Berita

Simulasi
Investasi

Ulasan Pasar 29 Februari 2016

Ulasan Pasar 29 Februari 2016

Growth Domestic Product annualized QoQ Amerika Serikat menunjukkan pertumbuhan 1% dari ekspektasi konsensus 0.4% 

market watch 29Feb2016

Baca juga:

Disamping itu, beberapa data ketenagakerjaan yang akan dirilis pada minggu ini seperti:

1. Nonfarm payroll di bulan Februari diestimasi akan mengalami kenaikan sebesar 195.000 vs bulan Januari 151.000.

2. Tingkat pengangguran di bulan Februari yang diestimasi akan tetap berada di level 4.9%.

Inflasi zona Eropa di bulan Januari hanya tumbuh sebesar 0.3%YoY, lebih rendah dari estimasi 0.4%. Bank sentral Eropa akan melakukan pertemuan tanggal 9-10 Maret 2016 untuk membahas kebijakan stimulus serta proyeksi ekonomi di masa mendatang karena target inflasi jangka menengah di bawah 2% sulit untuk dicapai.

Dari China, Gubernur Bank sentral Tiongkok mengatakan bahwa tidak akan kembali melakukan devaluasi mata uang dan menerapkan kebijakan moneter lainnya untuk mendukung perekonomian Tiongkok. Data Manufaktur akan dirilis hari Selasa (1 Maret) yang diprediksi stagnan sama dengan periode sebelumnya.

Inflasi Indonesia di bulan Februari akan dirilis pada tanggal 1 Maret. Pemerintah menargetkan bahwa inflasi di tahun 2016 maksimal sebesar 4%YoY karena adanya penurunan harga minyak yang terefleksi dalam penurunan harga BBM, penguatan nilai tukar rupiah yang mendorong penurunan harga barang impor, dan penurunan harga komoditas yang berdampak pada penurunan harga pangan lainnya. 

Paket ekonomi yang ke-11 akan diluncurkan minggu ini yang berfokus pada kemudahan berbisnis di Indonesia, yaitu terkait kemudahan perizinan di kota besar, kemudahan perizinan pertanahan, pembenahan sistim logistik, pemangkasan mata rantai birokrasi, perbaikan dwelling time, dan kemudahan usaha bagi UKM termasuk dalam e-commerce.

Market View:

Pergerakan pasar uang dan modal pada minggu kemarin lebih banyak dipengaruhi oleh isu-isu domestik, terutama masih menyangkut penurunan suku bunga kredit. Selain itu, pemerintah diberitakan sedang menyusun rencana pembatasan bunga deposito untuk BUMN yang melakukan penempatan pada bank-bank BUMN, dengan harapan agar bank-bank BUMN tersebut dapat menurunkan suku bunga pinjaman menjadi satu digit ke depannya. 

Selain itu, beberapa laporan keuangan kuartal ke-4 dari perusahaan-perusahaan besar telah dirilis di mana beberapa menunjukkan hasil yang cenderung sesuai dengan ekspektasi konsensus. Untuk IHSG, terjadi kenaikan pada pekan kemarin sebesar 0.76% di mana 3 sektor yang mengalami kenaikan terbesar yaitu pertambangan (+5.9%), aneka industri (+4.8%), dan perdagangan dan jasa (+4.6%).

Yang menjadi indikator positif lainnya yaitu asing masih tercatat melakukan penjualan bersih sebesar USD22 Juta.

Untuk pasar obligasi, yield benchmark SUN 10 tahun (FR0056) tercatat pada level 8.28%. Minimnya katalis di pasar domestik membuat investor masih melanjutkan antisipasi risiko ke aset yang lebih low risk serta terus melakukan aksi jual pada seri obligasi pemerintah.

Minggu ini akan diadakan lelang obligasi Negara dengan target indikasi Rp12 Triliun dan potensi upsize menjadi Rp18 Triliun. Seri yang akan lelang diantaranya FR0053, FR0056 dan FR0072.

