Berita

Simulasi
Investasi

Ulasan Pasar 7 September 2015

Ulasan Pasar 7 September 2015

Bank sentral Euro mengatakan bahwa menurunnya harga komoditas, dan menguatnya mata uang Euro menyebabkan target inflasi sebesar 2% akan sulit tercapai. Bahkan bisa tercapai negatif inflasi. ECB tetap akan menjalankan program QE sampai bulan September 2016, namun tidak menutup kemungkinan untuk memperpanjang QE bila diperlukan.

Kebijakan relaksasi yang diterapkan China relatif belum terlihat dampaknya, PMI manufacturing menurun dari level 50 menjadi 49.7 di bulan Agustus. Penurunan suku bunga diestimasi akan kembali dilakukan.

Kondisi manufaktur Amerika Serikat di bulan Agustus sedikit melambat dibanding bulan sebelumnya. Berdasarkan ISM Manufacturing index, kondisi manufaktur berada di level 51.1 melemah dari bulan Juli berada di level 52.7. Level ini merupakan yang terendah sejak May 2013.

Data-data ketenagakerjaan bulan Agustus yang dirilis pada tanggal 4 September, seperti nonfarm payroll sebesar 173.000, jauh dibawah ekspektasi yang sebesar 217.000, tapi tingkat pengangguran menurun menjadi 5.1% dari ekspektasi sebesar 5.3%. Data ketenagakerjaan ini bisa menjadi indikator apakah Fed akan menaikkan tingkat suku bunga dalam waktu dekat. Pertemuan FOMC akan dilakukan tanggal 16-17 September.

market watch 7 sept 2015

Pada pekan ini, pemerintah Indonesia akan meluncurkan kebijakan stimulus ekonomi yaitu deregulasi sekitar 160 peraturan yang menghambat investasi. Sedangkan kebijakan lainnya yaitu kepemilikan apartemen untuk orang asing, pengaturan debt equity untuk pinjaman luar negeri, fokus penggunaan dana desa (irigasi,jalan,jembatan), masalah pangan dengan mengeluarkan beras raskin tambahan 13 & 14, dan pembangunan pabrik smelter

Market View: 

Pasar saham di minggu lalu cenderung flat dengan kinerja sebesar -0.69%wow yang masih dipengaruhi sentimen global. Berdasarkan sektor, Aneka Industri mencetak kinerja terbaik di minggu ini sebesar +6.24%wow dan sebaliknya pada periode yang sama, Sektor Keuangan mencatat kinerja terburuk sebesar -2.97%wow. Arus dana asing tercatat net sell sebesar Rp6.5tn dari awal tahun.

Sementara itu, kelanjutan dari tender proyek infrastruktur Kementrian PUPERA mencapai 98% di akhir bulan Agustus dan proses penandatanganan telah mencapai 96%. Dengan progress yang masih on track, diharapkan pembangunan proyek-proyek infrastruktur akan mencapai target di akhir tahun. Hal ini tentunya dapat memberikan sentimen positif pada sektor konstruksi.

Untuk pasar obligasi, pada tanggal 28 Agustus 2015, yield benchmark SUN 5 tahun (FR0069), 10 tahun (FR0070), 15 (FR0071), 20 (FR0068) tahun tercatat pada 8.532%, 8.901%, 9.113%, dan 9.144%. Yield kembali naik dibandingkan yield minggu lalu disebabkan oleh fluktuasi di mata uang Rupiah.

Dibandingkan minggu lalu, yield INDON 10 tahun (INDON 25) cenderung flat dan berada di level 4.392% sedangkan yield US Treasury 2025 meningkat dan berada di level 2.1314% per 04 September 2015.  Pergerakan INDON cenderung flat dikarenakan dari sisi supply yang terbatas walaupun CDS mengalami kenaikan dan pasar mengantisipasi kenaikan Fed Funds Rate.

Kepemilikan asing pada pasar SUN tercatat sedikit meningkat, per tanggal 3 September tercatat sebesar IDR 528.48tn atau sebesar 37.74% dari total outstandingnya. Nilai tukar rupiah cenderung flat di level 14,172 pada penutupan minggu lalu.

Dengan ketidakpastian pertumbuhan ekonomi global dan antisipasi kenaikan suku bunga Amerika, kami melihat pasar saham maupun obligasi Indonesia akan tetap mengalami fluktuasi. Untuk itu, peran pemerintah dalam memulihkan kepercayaan pebisnis/investor dan masyarakat sangatlah penting, terutama yang berhubungan dengan kebijakan fiskal.

Seperti yang diberitakan di media, pemerintah melalui Kementerian Ekonomi dalam beberapa pekan ke depan akan mengeluarkan stimulus-stimulus ekonomi, disamping tax holiday yang telah diumumkan minggu lalu. Pasar akan mengamati seberapa besar stimulus yang akan dikeluarkan pemerintah, yang diharapkan dapat memberi sentimen positif khususnya untuk pasar modal.

Di samping itu, menurut Managing Director IMF Christine Lagarde dalam pidatonya di UI Salemba, menyakini bahwa ekonomi Indonesia adalah salah satu yang terkuat. Hal ini juga didukung oleh demografi yang baik dan fokus pemerintah kepada pembangunan infrastruktur. Sebagai tambahan, Christine juga menilai, untuk menghadapi krisis global ini, Indonesia juga harus meningkatkan perdagangan dan iklim investasi.

DISCLAIMER :
INVESTASI MELALUI REKSA DANA MENGANDUNG RISIKO. CALON PEMODAL WAJIB MEMBACA DAN MEMAHAMI PROSPEKTUS SEBELUM MEMUTUSKAN UNTUK BERINVESTASI MELALUI REKSA DANA. KINERJA MASA LALU TIDAK MENCERMINKAN MASA DATANG.

07 September 2015
Simulasi
Investasi
DISCLAIMER COPYRIGHT 2012 Danareksa All Rights RESERVED|
PT Danareksa Investment Management terdaftar dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Republik Indonesia | DISCLAIMER