Berita

Simulasi
Investasi

Ulasan Pasar 4 April 2016

Ulasan Pasar 4 April 2016

Gubernur Bank Sentral Amerika Serikat Janet Yellen memastikan The Fed akan hati-hati dalam menentukan kebijakan kenaikan suku bunga dikarenakan faktor global dan inflasi yang masih rendah. Konsensus memprediksi kemungkinan yang kecil terjadinya kenaikan suku bunga pada FOMC Meeting bulan April ini.

Baca juga:

Data tenaga kerja yang dirilis menunjukkan Nonfarm payroll yang tumbuh 215.000 di bulan Maret dan tingkat pengangguran di level 5.0%.

reksadana danareksa ulasan pasar 4 april 2016

Dari Zona Eropa, Markit Eurozone manufacturing PMI bulan Maret mengalami kenaikan dibandingkan bulan Februari dari 51.2 menjadi 51.6. Kenaikan manufacturing PMI terjadi di negara-negara besar Euro zone seperti Jerman, Italia dan Spanyol yang masing-masing berada di level ekspansif. Berkebalikannya, Perancis mengalami kontraksi selama 7 bulan terakhir dan berada di level 49.6.

Aktivitas manufaktur Tiongkok pada bulan Maret menunjukkan pemulihan di mana indikatornya berada di level 50.2 (vs estimasi 49.3), yang merupakan kenaikan untuk pertama kali sejak Juli 2015. Hal ini menunjukkan pelonggaran kebijakan pemerintah China mulai memberikan dampak positif bagi perekonomian.

Inflasi Indonesia di bulan Maret 2016 meningkat sebesar 0.19%MoM, di bawah ekspektasi konsensus sebesar 0.25%MoM. Secara tahunan, inflasi tercatat sebesar 4.45%. Badan Pusat Statistik (BPS) mengestimasi bahwa deflasi besar kemungkinan terjadi di bulan April didorong oleh penurunan harga BBM, penurunan tarif angkutan, penurunan tarif listrik dan memasuki masa panen. Dengan adanya kemungkinan deflasi di bulan April, ini memberi ruang Bank Indonesia (BI) untuk menurunkan suku bunganya kembali sebesar 25 basis poin.

Nikkei Indonesia Manufacturing PMI bulan Maret mengalami kenaikan sejak September 2014 berada di level 50.6, di mana level di atas 50 menunjukkan kondisi ekspansi.

Pemerintah kembali meluncurkan paket kebijakan ekonomi XI yang terdiri atas empat bagian yaitu kredit usaha rakyat yang berorientasi pada ekspor, dana investasi real estate (DIRE), pengendalian risiko untuk mempelancar arus barang di pelabuhan dan pengembangan industri farmasi dan alat kesehatan.

Market view :

Pergerakan pasar uang dan modal yang relatif baik pada pekan lalu dipengaruhi oleh faktor eksternal berupa komentar dari Gubernur Bank Sentral AS Janet Yellen mengenai kebijakan kenaikan suku bunga The Fed yang masih memperhitungkan faktor global dan data dalam negeri. Di samping itu, faktor internal berupa data inflasi bulan Maret yang rendah, penurunan harga BBM, dan stimulus ekonomi XI menjadi katalis positif lainnya.

Untuk pasar saham, IHSG bergerak naik sebesar 0.33%WoW ke level 4.843. Kenaikan indeks terutama ditopang oleh sektor seperti perkebunan (4.10%), perdagangan (1.96%) dan konsumsi (1.8%). Sektor yang turun seperti sektor properti (1.41%) terutama dipicu oleh kinerja keuangan tahun 2015 yang di bawah ekspektasi konsensus. Selama sepekan terakhir, arus dana asing tercatat keluar sebesar USD 62.3 juta.

Untuk pasar obligasi, yield benchmark Surat Utang Negara (SUN) 10 tahun tercatat turun ke level 7.56%. Penurunan yang juga terjadi pada semua tenor ini terutama dipicu oleh data inflasi bulan Maret yang di bawah ekspektasi pasar dan BI. Untuk INDON 10 tahun, yield juga mengalami penurunan ke level 4.11% seiring dengan turunnya US Treasury 10 tahun ke level 1.79%.

Seperti yang disebutkan di atas, faktor eksternal terutama komentar Gubernur The Fed yang cenderung dovish atau pernyataan yang kurang agresif akan kenaikan suku bunga dalam waktu dekat karena outlook ekonomi yang masih di bawah ekspektasi dan risiko dari pertumbuhan global yang masih rendah.

