Berita

Simulasi
Investasi

Ulasan Pasar 25 April 2016

Ulasan Pasar 25 April 2016

The Fed akan melakukan pertemuan tanggal 28 April untuk menentukan arah kebijakan moneter. Sesuai pernyataan Yellen, The Fed akan hati-hati untuk melakukan kenaikan suku bunga dan kemungkinan besar tidak akan dilakukan dalam waktu dekat. Survei ekonom memprediksi bahwa kenaikan suku bunga baru akan terjadi di September 2016 (46.8% dari ekonom).

Pada hari yang sama, Amerika Serikat akan merilis data pertumbuhan ekonomi di kuartal I yang diestimasi hanya tumbuh sebesar 0.7% (vs GDP di Q4 2015 sebesar 1.4%).

Baca juga:

Bank sentral Eropa tetap mempertahankan suku bunganya pada pertemuan tanggal 21 April. Pada bulan Juni, bank sentral Eropa akan melakukan program quantitative easing dengan membeli obligasi korporasi.

Pertumbuhan ekonomi zona Eropa kuartal I akan dirilis tanggal 29 April yang diprediksi akan tumbuh sebesar 0.4% (qoq) vs 0.3% (4Q15).

Bank sentral China kembali melakukan intervensi dengan meningkatkan likuiditas ke sistem finansial sebesar USD 250 miliar (terbesar sejak 25 Februari). Hal ini dilakukan agar biaya pinjaman tidak terlalu tinggi.

Dari Indonesia, Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia (BI) memutuskan untuk menahan BI rate pada level 6.75%. Suku bunga acuan baru (implementasi bulan Agustus 2016) 7 day reverse repo rate tetap berada di level 5.5%, begitupun untuk lending dan deposit facility rate tetap berada di level 7.25% dan 4.75%. BI juga memprediksi bahwa ekonomi akan tumbuh di level 5.1-5.2% pada 1Q 2016 (lebih baik dibandingkan Q4 2015 sebesar 5%). Selain itu, di bulan April akan tercatat deflasi sebesar 0.3%MoM.

reksadana danareksa ulasan pasar 25 april 2016

BI mencatat capital inflow selama Q1 2016 sebesar USD 4.9 miliar di mana sebesar USD 3.7 miliar masuk ke pasar Surat Utang Negara (SUN) sedangkan sisanya masuk ke pasar saham dan Sertifikat Bank Indonesia (SBI). Rupiah mengalami penguatan sebesar 3.96% pada periode yang sama. Peningkatan inflow disebabkan oleh faktor global yaitu negara Eropa dan Jepang menerapkan suku bunga negatif serta pernyataan dari The Fed bahwa mereka tidak akan melakukan kenaikan suku bunga dalam waktu cepat sedangkan faktor domestik disebakan oleh membaiknya perekonomian Indonesia.

Market View : 

Sentimen positif yang didorong oleh kenaikan harga minyak dan komoditas membuat sebagian besar bursa saham di dunia mengalami kenaikan. Hal ini juga berimplikasi pada IHSG yang menguat ke level 4.915 atau naik 1.89% WoW. Selain itu, optimisme para investor akan membaiknya hasil kinerja emiten untuk Q1 2016 juga membawa angin segar pada IHSG. Sejauh ini, beberapa emiten yang sudah mengeluarkan laporan keuangannya sesuai dengan ekspektasi konsensus.

Kenaikan IHSG pada minggu lalu ditopang oleh sektor aneka properti yang naik 3.96% WoW . Kenaikan juga terjadi pada sektor perbankan sebesar 3.95% WoW setelah sebelumnya mengalami penurunan yang tajam. Sektor yang menyebabkan penurunan IHSG terutama sektor aneka industri yang melemah 3.47% WoW.

Minggu terakhir ini, arus dana asing yang masuk ke pasar saham mencapai USD 106.8 juta. Valuasi Indonesia berada di sekitar  13.3x untuk tahun 2017F.

Untuk pasar obligasi, yield benchmark SUN 10 tahun (FR0056) tercatat pada 7.56%. Yield SUN seri benchmark mengalami kenaikan menyusul minimnya katalis dari pasar domestik maupun global. Pasar SUN juga masih menunggu rilis-nya data PDB Q1 2016 Indonesia yang diperkirakan akan keluar pada awal bulan Mei.

