Berita

Simulasi
Investasi

Ulasan Pasar 25 Januari 2016

Ulasan Pasar 25 Januari 2016

Pada tanggal 27 Januari 2016 akan dilakukan pertemuan the Fed untuk menentukan arah kebijakan moneter AS. Meski data ketenagakerjaan terakhir menunjukkan hasil yang positif, konsensus memprediksi bahwa kenaikan suku bunga selanjutnya baru akan dilakukan pada bulan Juni 2016 didukung oleh masih rendahnya tingkat inflasi AS (inflasi AS di bulan Desember menurun -0.1% secara bulanan) karena penurunan harga minyak. Selain itu, akan dirilis data GDP 4Q15 pada tanggal 29 Januari yang diestimasi akan meningkat sebesar 0.7% vs periode sebelumnya 2%.

Presiden bank sentral Eropa (Mario Draghi) mengatakan bahwa masih diperlukan penambahan stimulus yang akan didiskusikan lebih lanjut di pertemuan pada bulan Maret karena risiko yang semakin meningkat. Inflasi di zona Euro masih berada di bawah target sebesar 2%, di bulan Desember inflasi hanya meningkat sebesar 0.2% secara tahunan.

Ekonomi Cina di tahun 2015 hanya tumbuh sebesar 6.9% terendah sejak tahun 2010. IMF memprediksi bahwa perekonomian Cina hanya tumbuh sebesar 6.3% di tahun 2016.

market watch 23jan2016

Meski harga minyak mengalami penurunan, Bank Indonesia memprediksi terjadi kenaikan inflasi secara bulanan di bulan Januari sebesar 0.7% yang lebih disebabkan oleh volatile food seperti beras, daging, sapi, cabai, bawang, ayam, dan telur. 

Harga minyak yang terus menurun memberi peluang bagi Bank Indonesia untuk kembali menurunkan bunga, namun harus didukung pula penurunan harga BBM oleh pemerintah.

Pemerintah telah merampungkan draf undang-undang tentang tax amnesty. Salah satu poin usulan adalah agar dana repatriasi tax amnesty diarahkan untuk masuk ke pasar SUN.

Market View:

Pasar saham global mengalami volatilitas yang tinggi selama sepekan terakhir dipicu oleh sentimen negatif dari bursa Cina dan penurunan harga komoditas minyak yang sempat menyentuh US$27/barel (harga minyak mengalami kenaikan pada penutupan minggu lalu ke level US$30/barel).

Untuk pasar saham domestik, IHSG ditutup turun sebesar 1.49%WoW ke level 4,456. Sektor industri dasar menjadi satu-satunya sektor yang mengalami kenaikan sebesar 1.49% sedangkan sektor konsumsi, perdagangan dan properti mengalami penurunan terbesar: 3.0%, 2.9% dan 3.5%. Asing masih tercatat melakukan penjualan bersih sebesar US$97 Juta atau US$280 Juta dari awal tahun.

Sebaliknya untuk pasar obligasi, harga SUN mengalami kenaikan. Seperti contohnya yield SUN 10 tahun yang turun 14bps dari 8.50% ke 8.36%. Salah satu pendukung terutama datang dari data FDI & trade balance yang positif serta ekspektasi Current Account yang kemungkinan besar sesuai perkiraan di angka 2%, mata uang Rupiah yang mengalami penguatan sebesar 0.35% ke level 13.845, dan sentimen positif dari global seperti pernyataan positif dari Draghi (ECB) dan imbal hasil US Treasury yang rendah menopang pasar obligasi Rupiah.

Seperti halnya harga SUN yang mengalami penguatan, untuk yield INDON 10 tahun (INDON 26) bergerak turun ke level 4.78% seiring dengan turunnya yield US treasury 10 tahun ke level 2.03% per akhir minggu kemarin.

Kepemilikan asing pada pasar SUN per tanggal 21 Januari 2016 tercatat sebesar Rp567.3 Triliun atau sebesar 38.3% dari total outstanding-nya, naik dibandingkan posisi per tanggal 15 Januari 2016 yaitu sebesar Rp563.7 Triliun (38.4% dari total outstanding-nya).

Pasar cenderung akan mengalami volatilitas yang tinggi dikarenakan fluktuasi di harga komoditas khususnya minyak bumi, dan isu rendahnya pertumbuhan global yang masih akan menyelimuti pasar emerging market. Untuk itu, strategi investor dalam menghadapi fluktuasi ini adalah dengan Dollar Cost Averaging.

Selamat berinvestasi!

DISCLAIMER :
INVESTASI MELALUI REKSA DANA MENGANDUNG RISIKO. CALON PEMODAL WAJIB MEMBACA DAN MEMAHAMI PROSPEKTUS SEBELUM MEMUTUSKAN UNTUK BERINVESTASI MELALUI REKSA DANA. KINERJA MASA LALU TIDAK MENCERMINKAN MASA DATANG.

25 Januari 2016
Simulasi
Investasi
DISCLAIMER COPYRIGHT 2012 Danareksa All Rights RESERVED|
PT Danareksa Investment Management terdaftar dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Republik Indonesia | DISCLAIMER