Untuk yield INDON 10 tahun (INDON 26) bergerak cenderung flat di level 4.35% sedangkan yield US treasury 10 tahun turun tipis ke level 1.73% (dibandingkan dengan posisi per 19 Februari 2016 yaitu 1.75%).

Rupiah menguat sebesar 0.72% ke level 13,382.

Kepemilikan asing pada pasar SUN per tanggal 24 Februari 2016 tercatat sebesar Rp592.12 Triliun atau sebesar 39.40% dari total outstanding-nya, naik tipis dibandingkan posisi per tanggal 17 Februari 2016 yaitu sebesar Rp591.06 Triliun (39.4% dari total outstanding-nya).

Pergerakan pasar minggu ini masih akan dipengaruhi oleh hasil dari laporan keuangan kuartal 4 yang akan dirilis di sepanjang minggu ini. Pasar juga akan terus memantau perkembangan pada sektor perbankan yang masih menunggu kejelasan dari kebijakan pemerintah mengenai suku bunga pinjaman dan deposito.

Disamping itu, pertemuan kita dengan lembaga riset Nielsen memberikan gambaran bahwa daya beli masyarakat dalam tahap perbaikan dan penjualan FMCG pada dua bulan pertama ini cenderung menunjukkan trend yang positif. Jika trend tersebut dapat dipertahankan, tentunya akan berimplikasi yang positif pada pertumbuhan ekonomi dan terutama, pasar uang dan modal.

Selamat berinvestasi!

Perhatian:
• Publikasi ini bukan merupakan suatu bentuk tawaran untuk menjual atau membeli efek atau derivatifnya yang termuat dalam publikasi ini. Isi dari publikasi ini bukan merupakan nasehat investasi kepada pihak manapun. Rekomendasi yang termuat dalam publikasi ini belum tentu sesuai untuk setiap calon investor. Meskipun seluruh  informasi yang termuat dalam publikasi ini diperoleh dari sumber yang kami percaya, namun kami tidak menjamin keakuratan dan kelengkapannya. Pendapat dan rekomendasi yang termuat dalam publikasi ini berlaku terbatas pada tanggal pembuatan dan setiap saat dapat berubah dan diubah oleh PT Danareksa Investment Management (“DIM”) tanpa pemberitahuan sebelumya. DIM tidak berkewajiban memperbaharui atau menambahi informasi yang termuat dalam publikasi ini. Publikasi ini ditujukan sebagai informasi dan tidak bertujuan untuk membentuk suatu dasar keputusan investasi. Investor harus menetapkan sendiri setiap keputusan sesuai dengan kebutuhan dan strategi investasi dengan mempertimbangkan masalah hukum, pajak dan akuntasi. DIM maupun setiap karyawan dan afiliasinya tidak bertanggung jawab terhadap setiap keputusan investasi yang diambil oleh investor.
• Hak milik atas bentuk dan isi presentasi ini sepenuhnya dilindungi oleh peraturan perundangan yang berlaku di Indonesia khususnya tentang hak cipta bagi kemanfaatan DIM. Tidak diperkenankan seorangpun melakukan fotokopi, menyalin, mereproduksi baik secara manual maupun elektronik atau dengan cara apapun sebagian atau seluruhnya yang dapat berakibat dokumen ini digandakan dan digunakan baik untuk tujuan ekonomis atau tujuan lainnya tanpa ada persetujuan terlebih dahulu dari DIM. Investasi melalui Reksa Dana mengandung risiko. Calon Pemodal wajib membaca dan memahami Prospektus sebelum memutuskan untuk berinvestasi melalui Reksa Dana.  Kinerja masa lalu tidak mencerminkan kinerja masa datang. Reksa Dana adalah produk pasar  modal dan BUKAN merupakan produk perbankan; BUKAN  merupakan bagian dari simpanan pihak ketiga yang terikat pada jangka waktu tertentu serta TIDAK termasuk objek dalam program penjaminan pemerintah.
29 Februari 2016
Simulasi
Investasi
DISCLAIMER COPYRIGHT 2012 Danareksa All Rights RESERVED|
PT Danareksa Investment Management terdaftar dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Republik Indonesia | DISCLAIMER