Berita

Simulasi
Investasi

Ulasan Pasar 23 Mei 2016

Ulasan Pasar 23 Mei 2016

Hasil notula dari pertemuan pejabat the Fed tanggal 26-27 April memberi indikasi akan kenaikan suku bunga di bulan Juni jika ekonomi menunjukkan pemulihan. Mengacu pada survei Bloomberg, hanya 28% ekonom memproyeksikan akan terjadi kenaikan suku bunga di bulan Juni.

Leading Economic Index meningkat sebesar 0.6%MoM di bulan April (vs ekspektasi 0.4%).

Baca juga:

Zona Eropa masih mengalami deflasi sebesar 0.2%YoY, namun hal ini masih sesuai ekspektasi.

Ekonomi Jepang di kuartal-I tumbuh sebesar 1.7%YoY melebihi ekspektasi 0.2%.

Dari Indonesia, rapat dewan gubernur yang berlangsung tanggal 18-19 Mei 2016 memutuskan untuk mempertahankan BI rate di level 6.75%, 7-day reverse repo rate tetap berada di level 5.5%.

reksadana danareksa ulasan pasar 23 mei 2016

Bank Indonesia akan kembali melakukan pelonggaran moneter dalam meningkatkan kredit yang terdiri dari 3 yaitu, 1) pelonggaran rasio pemberian kredit terhadap nilai agunan (LTV) jika NPL di bawah 5%, 2) ada kemungkinan mengikutsertakan surat berharga dalam menghitung rasio pinjaman (Loan to funding ratio), 3) penyesuaian rasio UMKM.

- Bank Indonesia merevisi proyeksi perekonomian Indonesia tahun 2016 sebesar 5%-5.4% lebih rendah dari proyeksi sebelumnya sebesar 5.2%-5.6%. Di samping itu, neraca pembayaran Indonesia di tahun 2016 akan mengalami surplus, meski pada kuartal I-2016 tercatat defisit.

- Moody’s menaikan proyeksi Growth Domestic Product (GDP) Indonesia sebesar 30 bps menjadi 5% di tahun 2016 dan 5.2% di tahun 2017 karena adanya proyek infrastruktur.

- RUU tax amnesty diharapkan dapat disahkan pada 14 Juni 2016. Penetapan tarif menjadi hal krusial yang didiskusikan untuk mengesah RUU ini.

Market View : 

Setelah dirilisnya notula bulan April dari FOMC Meeting yang menunjukkan adanya kemungkinan kenaikan suku bunga di bulan Juni ini, pasar modal dan uang Indonesia maupun regional mengalami pelemahan. Walaupun di dalam notula tersebut juga menjelaskan bahwa kenaikan masih tetap bergantung pada data ekonomi ke depan seperti data ketenagakerjaan dan inflasi, pasar masih berspekulasi bahwa kemungkinan kenaikan akan terjadi di bulan Juni ini (survei konsensus menunjukkan kenaikan 10% ke 28%) sejak notula dirilis.

Untuk IHSG, seminggu terakhir indeks melemah 1.05% dan ditutup di level 4,712, di mana penurunan terbesar terjadi pada sektor perbankan dan infrastruktur (-2.25% dan -1.62%). Kenaikan hanya terjadi pada sektor properti (1.41%) dan perkebunan (0.41%). Asing kembali mencatatkan penjualan bersih sebesar US$29.45 juta. Ini merupakan minggu ke-empat asing melakukan penjualan terhadap pasar saham di Indonesia. Secara year-to-date, posisi asing masih mencatatkan pembelian bersih sebesar US$162 juta.

Setali tiga uang, untuk pasar obligasi, imbal hasil Surat Utang Negara (SUN) 10 tahun bergerak naik ke level 7.87%. Kenaikan imbal hasil juga sejalan dengan alasan yang disebutkan di atas akan kemungkinan kenaikan suku bunga The Fed di bulan Juni yang membuat nilai Rupiah terhadap US Dollar terus tertekan.

