Berita

Simulasi
Investasi

Ulasan Pasar 28 September 2015

Ulasan Pasar 28 September 2015

Gubernur Bank Sentral Amerika Serikat Janet Yellen mengatakan bahwa The Fed akan mulai menaikkan tingkat suku bunga akhir tahun ini. Kenaikan itu dilakukan sejauh laju inflasi tetap stabil dan perekonomian AS cukup kuat untuk meningkatkan pembukaan lapangan kerja. Pernyataan ini hanya satu pekan setelah The Fed menunda kenaikan tingkat suku bunga.

Ketika itu, Yellen mengatakan bahwa keadaan perekonomian global belum baik. Yellen juga mengatakan bahwa laju inflasi yang lemah selama ini tampaknya hanya sementara saja. Inflasi rendah karena faktor khusus, yaitu penguatan dollar AS dan harga minyak yang rendah. Yellen beranggapan, faktor itu akan lenyap dan inflasi AS akan mencapai 2%, seperti target bank sentral dalam beberapa tahun ke depan.

Dari Indonesia, Menko Perekonomian menyebut, paket kebijakan ekonomi yang diumumkan langsung Presiden Joko Widodo beberapa waktu lalu adalah tahap pertama. Adapun, belum diketahui kapan dikeluarkannya paket tahap kedua. Jika paket kebijakan sebelumnya berfokus untuk mempermudah investasi dalam negeri, paket tahap dua nanti akan lebih fokus pada peningkatan ekspor di sektor industri dan komoditas pertanian. Pemerintah saat ini, ingin menyederhanakan peraturan ekspor yang dianggap menghambat ekonomi. Selain itu, pemerintah berencana untuk menurunkan pajak perusahaan dari 25% menjadi 18% pada tahun 2016. Ini diharapkan dapat memberikan sentimen yang positif untuk pasar modal.

market watch 28 sept 2015

PMI China dari Caixin Media dan Markit Economics berada di level paling rendah selama 6.5thn terakhir. PMI (preliminary) China berada pada level 47.0, lebih rendah dibanding ekspektasi konsensus (47.5). Data PMI ini menunjukkan bahwa manufacturing dan ekspor China berada pada trend penurunan dan memperlihatkan bahwa ekonomi dunia masih dalam posisi yang lemah.

PMI Zona Eropa (preliminary) menunjukkan bahwa ekonomi Zona Eropa mulai terpengaruh perlambatan ekonomi China, walaupun pertumbuhan PDB masih diekspektasi akan tumbuh seperti kuartal II. PMI pada bulan September berada pada level 53.9, lebih rendah dibanding bulan Agustus yang berada pada level 54.3, dikarenakan perlambatan ekonomi di negara berkembang.

Market View: 

Kinerja IHSG di minggu lalu kembali menurun (-3.9%wow) dikarenakan tidak adanya katalis positif dalam negeri dan ekspektasi pelemahan Rupiah yang mendorong penarikan dana asing. Sektor konsumsi (-6.1%wow) dan perbankan (-6.0%wow) menjadi penyumbang terbesar pelemahan IHSG sedangkan sektor pertambangan dan agrobisnis yang diuntungkan dengan pelemahan Rupiah berhasil mencatatkan kenaikan sebesar 1.5%wow dan 0.2%wow pada pekan lalu .

Untuk indikator resiko, CDS 5 tahun Indonesia kembali mengalami pelemahan dan berada pada posisi 261bps dari 213bps pada penutupan pekan lalu. Dari pasar domestik, cadangan devisa indonesia kembali melemah sebesar 3 miliar dollar dan berada pada level 103 miliar dollar. Arus dana asing tercatat net sell sebesar USD104.16mn minggu lalu.

Untuk makro, dalam RAPBN 2016, pemerintah setuju untuk menurunkan ekspektasi pertumbuhan PDB Indonesia menjadi 5.3% dari 5.5% dan Rupiah dari rentang 13,400-13,900 menjadi 13,700-13,900 per dolar AS.

Pasar obligasi kembali mengalami tekanan di mana yield benchmark SUN 5 tahun (FR0069), 10 tahun (FR0070), 15 (FR0071), 20 (FR0068) tahun tercatat pada pada 9.22%, 9.49%, 9.58%, dan 9.71%. Ini juga terjadi pada INDON 10 tahun (INDON 25) dengan yield berada di level 4.78% sejalan dengan melemahnya CDS.

Kepemilikan asing pada pasar SUN cenderung flat dibandingkan akhir minggu lalu, per tanggal 22 September tercatat sebesar IDR 529.55tn atau sebesar 38.1% dari total outstanding-nya. Nilai tukar rupiah juga cenderung melemah dan berada pada level 14,693 dibanding minggu lalu.

Ketidakpastian dari kebijakan suku bunga AS, pelemahan pertumbuhan ekonomi global terutama China, dan tidak adanya katalis positif dalam negeri kembali menyebabkan pelemahan pada pasar modal Indonesia. Penarikan dana asing dari pasar saham dan obligasi menyebabkan pelemahan Rupiah, yang sekarang berada di level terendah selama 17 tahun. Pasar saat ini menanti stimulus kedua dari pemerintah yang akan dikeluarkan pada akhir bulan ini dan diharapkan bisa memecahkan permasalahan jangka pendek, seperti kestabilan mata uang dan daya beli masyarakat.

Berita positif pada penutupan minggu lalu mengutip informasi dari Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan Luhut B. Panjaitan yakni mengenai rencana pemerintah untuk menurunkan PPh Badan dari 25% menjadi 18% pada tahun 2016. Kunci keberhasilan akan tergantung pada kemampuan pemerintah mengeksekusi peraturan tersebut, dan jikalau berhasil, ini akan memberikan sentimen positif untuk meningkatkan daya saing Indonesia, menarik investasi asing, dan tentunya akan berimbas pada penguatan mata uang Rupiah dan pasar modal.

DISCLAIMER :
INVESTASI MELALUI REKSA DANA MENGANDUNG RISIKO. CALON PEMODAL WAJIB MEMBACA DAN MEMAHAMI PROSPEKTUS SEBELUM MEMUTUSKAN UNTUK BERINVESTASI MELALUI REKSA DANA. KINERJA MASA LALU TIDAK MENCERMINKAN MASA DATANG.

28 September 2015
Simulasi
Investasi
DISCLAIMER COPYRIGHT 2012 Danareksa All Rights RESERVED|
PT Danareksa Investment Management terdaftar dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Republik Indonesia | DISCLAIMER