa tahun lalu. Untuk sektor perbankan, Bank Negara Indonesia telah mengeluarkan laporan kinerjanya dimana terjadi kenaikan yang signifikan dibanding kuartal sebelumnya terutama dari sisi operasional yang membaik dan provisi yang lebih rendah, tetapi kinerja masih turun sebesar 22% dibandingkan tahun lalu untuk periode yang sama.

Valuasi pasar saham Indonesia masih berada di kisaran 13.4x untuk tahun buku 2016, yang masih berada dibawah rata-rata P/E selama 10 tahun terakhir (berdasarkan Bloomberg).

Untuk pasar obligasi, bersamaan dengan pelemahan mata uang Rupiah sebesar 0.97%wow, yield SUN 10 tahun tercatat pada 8.63%,naik dibandingkan kinerja minggu sebelumnya. Untuk INDON 10 tahun, yield cenderung mengalami penurunan dan berada pada level 4.11% dikarenakan penurunan angka CDS ke 215.

Indonesia: BI rate tetap berada di level 7.5%. Untuk mendukung pertumbuhan ekonomi yang melambat, belanja pemerintah menjadi salah satu tumpuan terbesar. Opsi penurunan suku bunga dalam waktu dekat juga relatif kecil karena depresiasi mata uang Rupiah dan ketidakpastian ekonomi.

Kami menilai pasar modal Indonesia masih akan mengalami volatilitas dan cenderung dipengaruhi oleh perkembangan global terutama dari AS dan Cina. Untuk domestik, stimulus ke IV dari pemerintah dinilai positif karena memberikan kepastian pada dunia usaha terutama mengenai UMP yang akan didasarkan pada inflasi dan real GDP.

Kami tetap meyakini fundamental jangka menengah-panjang Indonesia yang menarik dan prospektif yang tentunya akan berdampak positif pada pasar modal. Stay invested

DISCLAIMER :
INVESTASI MELALUI REKSA DANA MENGANDUNG RISIKO. CALON PEMODAL WAJIB MEMBACA DAN MEMAHAMI PROSPEKTUS SEBELUM MEMUTUSKAN UNTUK BERINVESTASI MELALUI REKSA DANA. KINERJA MASA LALU TIDAK MENCERMINKAN MASA DATANG.

19 Oktober 2015
Simulasi
Investasi
DISCLAIMER COPYRIGHT 2012 Danareksa All Rights RESERVED|
PT Danareksa Investment Management terdaftar dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Republik Indonesia | DISCLAIMER