Berita

Simulasi
Investasi

Ulasan Pasar 5 Oktober 2015

Ulasan Pasar 5 Oktober 2015

Data ketenagakerjaan (non-farm payrolls) Amerika Serikat yang dirilis hari Jumat, 2 Oktober tercatat pada angka 142.000 di bulan September, dibawah estimasi konsensus sebesar 201.000. Gubernur sentral AS Janet Yellen mengatakan bila data ekonomi membaik maka besar kemungkinan terjadi kenaikan suku bunga di akhir tahun ini. Dengan angka yang masih lemah, kenaikan suku bunga The Fed kemungkinan akan mundur ke tahun depan.

market watch 5 oct 2015

Eurozone kembali mengalami deflasi di bulan September sebesar -0.1%YoY . Deflasi ini terjadi pertama kalinya sejak ECB melakukan stimulus (pembelian bond senilai 1 triliun euro). Dengan hasil inflasi yang di bawah estimasi, ekonom memperkirakan bahwa ECB akan melakukan stimulus tambahan.

Menurut publikasi resmi dari pemerintah Cina, kegiatan manufaktur meningkat di level 49.8 vs 49.7 Agustus (terpusat pada big firm) sedangkan menurut survei yang dilakukan pihak swasta oleh Caixin / markit bahwa PMI di bulan September menyentuh level terendah selama 6.5 tahun ini  yaitu di level 47.2 (survei dilakukan untuk perusahaan medium dan kecil). Namun, berdasarkan survei kedua pihak, kondisi manufaktur Cina masih dalam kondisi kontraksi.

Dari dalam negeri, BPS mencatat deflasi di bulan September sebesar -0.05%MoM, sehingga inflasi tercatat sebesar 6.83%YoY. Transportasi dan makanan menjadi kontributor terbesar terjadinya deflasi, tercatat -0.4%MoM dan -1.07%MoM. Target inflasi tahunan sebesar 4%-5% sangat mungkin tercapai.

Di samping itu, pemerintah akan mengumumkan paket kebijakan stimulus ke-III yang ditujukan pada peningkatan daya beli masyarakat. Rencana yang akan dilakukan adalah penurunan harga BBM, penurunan tingkat suku bunga, dan mengimplementasi proyek-proyek yang menyerap banyak tenaga kerja.

Market View: 

Kinerja pasar saham (IHSG) tercatat flat dengan penurunan sebesar 0.04%WoW. Sentimen positif pada minggu lalu terutama dari stimulus lanjutan yang dikeluarkan pemerintah dan Bank Indonesia untuk memperkuat mata uang Rupiah dan memperbaiki iklim investasi. Stimulus kedua ini dapat dirasakan manfaatnya dalam jangka menengah hingga panjang. Pemerintah sendiri telah memberikan isyarat untuk mengeluarkan stimulus ke III dalam waktu dekat yang ditujukan untuk mengatasi permasalahan jangka pendek, terutama perbaikan daya beli masyarakat.

Di samping itu, kebijakan BI dalam memperluas ruang intervensi tidak hanya di pasar spot tapi juga di pasar forward (kontrak berjangka valas) berhasil memperlambat pelemahan Rupiah. Rupiah pada penutupan minggu lalu berakhir di level 14,646, atau menguat sebesar 0.3%WoW.

Untuk pasar obligasi SUN, yield mengalami penurunan karena harga obligasi telah menyentuh level yang menarik dan dipicu membaiknya nilai tukar. Untuk obligasi berdenominasi USD (INDON) cenderung flat dan berada di level 4.79%. Hal ini dikarenakan pasar masih meragukan adanya kenaikan suku bunga The Fed tahun ini mengingat data ketenagakerjaan US yang masih lemah. Kepemilikan asing pada pasar SUN cenderung flat dibandingkan akhir minggu lalu, per tanggal 29 September tercatat sebesar IDR 524.46tn atau sebesar 37.7% dari total outstanding-nya.

Dari sisi makro, Indonesia mengalami deflasi di bulan September sebesar -0.05%MoM, sehingga inflasi tercatat sebesar 6.83%YoY. Transportasi dan makanan menjadi kontributor terbesar terjadinya deflasi. Kami menilai target inflasi tahunan sebesar 4% -5% sangat mungkin tercapai.

Untuk minggu ini, kami sangat mencermati perkembangan paket stimulus ke-III dan pergerakan mata uang Rupiah. Jika BI berhasil menstabilkan pergerakan mata uang dan jika stimulus lanjutan pemerintah berhasil memperbaiki daya beli masyarakat, kami menilai pasar modal Indonesia akan mendapatkan angin segar. Terutama untuk pasar saham, valuasi IHSG berada di level yang rendah yakni 12.4x FY16F P/E, lebih menarik dibanding negara ASEAN lainnya yang rata-rata berada di level 13.5x untuk periode yang sama.

DISCLAIMER :
INVESTASI MELALUI REKSA DANA MENGANDUNG RISIKO. CALON PEMODAL WAJIB MEMBACA DAN MEMAHAMI PROSPEKTUS SEBELUM MEMUTUSKAN UNTUK BERINVESTASI MELALUI REKSA DANA. KINERJA MASA LALU TIDAK MENCERMINKAN MASA DATANG.

05 Oktober 2015
Simulasi
Investasi
DISCLAIMER COPYRIGHT 2012 Danareksa All Rights RESERVED|
PT Danareksa Investment Management terdaftar dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Republik Indonesia | DISCLAIMER