Berita

Simulasi
Investasi

Ulasan Pasar 23 November 2015

Ulasan Pasar 23 November 2015

Setelah pasar Amerika Serikat mengalami volatilitas tinggi dan terjadi “sell off” di bursa Cina, sebagian besar partisipan anggota The Fed menyatakan bahwa kenaikan Fed Fund Rate bisa dilakukan di bulan Desember. Hal ini tercantum dalam risalah rapat FOMC tanggal 27-28 Oktober.  Risiko pelemahan ekonomi AS yang disebabkan oleh pelemahan ekonomi global telah mengalami penurunan sedangkan tingkat konsumsi domestik serta pasar ketenegakerjaan telah pada posisi yang seimbang.

European Central Bank (ECB) memandang bahwa zona Euro masih mengalami risiko deflasi serta harus dilakukan aksi secepatnya untuk memitigasi risiko ini. President ECB telah memberikan arahan bahwa ECB akan menambah program Quantitative Easing-nya yang akan dibicarakan lebih lanjut di bulan Desember.

Dari zona asia timur, setelah memberikan stimulus berupa penurunan tingkat suku bunga dan reserve requirement di bank, Cina kembali memberikan stimulus melalui penurunan suku bunga untuk standing lending facility, untuk periode 7 hari diturunkan menjadi 3.25% dan overnight diturunkan menjadi 2.75%.

Bank Indonesia relatif mengarah untuk menerapkan kebijakan longgar. Walaupun suku bunga tetap berada di 7.5%, namun terjadi penurunan GWM primer rupiah dari 8% menjadi 7.5% sehingga menambah likuiditas perbankan sebesar Rp 18.22 Triliun. Walaupun inflasi yang rendah, BI baru akan menurunkan suku bunga acuan setelah bank sentral AS menaikkan FFR. BI juga memprediksi bahwa inflasi di tahun 2015 dapat tumbuh dibawah 3% karena pasokan komoditas pangan yang membaik.

Market View:

IHSG ditutup di level 4,561 atau menguat 1.98%wow sejalan dengan menguatnya mayoritas indeks di Asia dan sentimen positif dari domestik dengan penurunan GWM (Giro Wajib Minimum) dari 8.0% ke 7.5% yang menandakan kebijakan moneter longgar, penjualan semen dan realisasi infrastruktur yang meningkat.

Berdasarkan performa, sektor industri dasar (+5.18%wow) dan infrastruktur (+5.61%wow) mengalami kenaikan terbanyak dikarenakan data penjualan semen dan realisasi infrastruktur yang membaik. Penurunan tercatat di sektor aneka industri (-3.50%wow) dikarenakan data penjualan mobil yang turun karena konsumen menunda pembelian menunggu keluarnya model baru. Seminggu terakhir ini, arus dana asing yang keluar dari pasar saham mencapai USD37.6 Juta.

Untuk pasar SUN, yield benchmark 10 tahun tahun tercatat pada 8.60%, cenderung flat dibandingkan minggu lalu. Khusus untuk obligasi bertenor panjang (20 tahun), yield cenderung mengalami penurunan yang mungkin disebabkan oleh terbatasnya suplai SUN tenor panjang menyusul ditiadakannya lelang untuk tenor tersebut. Pemerintah berencana menerbitkan Rp 6 Triliun pada lelang SUN minggu ini dengan potensi upsize sebesar Rp 9 Triliun.

Untuk yield INDON 10 tahun (INDON 25) naik dan berada di level 4.54%, dan yield US Treasury 2025 naik dan berada di level 2.26%. Pergerakan INDON yang melemah walaupun angka Credit Default Swap (CDS) yang turun ke level 212 (-4.2%wow). Hal ini mungkin disebabkan oleh meningkatnya probabilitas kenaikan Fed Fund Rate di bulan desember berdasarkan risalah rapat FOMC.

Kepemilikan asing pada pasar SUN meningkat dibandingkan akhir bulan lalu (Rp528 Triliun), per tanggal 13 November tercatat sebesar Rp536 Triliun atau sebesar 37.4% dari total outstanding-nya. Pada minggu ini, pasar akan mengantisipasi keluarnya data GDP US 3Q yang diekspektasi tumbuh 2.0%qoq.

Selain itu, pada tanggal 30 November, rapat IMF akan memutuskan apakah akan memasukkan CNY ke dalam mata uang IMF (SDR). Walaupun adanya arah kenaikan suku bunga The Fed pada bulan Desember ini, kami tetap positif dengan pasar modal dan uang Indonesia. Berbagai kebijakan yang kami nilai bakal membantu kestabilan mata uang dan mendorong ekonomi menjelang akhir tahun dan tahun depan seperti kebijakan Tax Amnesty, kepemilikan asing pada properti Indonesia, dan kemungkinan penurunan PPh Badan dan Individu.

“Be Fearful When Others Are Greedy and Greedy When Others Are Fearful” (Warren Buffett).

DISCLAIMER :
INVESTASI MELALUI REKSA DANA MENGANDUNG RISIKO. CALON PEMODAL WAJIB MEMBACA DAN MEMAHAMI PROSPEKTUS SEBELUM MEMUTUSKAN UNTUK BERINVESTASI MELALUI REKSA DANA. KINERJA MASA LALU TIDAK MENCERMINKAN MASA DATANG.

23 Nopember 2015
Simulasi
Investasi
DISCLAIMER COPYRIGHT 2012 Danareksa All Rights RESERVED|
PT Danareksa Investment Management terdaftar dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Republik Indonesia | DISCLAIMER