Untuk yield INDON 10 tahun (INDON 26) dan yield US Treasury 10 tahun bergerak naik ke level 4.00%  dan 1.85% (dibandingkan dengan posisi per 13 Mei 2016 yaitu 3.85% dan 1.72%). Premi risiko Indonesia yang terefleksikan dalam Credit Default Swap (CDS) 5 tahun juga mengalami kenaikan ke  level 193.25 bps. Kepemilikan asing pada pasar SUN per tanggal 19 Mei 2016 tercatat sebesar Rp621.92 Triliun atau sebesar 38.52% dari total outstanding-nya, turun dibandingkan posisi per tanggal  13 Mei 2016 yaitu sebesar Rp622.15 triliun (38.48% dari total outstanding-nya).

Rupiah ditutup pada level 13,608 per US Dollar atau melemah -2.1% dibanding minggu lalu.

Mengutip dari seorang ‘investment guru’ Warren Buffett kepada investor bahwa ada dua prinsip dalam berinvestasi: 1) Never Lose Money dan 2) Never Forget Rule No. 1. Di tengah fluktuasi pasar modal dan uang ini, perlu disikapi dengan bijaksana untuk tidak bersikap panik apalagi berinvestasi di negara yang pertumbuhan dan prospek ekonomi yang lebih baik dibanding negara lain dan fundamentalnya kuat yang didukung oleh demografi yang besar. Oleh sebab itu, konsep Dollar Cost Averaging sangatlah baik diterapkan pada kondisi pasar yang fluktuasinya tinggi. Stay invested!

Market Data

JCI Indonesia IDR 10yr (%) Indonesia USD 10yr (10%) US Treasury 10yr (%) USD/IDR
 4.712 7.87  4.00  1.85  13.608

Economic Data

Indonesia CPI (%yoy) Indonesia CPI (%mom) BI Rate (%)
 3.60  0.45  6.75

Selamat berinvestasi!

Perhatian:
• Publikasi ini bukan merupakan suatu bentuk tawaran untuk menjual atau membeli efek atau derivatifnya yang termuat dalam publikasi ini. Isi dari publikasi ini bukan merupakan nasehat investasi kepada pihak manapun. Rekomendasi yang termuat dalam publikasi ini belum tentu sesuai untuk setiap calon investor. Meskipun seluruh  informasi yang termuat dalam publikasi ini diperoleh dari sumber yang kami percaya, namun kami tidak menjamin keakuratan dan kelengkapannya. Pendapat dan rekomendasi yang termuat dalam publikasi ini berlaku terbatas pada tanggal pembuatan dan setiap saat dapat berubah dan diubah oleh PT Danareksa Investment Management (“DIM”) tanpa pemberitahuan sebelumya. DIM tidak berkewajiban memperbaharui atau menambahi informasi yang termuat dalam publikasi ini. Publikasi ini ditujukan sebagai informasi dan tidak bertujuan untuk membentuk suatu dasar keputusan investasi. Investor harus menetapkan sendiri setiap keputusan sesuai dengan kebutuhan dan strategi investasi dengan mempertimbangkan masalah hukum, pajak dan akuntasi. DIM maupun setiap karyawan dan afiliasinya tidak bertanggung jawab terhadap setiap keputusan investasi yang diambil oleh investor.
• Hak milik atas bentuk dan isi presentasi ini sepenuhnya dilindungi oleh peraturan perundangan yang berlaku di Indonesia khususnya tentang hak cipta bagi kemanfaatan DIM. Tidak diperkenankan seorangpun melakukan fotokopi, menyalin, mereproduksi baik secara manual maupun elektronik atau dengan cara apapun sebagian atau seluruhnya yang dapat berakibat dokumen ini digandakan dan digunakan baik untuk tujuan ekonomis atau tujuan lainnya tanpa ada persetujuan terlebih dahulu dari DIM. Investasi melalui Reksa Dana mengandung risiko. Calon Pemodal wajib membaca dan memahami Prospektus sebelum memutuskan untuk berinvestasi melalui Reksa Dana.  Kinerja masa lalu tidak mencerminkan kinerja masa datang. Reksa Dana adalah produk pasar  modal dan BUKAN merupakan produk perbankan; BUKAN  merupakan bagian dari simpanan pihak ketiga yang terikat pada jangka waktu tertentu serta TIDAK termasuk objek dalam program penjaminan pemerintah.
23 Mei 2016
Simulasi
Investasi
DISCLAIMER COPYRIGHT 2012 Danareksa All Rights RESERVED|
PT Danareksa Investment Management terdaftar dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Republik Indonesia | DISCLAIMER