Berita

Simulasi
Investasi

Ulasan Pasar 2 Mei 2016

Ulasan Pasar 2 Mei 2016

Perekonomian Amerika Serikat hanya tumbuh sebesar 0.5%YoY lebih rendah dibandingkan ekspektasi 0.7%YoY. Pertumbuhan di level ini merupakan yang terendah sejak Q1 2014. Perlambatan ekonomi ini disebabkan melemahnya belanja konsumen serta penguatan dollar yang berdampak negatif terhadap kinerja ekspor. Namun, perlambatan ekonomi  diprediksi hanya bersifat sementara mengingat adanya pemulihan di sektor tenaga kerja.

Hasil dari pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC) memutuskan suku bunga tidak mengalami perubahan. Hal ini karena data perekonomian Amerika Serikat cenderung mixed, pasar tenaga kerja dan perumahan mengalami perbaikan namun investasi bisnis dan ekspor masih mengalami perlambatan. 

Data penting yang akan dirilis adalah nonfarm payroll di bulan April, diestimasi akan meningkat sebesar 200.000 (vs 215.000 bulan Maret), data ini akan dirilis tanggal 6 Mei 2016.

Baca juga:

Eropa mencatatkan deflasi 1.1%YoY; inflasi 0.7%MoM (dibawah ekspektasi konsensus. Di samping itu, Eropa juga merilis PDBnya yang tumbuh 1.3%YoY; 0.5%QoQ (di atas ekspektasi).

Data manufaktur Tiongkok bulan April akan dirilis pada bulan Mei. Caixin China Purchasing Managers Index (PMI) manufacturing (dirilis tanggal 3 Mei) diprediksi akan sedikit mengalami peningkatan menjadi 49.8 (vs 49.7 bulan Maret). Manufacturing PMI berada pada level 50.1 (vs 50.2 bulan Maret), sedikit dibawah ekspektasi konsensus tapi level ini menunjukkan manufacturing China berada pada level ekspansi.

reksadana danareksa ulasan pasar 2 mei 2016

Pemerintah Indonesia mengeluarkan paket kebijakan ekonomi 12 yang bertujuan untuk meningkatkan peringkat kemudahan dalam berbisnis. Ada 10 indikator untuk mengukur kemudahan dalam berbisnis, total jumlah prosedur yang sebelumnya berjumlah 94 prosedur dipangkas menjadi 49 prosedur. Total waktu untuk mendapatkan ijin dikurangi dari 1.566 hari menjadi 132 hari.

Data-data yang akan dirilis adalah :

1. Inflasi di bulan April (tanggal 2 Mei) yang diprediksi hanya tumbuh sebesar 3.78% secara tahunan (vs 4.45% di bulan Maret).

2. Nikkei Indonesia PMI Manufacturing menunjukkan kegiatan manufacturing dalam kondisi ekspansi. Indeks berada pada level 50.9 vs. 50.6 di bulan Maret.

Market View : 

Pada minggu ini, aksi jual melanda hampir seluruh bursa di kawasan regional dan global. Salah satu pendorong aksi penjualan adalah data pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) AS yang hanya mencapai 0.5%YoY di bawah ekspektasi pasar dan juga, Bank Sentral Jepang yang sementara menghentikan program stimulusnya walaupun kondisi perekonomiannya yang masih lemah. Kedua hal ini membuat para pelaku pasar pesimis dengan pertumbuhan perekonomian global.

Dari domestik sendiri, laporan kinerja keuangan kuartal 1 sebagian besar sesuai dengan ekspektasi, dan terutama perusahaan-perusahaan sektor konsumsi selain Unilever Indonesia, mencatatkan kinerja yang di atas ekspektasi konsensus. IHSG akhirnya ditutup turun sebesar 1.55% wow atau ditutup di level 4.839.

Berdasarkan sektor, hampir seluruh sektor mengalami penurunan. Sektor aneka industri dan industri dasar adalah sektor yang mengalami penurunan paling tajam yaitu sebesar 7.01% wow dan 2.77% wow. Arus dana asing juga tercatat keluar dari pasar saham sebesar USD 118,4 juta.

Untuk pasar obligasi, yield benchmark SUN 10 tahun tercatat pada 7.67%. Di samping aksi profit taking yang melanda pasar SUN, pernyataan yang dikeluarkan oleh Kepala Biro Fiskal Kementrian Keuangan bahwa pemerintah berencana memperbesar budget defisit ke 2.5% dari Growth Domestic Product (GDP) dalam RAPBN-P membuat potensi oversupply di pasar obligasi meningkat dan memberi sentimen negatif.

