Berita

Simulasi
Investasi

Ulasan Pasar 7 Desember 2015

Ulasan Pasar 7 Desember 2015

IMF memasukan CNY ke dalam keranjang mata uang cadangan IMF (SDR) dan akan berlaku efektif pada tanggal 1 Oktober 2016. CNY akan bergabung bersama USD, EUR, JPY, dan GBP, sebagai mata uang cadangan devisa mulai tahun depan. Selain itu, Manufacturing PMI untuk bulan November mensinyalkan bahwa kondisi manufaktur masih memburuk. Manufacturing PMI turun ke level 49.6 pada bulan lalu, dibawah estimasi konsensus di level 49.8.

Gubernur The Fed Janet Yellen memperkuat sinyal akan merealisasikan kenaikan suku bunga dari angka 0.25% pada Desember 2015. Bahkan ia menyatakan jika The Fed menaikkan suku bunga, hal tersebut menjadi bukti dan prospek atas pemulihan ekonomi pada 2016 mendatang. Dalam sambutannya di Economic Club of Washington, Yellen menyebut pertumbuhan tenaga kerja sampai Oktober jauh lebih baik meski belum pada titik kekuatan penuh.

Nonfarm payrolls bulan November yang dirilis menunjukkan peningkatan sebesar 211,000 (vs. 271,000 di bulan Oktober). Dengan keluarnya data NFP yang di atas konsensus, kemungkinan besar FFR akan naik di bulan Desember ini.

MW 7 Des 2015

Bank Sentral Eropa (ECB) pada Kamis minggu lalu memutuskan untuk menurunkan suku bunga fasilitas deposito sebesar 10 basis poin menjadi minus 0.3%. Di samping itu, ECB memutuskan untuk memperpanjang program pembelian aset (APP), yang dimaksudkan untuk bertahan setidaknya sampai September 2016. APP bisa diperpanjang bahkan melampaui Maret 2017, jika perlu, sampai bank sentral melihat penyesuaian berkelanjutan di jalur inflasi yang konsisten dengan tujuannya untuk mencapai target inflasi.

Badan Pusat Statistik (BPS) merilis Indeks Harga konsumen (IHK) pada bulan November 2015 mengalami inflasi 0.21%mom; 4.89%yoy atau inflasi tahun kalender Jan-Nov mencapai 2.37%. Dengan keluarnya data inflasi bulan November, kemungkinan besar target BI yang memprediksi bahwa inflasi di tahun 2015 dibawah 3% dapat tercapai.

Market View:

IHSG ditutup turun ke level 4,508 (-1.14%wow) seiring dengan penurunan mayoritas bursa di Asia dan pasar yang cenderung wait-and-see menunggu data NFP sebagai indikator kebijakan suku bunga The Fed pada FOMC Meeting tanggal 16-17 Desember ini. Selain itu, faktor penurunan juga disebabkan oleh Index Rebalancing dari MSCI yang memicu penjualan di sebagian besar saham-saham berkapitalisasi besar.

Berdasarkan performa, semua sektor mencatatkan penurunan di mana penurunan terbesar terjadi pada sektor pertambangan (-4.6%wow), diikuti sektor konsumsi (-2.39%wow) dan industri dasar (-1.59%wow). Sektor yang mengalami kenaikan adalah sektor aneka industri sebesar 1.89%wow, terutama didorong oleh kenaikan harga saham Astra International (+2.81%wow).

Penurunan dari pasar saham seminggu terakhir ini terutama disebabkan oleh keluarnya arus dana asing yang mencapai USD165 juta (USD1.54 Miliar dari awal tahun).

Untuk pasar obligasi, pada penutupan tanggal 4 Desember 2015, yield benchmark SUN 5 tahun (FR0069), 10 tahun (FR0070), 15 (FR0071), 20 (FR0068) tahun tercatat pada 8.42%, 8.50%, 8.64% dan 8.72%. Secara umum pasar obligasi menguat dengan penurunan yield benchmark yang paling signifikan terjadi pada SUN seri 15 tahun. Inflasi yang terjaga menjadi sentimen positif penopang pasar. Namun demikian, sentimen negatif masih membayangi pasar terkait kebijakan Bank Sentral Eropa (ECB) yang tidak menambah besaran quantitative easing (QE) dan justru memangkas deposit rate dari -0.2% ke -0.3%. Kebijakan ini tidak sesuai dengan konsensus para pelaku pasar yang berharap ada penambahan nominal QE untuk memicu pertumbuhan ekonomi zona Euro.

Untuk yield INDON 10 tahun (INDON 25)  dan yield US Treasury 2025 bergerak cenderung naik di level 4.63% dan 2.31%. Kenaikan yield karena meningkatnya ekspektasi risiko terkait kenaikan FFR pada FOMC Meeting. Hal ini juga didukung dengan pernyataan Gubernur The Fed, Janet Yellen yang semakin optimis untuk menaikkan FFR di bulan Desember karena positifnya tren perbaikan ekonomi AS.

Kepemilikan asing pada pasar SUN cenderung flat dibandingkan akhir bulan lalu (Rp549tn), per tanggal 3 Desember 2015 tercatat sebesar Rp549 Triliun atau sebesar 38% dari total outstanding-nya. Nilai tukar rupiah melemah dan berada di level 13,834 dibanding minggu lalu (-0.43%wow).

Dengan semakin besarnya kepastian dari kebijakan suku bunga The Fed setelah data NFP yang lebih tinggi dibanding konsensus, tentunya akan menjadi sentimen yang positif untuk pasar. Pemerintah pada Jumat minggu lalu juga mengumumkan paket kebijakan ekonomi ke-7 yang fokus untuk memberikan kemudahan terhadap pelaku usaha padat karya dan pedagang kaki lima.

Salah satunya adalah pemerintah akan memberikan keringanan pajak PPh 21 untuk perusahaan yang memiliki karyawan lebih dari 5,000 orang, 50% hasil produksinya diekspor dan untuk karyawan dengan pendapatan kotor Rp 50 Juta per tahun.

DISCLAIMER :
INVESTASI MELALUI REKSA DANA MENGANDUNG RISIKO. CALON PEMODAL WAJIB MEMBACA DAN MEMAHAMI PROSPEKTUS SEBELUM MEMUTUSKAN UNTUK BERINVESTASI MELALUI REKSA DANA. KINERJA MASA LALU TIDAK MENCERMINKAN MASA DATANG.

07 Desember 2015
Simulasi
Investasi
DISCLAIMER COPYRIGHT 2012 Danareksa All Rights RESERVED|
PT Danareksa Investment Management terdaftar dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Republik Indonesia | DISCLAIMER