Sementara itu, Rupiah ditutup pada level 13,167 per US Dollar menguat 1.57% dari minggu lalu.

Kepemilikan asing pada pasar SUN per tanggal 31 Maret 2016 tercatat sebesar Rp604.6 Triliun atau sebesar 38.6% dari total outstanding-nya, turun dibandingkan posisi per tanggal 24 Maret 2016 yaitu sebesar Rp606.2 triliun (38.5% dari total outstanding-nya).

Memasuki Q2 2016 ini, pasar cenderung akan menunggu data Produk Domestik Bruto (PDB) dan laporan kinerja dari emiten untuk Q1. Data PMI Manufacturing bulan Maret yang dirilis menunjukkan kegiatan manufaktur di Indonesia mulai menunjukkan posisi ekspansif, di mana dirilis juga data output dan tingkat order yang naik. Hal ini mengindikasikan stimulus fiskal dan moneter pemerintah sudah mulai memperlihatkan dampak yang positif pada perekonomian dalam negeri, dan diharapkan data PDB Q1 juga akan menunjukkan pertumbuhan yang baik.

Selain itu, hasil survei Danareksa Research Institute juga mengkonfirmasi trend peningkatan pada Indeks Kepercayaan Konsumen yang naik ke level 101.3 di bulan Maret. Ke depan, tentunya dengan penurunan harga BBM dan TDL, potensi penurunan suku bunga BI di bulan April terbuka. Hal ini juga akan semakin mendukung perekonomian domestik, terutama ekspektasi akan peningkatan daya beli masyarakat.

Indikasi ekonomi yang membaik memberikan peluang untuk investor mendapatkan potensi return yang baik di pasar modal. Oleh sebab itu, gunakan kesempatan ini untuk berinvestasi.

Selamat berinvestasi!

Perhatian:
• Publikasi ini bukan merupakan suatu bentuk tawaran untuk menjual atau membeli efek atau derivatifnya yang termuat dalam publikasi ini. Isi dari publikasi ini bukan merupakan nasehat investasi kepada pihak manapun. Rekomendasi yang termuat dalam publikasi ini belum tentu sesuai untuk setiap calon investor. Meskipun seluruh  informasi yang termuat dalam publikasi ini diperoleh dari sumber yang kami percaya, namun kami tidak menjamin keakuratan dan kelengkapannya. Pendapat dan rekomendasi yang termuat dalam publikasi ini berlaku terbatas pada tanggal pembuatan dan setiap saat dapat berubah dan diubah oleh PT Danareksa Investment Management (“DIM”) tanpa pemberitahuan sebelumya. DIM tidak berkewajiban memperbaharui atau menambahi informasi yang termuat dalam publikasi ini. Publikasi ini ditujukan sebagai informasi dan tidak bertujuan untuk membentuk suatu dasar keputusan investasi. Investor harus menetapkan sendiri setiap keputusan sesuai dengan kebutuhan dan strategi investasi dengan mempertimbangkan masalah hukum, pajak dan akuntasi. DIM maupun setiap karyawan dan afiliasinya tidak bertanggung jawab terhadap setiap keputusan investasi yang diambil oleh investor.
• Hak milik atas bentuk dan isi presentasi ini sepenuhnya dilindungi oleh peraturan perundangan yang berlaku di Indonesia khususnya tentang hak cipta bagi kemanfaatan DIM. Tidak diperkenankan seorangpun melakukan fotokopi, menyalin, mereproduksi baik secara manual maupun elektronik atau dengan cara apapun sebagian atau seluruhnya yang dapat berakibat dokumen ini digandakan dan digunakan baik untuk tujuan ekonomis atau tujuan lainnya tanpa ada persetujuan terlebih dahulu dari DIM. Investasi melalui Reksa Dana mengandung risiko. Calon Pemodal wajib membaca dan memahami Prospektus sebelum memutuskan untuk berinvestasi melalui Reksa Dana.  Kinerja masa lalu tidak mencerminkan kinerja masa datang. Reksa Dana adalah produk pasar  modal dan BUKAN merupakan produk perbankan; BUKAN  merupakan bagian dari simpanan pihak ketiga yang terikat pada jangka waktu tertentu serta TIDAK termasuk objek dalam program penjaminan pemerintah.
04 April 2016
Simulasi
Investasi
DISCLAIMER COPYRIGHT 2012 Danareksa All Rights RESERVED|
PT Danareksa Investment Management terdaftar dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Republik Indonesia | DISCLAIMER