Untuk INDON 10 tahun (INDON 26), yield bergerak turun ke level 3.89% sedangkan yield US Treasury 10 tahun bergerak naik ke level 1.86% (dibandingkan dengan posisi per 15 April 2016 yaitu 3.91% dan 1.77%). Rilisnya data ekonomi unemployment claims di AS yang jauh lebih baik dari konsensus yakni 247ribu vs 265ribu menjelang rapat FOMC pekan mendatang (26-27 April) diperkirakan akan kembali memicu spekulasi kenaikan FFR di pasar walaupun komentar dovish dari Yellen di pertemuan sebelumnya. Sementara itu, turunnya yield INDON 26 sejalan dengan turunnya premi resiko Indonesia yang terefleksikan dalam Credit Default Swap (CDS) 5 tahun yang bergerak turun ke level 191 bps (vs 199 bps pada akhir minggu lalu).

Sementara itu Rupiah ditutup pada level 13,194 per US Dollar melemah 0.12% dari minggu lalu.

Kepemilikan asing pada pasar SUN per tanggal 21 April 2016 tercatat sebesar Rp623.33 Triliun atau sebesar 39.00% dari total outstanding-nya, naik dibandingkan posisi per tanggal 15 April 2016 yaitu sebesar Rp622.23 triliun (39.08% dari total outstanding-nya).

Sejauh ini, pasar masih menunggu data Produk Domestik Bruto (PDB) Q1 dan kinerja emiten-emiten yang akan dirilis paling lambat akhir bulan ini. Kepastian kinerja dan perbaikan ekonomi akan menjadi tolak ukur investor dalam menentukan posisi investasinya ke depan. Dengan pasar yang cenderung wait-and-see dan fluktuatif, siasati dengan berinvestasi secara berkala.

Market Data

JCI Indonesia IDR 10yr (%) Indonesia USD 10yr (10%) US Treasury 10yr (%) USD/IDR
 4.915 7.56  3.89  1.86  13.194

Economic Data

Indonesia CPI (%yoy) Indonesia CPI (%mom) BI Rate (%)
 4.45  0.19  6.75

Selamat berinvestasi!

Perhatian:
• Publikasi ini bukan merupakan suatu bentuk tawaran untuk menjual atau membeli efek atau derivatifnya yang termuat dalam publikasi ini. Isi dari publikasi ini bukan merupakan nasehat investasi kepada pihak manapun. Rekomendasi yang termuat dalam publikasi ini belum tentu sesuai untuk setiap calon investor. Meskipun seluruh  informasi yang termuat dalam publikasi ini diperoleh dari sumber yang kami percaya, namun kami tidak menjamin keakuratan dan kelengkapannya. Pendapat dan rekomendasi yang termuat dalam publikasi ini berlaku terbatas pada tanggal pembuatan dan setiap saat dapat berubah dan diubah oleh PT Danareksa Investment Management (“DIM”) tanpa pemberitahuan sebelumya. DIM tidak berkewajiban memperbaharui atau menambahi informasi yang termuat dalam publikasi ini. Publikasi ini ditujukan sebagai informasi dan tidak bertujuan untuk membentuk suatu dasar keputusan investasi. Investor harus menetapkan sendiri setiap keputusan sesuai dengan kebutuhan dan strategi investasi dengan mempertimbangkan masalah hukum, pajak dan akuntasi. DIM maupun setiap karyawan dan afiliasinya tidak bertanggung jawab terhadap setiap keputusan investasi yang diambil oleh investor.
• Hak milik atas bentuk dan isi presentasi ini sepenuhnya dilindungi oleh peraturan perundangan yang berlaku di Indonesia khususnya tentang hak cipta bagi kemanfaatan DIM. Tidak diperkenankan seorangpun melakukan fotokopi, menyalin, mereproduksi baik secara manual maupun elektronik atau dengan cara apapun sebagian atau seluruhnya yang dapat berakibat dokumen ini digandakan dan digunakan baik untuk tujuan ekonomis atau tujuan lainnya tanpa ada persetujuan terlebih dahulu dari DIM. Investasi melalui Reksa Dana mengandung risiko. Calon Pemodal wajib membaca dan memahami Prospektus sebelum memutuskan untuk berinvestasi melalui Reksa Dana.  Kinerja masa lalu tidak mencerminkan kinerja masa datang. Reksa Dana adalah produk pasar  modal dan BUKAN merupakan produk perbankan; BUKAN  merupakan bagian dari simpanan pihak ketiga yang terikat pada jangka waktu tertentu serta TIDAK termasuk objek dalam program penjaminan pemerintah.
25 April 2016
Simulasi
Investasi
DISCLAIMER COPYRIGHT 2012 Danareksa All Rights RESERVED|
PT Danareksa Investment Management terdaftar dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Republik Indonesia | DISCLAIMER