Untuk INDON 10 tahun (INDON 26), yield bergerak naik ke level 3.93% sedangkan yield US Treasury 10 tahun bergerak cenderung flat di level 1.83 % (dibandingkan dengan posisi per 22 April 2016 yaitu 3.89% dan 1.86%). Keputusan the Fed untuk mempertahankan suku bunga Fed Fund Rate (FFR) pada FOMC meeting minggu lalu kemungkinan sudah terefleksikan oleh pergerakan yield UST yang cenderung flat. Sementara itu , premi risiko Indonesia yang terefleksikan dalam Credit Default Swap (CDS) 5 tahun bergerak cenderung flat di  level 191 bps.

Sementara itu Rupiah ditutup pada level 13,194 per US Dollar melemah 0.12% dari minggu lalu.

Kepemilikan asing pada pasar Surat Utang Negara (SUN) per tanggal 28 April 2016 tercatat sebesar Rp624.95 Triliun atau sebesar 38.78% dari total outstanding-nya, naik dibandingkan posisi per tanggal 22 April 2016 yaitu sebesar Rp622.42 triliun (38.94% dari total outstanding-nya).

Dengan dirilisnya kinerja emiten yang sebagian besar sesuai ekspektasi, pasar akan menantikan katalis berikutnya berupa data pertumbuhan PDB kuartal 1. Memasuki bulan Mei ini juga, diekspektasikan pemeringkat rating S&P akan mereview pandangan mereka untuk surat utang negara. Selain itu, DPR juga diekspektasikan akan mulai melakukan pembahasan UU Pengampunan Pajak (Tax Amnesty).

Market Data

JCI Indonesia IDR 10yr (%) Indonesia USD 10yr (10%) US Treasury 10yr (%) USD/IDR
 4.839 7.67  3.93  1.83  13.194

Economic Data

Indonesia CPI (%yoy) Indonesia CPI (%mom) BI Rate (%)
 4.45  0.19  6.75

Selamat berinvestasi!

Perhatian:
• Publikasi ini bukan merupakan suatu bentuk tawaran untuk menjual atau membeli efek atau derivatifnya yang termuat dalam publikasi ini. Isi dari publikasi ini bukan merupakan nasehat investasi kepada pihak manapun. Rekomendasi yang termuat dalam publikasi ini belum tentu sesuai untuk setiap calon investor. Meskipun seluruh  informasi yang termuat dalam publikasi ini diperoleh dari sumber yang kami percaya, namun kami tidak menjamin keakuratan dan kelengkapannya. Pendapat dan rekomendasi yang termuat dalam publikasi ini berlaku terbatas pada tanggal pembuatan dan setiap saat dapat berubah dan diubah oleh PT Danareksa Investment Management (“DIM”) tanpa pemberitahuan sebelumya. DIM tidak berkewajiban memperbaharui atau menambahi informasi yang termuat dalam publikasi ini. Publikasi ini ditujukan sebagai informasi dan tidak bertujuan untuk membentuk suatu dasar keputusan investasi. Investor harus menetapkan sendiri setiap keputusan sesuai dengan kebutuhan dan strategi investasi dengan mempertimbangkan masalah hukum, pajak dan akuntasi. DIM maupun setiap karyawan dan afiliasinya tidak bertanggung jawab terhadap setiap keputusan investasi yang diambil oleh investor.
• Hak milik atas bentuk dan isi presentasi ini sepenuhnya dilindungi oleh peraturan perundangan yang berlaku di Indonesia khususnya tentang hak cipta bagi kemanfaatan DIM. Tidak diperkenankan seorangpun melakukan fotokopi, menyalin, mereproduksi baik secara manual maupun elektronik atau dengan cara apapun sebagian atau seluruhnya yang dapat berakibat dokumen ini digandakan dan digunakan baik untuk tujuan ekonomis atau tujuan lainnya tanpa ada persetujuan terlebih dahulu dari DIM. Investasi melalui Reksa Dana mengandung risiko. Calon Pemodal wajib membaca dan memahami Prospektus sebelum memutuskan untuk berinvestasi melalui Reksa Dana.  Kinerja masa lalu tidak mencerminkan kinerja masa datang. Reksa Dana adalah produk pasar  modal dan BUKAN merupakan produk perbankan; BUKAN  merupakan bagian dari simpanan pihak ketiga yang terikat pada jangka waktu tertentu serta TIDAK termasuk objek dalam program penjaminan pemerintah.
02 Mei 2016
Simulasi
Investasi
DISCLAIMER COPYRIGHT 2012 Danareksa All Rights RESERVED|
PT Danareksa Investment Management terdaftar dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Republik Indonesia | DISCLAIMER